Menebar Ilmu Meraih Hikmah

Kisah Tukang Ojek Hidupi 125 Siswa Mondok Gratis di Pesantren Milik Keluarga

AsSAJIDIN.COM — Bersila di atas porselin merah. Tangan Endang Irawan asyik mengusap layar gawai. Layarnya sudah retak . Di bagian atas dan bawah. Gawai berwarna hitam itu sepertinya pernah jatuh.

Di teras rumah berkelir krem, beberapa sepeda motor terparkir. Ada satu milik Endang. Dari penampakannya, motor itu sudah tua. Sudah berumur 14 tahun. Dibeli tahun tahun 2004 hasil menjual cincin akik bacan kesayangan.

Siang itu, Endang memang sedang istirahat. Di teras rumah di Jalan Kota Bambu Selatan, Jakarta Barat. Belum ada order masuk ke gawainya. Sesekali mengecek gawai, berharap ada penyewa yang minta diantar.

Jaket hijau kombinasi hitam selalu melekat di badan. Plus bandana biru yang tersemat di kepala. Pelindung dari terik sekaligus menjaga rambut gondrongnya tetap rapi. Wajahnya ramah. Berkumis tebal dia sesekali tersenyum. Ada sedikit ompong di gigi depannya.

Bicaranya berat, khas orang Betawi. Medhog, kata orang Jawa bilang.

Dari ponsel berlayar retak dan motor bututnya, Endang menyusuri jalanan ibukota.  Menjemput sang penyewa dan mengantar ke tempat tujuan. Ya, Endang seorang pengojek online Go-Jek.

Mencari nafkah dari mengantar jemput penumpang. Uang hasil mengojek dipakainya untuk menghidupi keluarga dan anak didik di sebuah pondok pesantren.

Endang memang seorang pengojek. Namun dia adalah bapak bagi 125 santri di Pondok Pesantren Nurul Iman di Kampung Cipayung, Desa Sukaharja, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. Sebagian besar anak didiknya perempuan.

Memang bukan pesantren yang dibangun sendiri. Pendirinya Haji Abah Enjeng, Dia mertua dari adiknya, Eliatus Sholihah. Endang tak tahu persis kapan pesantren itu berdiri. Endang baru ikut mengurusi pada 2006. Saat pernikahan adiknya dengan anak Haji Abah Enjeng, Ustaz Ubaidillah. Dia ingat betul, santri di pesantren waktu itu cuma 5-6 orang. Tinggal dan belajar di satu rumah. Belum punya gedung sendiri.

” Rumah Abah itu ukuran 100 meter persegi, dibelah. Santri di belakang, ruang tamu di depan,” kata Endang ketika berbincang dengan Jurnalis Dream, Ilman Nafian. Sampai dua warga sekitar, Haji Ronal dan Haji Ginanjar mewakafkan tanah sekitar 700 meter persegi untuk dibangun pesantren. Para santri tak lagi belajar di rumah belakang Haji Abah Enjeng.

Satu bangunan seluas 500-700 meter disiapkan untuk santri putri. Semetara Santri putra tinggal di lahan 200-300 meter persegi. Total, ada 10 kamar yang menjadi tempat tinggal para santri. ” Gedungnya ada yang tingkat, ada yang belum,” kata Endang.

Seiring berjalan waktu, Nama Pesantren Tahfiz Quran Nurul Iman beredar dari mulut ke mulut. Semakin dikenal dan diminati. Santri datang satu per satu. Dari hanya 5-7 santri, kini anak didik pesantren itu sudah 126 santri. Sebagian besar perempuan. Ada juga warga sekitar yang ikut mengaji jika mau.

Program utama pesantren ini memang menghafal Alquran. Tetapi, itu dikhususkan bagi santri wanita. Sementara santri laki-laki, diarahkan belajar kitab Nahwu Sharaf (Kaidah Berbahasa Arab), Shafinatun Naja, Tauhid, Fikih, dan sebagainya. Meski begitu, santri putra juga ibolehkan ikut menghafal Alquran.

Tak seperti pondok pesantren lain, disini para santri bisa memilih. Tinggal di lingkungan pondok atau pulang saat jam belajar usai. ” (istilahnya) Santri kalong,” kata Endang. Mayoritas santri bukan dari keluarga mampu. Sebagian besar dari mereka bahkan tidak bisa

sekolah. Sekarang saja, hanya ada tiga santri yang menempuh pendidikan formal. Endang dan para pengasuh pondok memutuskan tidak memungut biaya sepeserpun. Semua bahu membahu mencukupi kebutuhan para santri, mulai dari makan hingga belajar.

