MOZAIK ISLAM

Tiga Hal yang Boleh Dibandingkan

AsSAJIDIN.COM — Kalau saat ini kita masih membandingkan diri dengan orang lain terkait harta, gaji, jabatan, ataupun gelar jangan pernah bermimpi untuk bahagia. Sebab, kebahagiaan hadir saat kita mensyukuri setiap karunia Allah dan menikmati hidup tanpa memikirkan persepsi orang lain.

Hanya ada tiga hal yang boleh dibandingkan dengan orang lain:

1. Tekunnya ibadah

2. Besarnya manfaat

3. Dalamnya ilmu

Jika ada yang lebih tekun ibadahnya , lebih banyak manfaatnya, dan lebih dalam ilmunya, maka ikutilah. Jika ada yang lebih ikhlas pengabdiannya pada Allah, lebih banyak manfaatnya pada sesama, dan lebih semangat dalam menimba ilmu, maka putuskan untuk berkompetisi dengannya. Jangan mau ketinggalan dengan orang itu. Saingi mereka. Irilah pada mereka. Karena rasa iri kepada orang baik, adalah sebah keutamaan.

Selain tiga hal itu, syukuri yang kita peroleh. Nikmatilah hidup. Dengan cara ini Allah akan membahagiakan kita. Terlalu berambisi pada dunia dan terus –menerus membandingkan dengan orang lain, hanya akan memperbudak diri dalam keserakahan. Tidak mau kalah dengan orang yang lebih cemerlang kariernya, lebih tinggi popularitasnya, dan lebih hebat kekuasaanya.

Lihat Juga :  Semangat Warga Kampung Quran Lekong, Shalat di Masjid Darurat dengan Mimbar yang "Unik"

Yang kita butuhkan bukan harta, jabatan, ataupun popularitas untuk tetap merasakan kebahagiaan di dunia ini. Tapi, utamakanlah kedekatan kita dengan Allah. Segala sesuatu yang justru membuatmu lebih dekat dengan Allah hakikatnya adalah anugerah. Dan yang membutamu lebih jauh dari Allah hakikatnya adalah musibah. Masalah terbesar dalam hidup bukanlah hilangnya harta tapi masalah sesungguhnya adalah jika hilangnya kasih sayang Allah untuk diri kita.

Buya Hamka pernah menasehatkan, “Kalau hidup sekedar hidup, babi hutan juga hidup. Kalau kerja sekadar kerja, kera juga bekerja.”

Dengan perumpamaan babi hutan dan kera, Buya Hamka seolah menuturkan, bahwa jika kualitas hidup kita hanya sekedar menjalani hidup mengalir tanpa punya makna, maka apalah bedanya kita dengan babi hutan yang selama ini kita rendahkan. Jika tiap hari kita bekerja dan bekerja hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup tanpa ada tujuan yang lebih tinggi, apalah bedanya kita dengan kera yang tiap hari juga bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Lihat Juga :  Momen Hari Ibu, Inilah 10 Kriteria Muslimah Sejati

Hidup bukan sekadar untuk makan, dan makan bukan hanya sekadar untuk hidup. Kita tercipta sebagai makhluk sempurna, yang oleh Allah diamanahi tugas mulia sebagai khalifah di muka bumi. Ini adalah tugas besar yang hanya mampu diemban oleh manusia. jadikan hidup ini sebagai perjalanan panjang untuk menjadi pemakmur bumi.

Kita hidup untuk mempersembahkan pengabdian terbaik kita pada-Nya, kita menebar seluas mungkin manfaat bagi sesama, dan menjadikannya sebagai bekal untuk menempuh perjalanan yang lebih hakiki. Yakni perjalanan menuju kehidupan yang abadi. [*/sumber: buku Sumber: Tuhan, Maaf, Kami Sedang sibuk/ Karya: Ahmad Rifa’i Rif’an/ Penerbit: PT Elex Media Komputindo/ Tahun: 2015]

Back to top button