KESEHATAN

Perawakan Anak Pendek Biasa dan Anak Stunting, Apa Bedanya?

ASSAJIDIN.COM — Mengetahui tumbuh kembang anak bagi ibu sangatlah penting, beberapa ibu khawatir apabila anak memiliki tumbuh kembang yang lambat salah satunya tinggi badan anak.

Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.

Padahal seperti kita ketahui, genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Sebagian besar masyarakat mungkin belum memahami istilah yang disebut stunting. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Stunting merupakan kondisi tubuh anak yang gagal tumbuh terutama pada balita yang bersifat jangka panjang (kronik/menahun). Terjadinya hal ini biasanya terjadi pada awal-awal kehidupan, kemudian nanti berkembang kepertumbuhan anak selanjutnya.

Dalam menentukan anak pendek kerdil tidak bisa di tentukan dengan kasat mata saja. Perlu dilakukan pengukuran tinggi badan, setelah diukur dilakukan kurva pertumbuhan.

Lihat Juga :  Sejarah Membuktikan Perempuan Muslim Punya Peran dalam Kemajuan Medis

Dokter Anak dr. Salma K, SpA Mkes mengatakan stanting tidak hanya dilihat pada ukuran tinggi anak saja, tetapi perkembangan otaknya juga akan terganggu dan berkurang.

“Jika anak mendapati stunting, maka perkembangan otak anak juga ikut terganggu,”katanya.

Namun, stanting dapat di cegah pada saat seribu hari pertama kehidupan anak. Hal ini dikarenakan pertumbuhan otak, janin dan bayi itu sangat pesat di Seribu hari pertama kehidupan. Saat yang paling tepat untuk mencegah terjadinya stunting.

“bayangkan jika nutrisi berkurang dari awal kehamilan sampai usia 2 tahun anak. Efeknya akan jangka panjang, tak hanya stunting tetapi juga hal lainnya seperti perkembangan otak,”kata Dokter Anak, dr. Desti H, SpA(K), M.kes

Namun, Bagaimana cara ibu membedakan anak perawakan pendek dengan stunting?anak stunting (kronis/jangka panjang) tentunya tidak hanya pertumbuhan tinggi badan saja yang kelihatan tetapi seperti tampilan anak lesu, perkembangan berbicara dan jalan menjadi lambat, prestasi di sekolah menurun.

Tetapi, berbeda dengan anak perawakan pendek. Anak perawakan pendek hanya masalah di fisik saja, tetapi anaknya tumbuh baik seperti ototnya baik, tahapan perkembangan tepat pada waktunya.

Lihat Juga :  Donasi Cinta Buat Annisa, Gadis Kecil di Ogan Ilir yang Menderita Kanker Tulang

dr. Desti H, SpA, M. Kes mengatakan Penyebab terjadinya gagal tumbuh pada balita terutama disebabkan oleh Kurangnya nutrisi secara kronis (jangka panjang). Hal tersebut membuat anak tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

“Yang paling nyata dialami balita yaitu berat badan yang tidak naik mengakibatkan tinggi badan juga berpengaruh. Apalagi, jika si kecil juga mengalami penyakit. Selain karena nutrisi yang masuk ketubuh tidak seimbang juga nutrisi dipakai oleh penyakit yang ada di tubuh anak, pentong bagi ibu untuk memastikan gizi anak di mulai dari dalam janin,”katanya

Pencegahan stanting juga menjadi salah satu fokus pemerintah bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global.

“Harapan kita 20 tahun kedepan, anak-anak tumbuh cerdas dan tumbuh kembang baik, harus dipastikan kembali oleh ibu untuk memastikan anak stunting atau tidak, dan mengikuti tahapan tahapan yang disampaikan oleh dokter” katanya.(*/TRI JUMARTINI)

.

Tags
Close
Close