” Ada yang nyari ke pasar (berdagang), ada yang di sekitar. Kalau saya di sini (Jakarta),” ucap Endang. Kondisi itu memang membuat pengasuh kerap kehabisan uang. Stok beras sering kali habis sebelum waktunya. Jika sudah begini, para santri biasanya diajak berpuasa. ” Cuma catatan santri jangan sampai tahu kita habis. Makanya diajak puasa, karena puasa

membuat kita cerdas” misalnya,” tutur Endang. Meski begitu, Endang tak patah semangat. Dia dan para pengasuh ikhlas bekerja keras demi para santri bisa belajar dan menghafal Alquran dengan nyaman. Untuk membekali diri, para santri mendapat pelajaran tambahan berupa silat Betawi. Endang yang terjun mengajarkan ilmu bela diri tersebut. Kemampuan bela diri yang sudah dimiliki sejak SMP.

” Ya, namanya silat kampung. Saya hobi memang,” ucap dia. Kerja keras Endang selama 12 tahun membuahkan hasil manis. Kini pesantren tersebut telah memiliki 12 alumni Hafiz Alquran 30 juz. Delapan alumni juga tercatat sebagai pengajar untuk pengabdian. Sisanya, mengajar di pesantren lain.

Endang sendiri sebenarnya tidak memiliki latar belakang pendidikan di pesantren. Pengetahuannya di bidang agama dia dapat dengan mendatangi majelis-majelis taklim. ” Tabaruq-tabaruq para alim ulama, para habaib, saya mengikuti kegiatan yang bukan mondok.

Kalau bahasa orang Betawi jider, ngaji bari nyender,” tutur dia.

Merasakan Kekuasaan Allah

Menjadi pengasuh dan pengojek online sebetulnya terjadi serba kebetulan. Awalnya Endang punya profesi lain. Profesi driver Gojek baru ditekuninya 2015. Endang pernah menjalani profesi teknisi kelistrikan. Ilmu itu diperolehnya semasa duduk di bangku Madrasah Aliyah. Endang kerap mengikuti gurunya yang punya pekerjaan sampingan sebagai teknisi listrik. Tugasnya membenahi jalur kelistrikan dari satu rumah ke rumah lainnya.

Lulus dari Madrasah Aliyah dan berbekal ilmu magang itu, Endang menjadi teknisi pemasangan alat penangkal petir. Bukan lagi rumah yang dia tangani. Endang bertanggung jawab memasang instalasi ini di gedung bertingkat. Lokasi kerjanya tidak melulu di Pulau Jawa. Dia lebih sering bekerja di luar pulau.

Merantau ke kota orang membawa Endang bertemu jodohnya. Pada 2001, Endang menikahi gadis Cirebon, Eli Karini. Pertemuan keduanya terjadi ketika sedang mengerjakan proyek pemasangan penangkal petir di Kota Udang itu. Pandangan pertama membuat Endang yakin jika Eli adalah pasangan hidupnya.

Dari pernikahan tanpa proses pacaran itu, Endang dikaruniai dua buah hati, Nurul Ambiya dan Ahmad Ali Bahlawi. Nurul kini sedang menempuh pendidikan di Pesantren Tahfiz Quran Nurul Iman. Sedangkan adiknya mondok di salah satu pesantren di Cirebon.

Menjadi teknisi listrik sebenarnya tak buruk-buruk amat. Pendapatan yang diperoleh Endang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tapi ada satu hal yang mengganjal. Endang jauh dari keluarga. Status pekerja kontrak membatasi Endang leluasa pulang kampung.

Belum lagi urusan pesantren. Berat bagi Endang untuk tidak menyaksikan bagaimana para santri berproses. Endang memutuskan berhenti dari profesinya itu. Kembali ke Jakarta untuk bergabung dengan keluarga dan pesantren yang diasuhnya. Endang juga bergabung dengan Gojek. Menjadi mitra bagi perusahaan perintis transportasi online itu.

Kerja menggojek memang membuat pendapatan Endang tak sebesar saat menjadi teknisi listrik. Namun ada kenyamanan yang dirasakan Endang. Dekat dengan keluarga dan para santri asuhannya ” Ya, kalau itungan matematika sih nggak ketemu. Namanya kita tugas, ada rezeki yang nggak

terduga. Kalau kita mau ini sekian, bingung kadang. Begitu kita mau kasih keluarga ada, kasih pesantren ada. Itulah kekuasaan Allah,” kata dia. Impian Endang cukup sederhana. Dia hanya ingin santri-santrinya bisa bermanfaat. Tidak hanya untuk dirinya, juga keluarga, masyarakat, agama, dan bangsa.(*/sumber; dream.co.id)