DUNIA ISLAM

Spirit Al-‘Aziz: Pentingnya antara Kata dan Perbuatan

ASSAJIDIN.COM —  salah satu penghancur kehormatan dan harga diri kita adalah tidak sesuainya antara kata dan perbuatan. Kita melarang orang lain mengerjakan sesuatu, tetapi kita sendiri justru melakukannya. Kita menyuruh anak pergi ke masjid untuk shalat berjamaah, tetapi kita sendiri lebih senang shalat sendirian di rumah.
Tidak satunya antara kata dan perbuatan adalah penghancur kredibilitas dan harga diri kita di hadapan orang lain. Bahkan, dia menjadi sebab datangnya kemurkaan Allah Azza wa Jalla.
Terungkap dalam Al Quran, “Hai orang orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa apa yang tiada kamu kerjakan”
(QS. Ash -Shaff, 61:2 3).
Maka, teramat penting bagi guru atau seorang ‘alim yang menjadi panutan umat, penunjuk kepada jalan yang lurus, atau setidaknya dia berstatus sebagai orangtua yang harus menjadi teladan kebaikan bagi anak anaknya, untuk berusaha meneladani Al-Aziz.
Dengan meneladani asma Allah yang satu ini, dia tidak akan mengatakan apa-apa yang tidak atau belum dilakukannya. Dia akan memastikan bahwa apa yang dikatakannya harus sesuai dengan keseharian dan tindak tanduknya. Jika memang dia harus mengatakan atau mendakwahkan sesuatu yang belum diamalkannya, yang bersangkutan akan berjanji dan berusaha sekuat mungkin untuk pula mengamalkannya,
(Sumber : Buku Asmaul Husna Jilid 1 ).
Ada teladan menakjubkan dari seorang Hasan Al Bashri rahimahullah, seorang ulama besar dari kota Bashrah, tentang bagaimana menjaga kemuliaan diri dengan menyelaraskan antara ucapan dan perbuatan.
Suatu ketika seseorang mendatangi Imam Hasan Al Bashri dan berkata, “Wahai Imam, sebaiknya Anda berkhutbah Jumat tentang anjuran memerdekakan hamba sahaya. Lalu Hasan berkata, “Akan aku lakukan, insya Allah”
Ketika hari Jumat tiba, Imam Hasan Al Bashri naik mimbar akan tetapi dia tidak membahas tentang pembebasan budak. Dia berbicara tentang masalah lain.
Kemudian, tibalah Jumat berikutnya, dan dia tidak melakukan hal yang sama seperti Jumat sebelumnya Demikian pula pada Jumat ketiga dan keempat. Baru pada Jumat kelima dia berbicara tentang pembebasan budak.
Kemudian, lelaki yang meminta Al Hasan untuk berkhutbah tentang masalah pembebasan budak menemuinya dan bertanya dengan heran, “Wahai Imam, aku meminta dirimu untuk berkhutbah tentang pembebasan budak, akan tetapi engkau tidak berkhutbah tentang hal itu sampai Jumat kelima”
Al-Hasan menjawab, “Aku tidak berkhutbah dengan materi itu sebelum aku punya uang untuk pergi ke pasar beli budak kemudian membebaskan mereka. Nah, sekarang aku menasihati kaum Muslimin tentang pembebasan budak agar aku tidak termasuk orang orang yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan.”
(*/Sumber : Buku Asmaul Husna jilid 1 karya Aa Gym)
Tags
Close
Close