ALFURQON SCHOOL

Peran Orang Tua Dalam Pembangunan Karekteristik Anak

AsSajidin.com —  Mempunyai anak merupakan dambaan dan harapan setiap ayah bunda, mereka adalah hasil cinta kasih kedua orang tuanya. Buah hati, pelipur lara, pelengkap keceriaan rumah tangga, investasi masa depan, investasi pelindung orang tua ketika mereka telah lanjut usia. Namun, tidak dipungkiri kenyataannya hidup didunia ini ada anak yang telah menjerumuskan dan mencemarkan nama baik keluarga akibat sikap anak yang menyimpang terhadap aturan dan norma yang berlaku, menyengsarakan kedua orang tuanya, Naudzubillah.

Meydi Astuti, Psikolog sekaligus Kepala Bidang Kordinator Bimbingan konsling Sekolah Dasar Islam Terpadu Al Furqon Palembang  mengatakan, peran penting orang tua adalah kunci dari tumbuh kembang anak di masa mendatang. Oleh sebab itu maka, seharusnya sebelum anak dihadapkan pada lingkungan belajar dan membaur dalam lingkungan yang lebih luas maka lingkungan keluarga adalah awal mula terbentuknya karekteristik anak.

“ Ingat, anak yang tumbuh dari lingkungan keluarga yang sehat cenderung berbeda dengan lingkungan keluarga yang bermasalah. Namun semua itu bisa di atasi dengan sikap orang tua yang harus lebih bisa memahami kondisi anak. Misalnya, fase emosi mereka .Anak yang menangis, maka orang tua hendaknya jangan langsung memarahi akan tetapi berikan pemahaman, kesempatan, dengarkan apa maunya  dan biarkan mereka meluapkan emosi mereka tanpa menyakiti orang lain dan dirinya sendiri,”ujarnya dalam siaran langsung AsSajidin Grup  via IG bersama Pemimpin Redaksi H  Bangun Lubis M.SiHarus kita ingat pula bahwa kata Bunda Meydi, anak yang tumbuh terutama di zaman milenial seperti sekarang ini cenderung memiliki  tingkatan yang lebih kritis, lebih aktif karena memang dunia digital adalah bagian dari sejarah perjalanan hidup mereka.

“ Jadi misalnya, anak marah kepada orang tuanya karena dilarang sesuatu hal. Maka orang tua tidak harus serta merta meluapkan emosi dengan perkataan-perkatan yang kurang baik. Akan jauh lebih elok, jika orang tua memberikan pemahaman tentang bahaya dan efek buruk dari hal yang dilarang tersebut. Contoh saat anak menonton sesuatu yang bukan menjadi bahan konsumsinya, maka disini peran orang tua memberikan pemahaman. Berikan mereka nasehat  yang merangkul bukan memukul,” bebernya.

Lihat Juga :  Rindu SIT Al- Furqon, Presiden BEM UGM, Atiatul Muqtadir Jalin Silahturahmi Mohon Doa dan Nasihat Guru

Disingungg mengenai pola asuh anak dilingkungan belajar mengajar terutama dalam situasi pandemi , Bunda Meydi mengatakan bahwa, guru hanya berperan sekian persen jadi artinya anak lebih dekat bersama dengan keluarga dan orang tua . Akan tetapi, guru juga memiliki peranan yang tidak mudah, justru selama masa pandemic dan proses belajar daring seperti ini maka guru sejatinya memiliki peran ganda.

“ Selain memberikan pelajaran formal, guru juga harus bisa mengontrol tingkat emosi dan tingkah laku anak. Disini tantanganya. Oleh sebab itu, kami di SDIT Al Furqon selalu menterdepankan nilai-nilai religius untuk membangun karekteristik anak agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan akhlak. Jadi ahlak yang kami terdepankan,” ujarnya.

Untuk dikethaui bersama bahwa, Islam melalui Al Quran menjelaskan bahwa kedukan seorang anak memiliki 4 kategori yaitu :

Pertama, anak sebagai penenang hati, penyejuk jiwa, dan pemimpin orang-orang yang bertakwa. Tipikal ini menjadi yang terbaik dan tertinggi dari seorang anak. Hal itu sebagaimana terungkap dalam doa Al-Qur’an berikut ini.   رَبَّنا هَبْ لَنا مِنْ أَزْواجِنا وَذُرِّيَّاتِنا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنا لِلْمُتَّقِينَ إِماماً   “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqan [25]: 74

Kedua, anak sebagai perhiasan dunia. Hal itu sebagaimana yang diungkap ayat berikut:   الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan,” (QS. Al-Kahfi [18]: 46).   Dalam ayat ini, anak diposisikan sebagai perhiasan dan kekayaan dunia bagi orang tuanya. Layaknya perhiasan dan kekayaan, anak diperlakukan, dijaga, bahkan disayang sebaik-baiknya oleh para orang tua.

Keempat, anak menjadi musuh. Hal itu diungkap dalam ayat berikut.   يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْواجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ   “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taghabun [64]: 14).   Sebagian mufasir menjelaskan, maksud sebagai musuh di sini adalah menjadi pihak yang menghalang-halangi jalan Allah, merintangi jalan ketaatan kepada-Nya. Maka hati-hatilah agar tidak dijerumuskan oleh mereka. Ini pula yang terjadi pada sejumlah sahabat yang ingin berhijrah mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun dihalang-halangi oleh anak-istri mereka. Lihat: Tafsir at-Thabari, Terbitan Muassasah ar-Risalah, 1420 H, Cet. Pertama, jilid 23, hal. 423).

Close