ALFURQON SCHOOLBERITA TERKINI

Orang-Orang Islam Itu Menabur Kelembutan dan Kasing Sayang

Mereka adalah orang-orang yang saling menasehati

Oleh: Bangun Lubis [ Wartawan AsSAJIDIN.com ]

Orang beragama Islam itu, adalah orang yang di hatinya penuh kedamaian. Dalam setiap tingkah lakunya selalu menuai kebaikan. Karena dia menabur kelembutan yang hakiki.

Rasulullah bersabda dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daary, “Agama adalah nasihat”. Kami bertanya:  “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

Agama Islam itu ajarannya adalah bagimana antara orang yang satu dengan yang lainnya menjadi keluarga yang hangat dan tidak pernah bertikai dalam pergaulannya sehari-hari. Mereka penganut Islam adalah orang yang ceria tanpa ada beban yang membebani sesame diantar mereka.

Mereka adalah orang-orang yang saling  menasehati apalagi bila terjadi ada kesealahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

Karakter yang harus selalu melekat kepada diri seorang Islam adalah lembut dan penyayang kepada orang-orang sesamanya.   Pasalnya, kelembutan dan kasih sayang seorang akan menumbuhkan rasa hormat, kecintaan, dan ketenangan pada diri orang-orang di sekitarnya

Imam Bukhari dan Muslim menuturkan sebuah riwayat dari ’Aisyah ra, bahwasanya beliau ra berkata; ”Sekelompok orang Yahudi meminta ijin kepada Nabi saw.  Lalu, mereka berkata, ”Semoga engkau celaka”. Aku (’Aisyah ra) berkata, ”Bukan, semoga kalian celaka dan mendapatkan laknat”.  Nabi saw pun bersabda, ”Wahai ’Aisyah, sesungguhnya Allah itu rafiiq (kelembutan), dan Dia mencintai kelembutan dalam semua perkara”.   Aku pun berkata lagi, ”Tidakkah Anda mendengar apa yang mereka sampaikan”.  Nabi saw, ”Aku katakan , ”Wa’alaikum”.[HR. Imam Bukhari dan Muslim]

Anas bin Malik ra menuturkan sebuah hadits;  “Aku menjadi pembantu Rasulullah saw selama sepuluh tahun.  Selama itu beliau tidak pernah mengatakan “uf”.  Beliau juga tidak pernah berkata kepadaku karena sesuatu yang aku kerjakan dengan perkataan, “Mengapa kau kerjakan begini!  Dan juga karena ada sesuatu yang tidak aku kerjakan beliau mengatakan, “Mengapa tidak kau kerjakan!”.  Rasulullah saw adalah sebaik-baik manusia ditinjau dari sisi akhlaqnya.  Tidak pernah aku menyentuh kain yang terbuat dari bulu dan sutera asli, dan tidak pula sesuatu lainnya yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah saw.  Aku juga tidak pernah mencium kesturi dan minyak wangi yang lebih wangi daripada keringat Rasulullah saw”.[HR. Imam Turmudziy, dari Qutaibah bin Sa’id, dari Anas bin Malik]

Lihat Juga :  Pengakuan Uskup Agung Washington Nyatakan Muhammad Itu Sebenar-benar Nabi Utusan Allah

Aisyah ra menuturkan; “Rasulullah saw bukanlah orang yang keji dan orang yang membiarkan kekejian.  Beliau tidak mengeluarkan suara keras-keras di pasar-pasar dan tidak membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan.  Beliau suka memaafkan dan berjabatan tangan”.[HR. Imam Turmudziy]

Hisyam bin Urwah menuturkan sebuah hadits dari ‘Aisyah ra, bahwasanya beliau menuturkan;   “Rasulullah saw tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya, kecuali tatkala beliau saw berjihad di jalan Allah.  Beliau juga tidak pernah memukul pembantu dan wanita”.[HR. Imam Turmudziy]

Hisyam bin Urwah meriwayatkan juga sebuah hadits dari ‘Aisyah ra bahwasanya beliau berkata;  “Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw membalas suatu aniaya yang ditimpakan orang kepada dirinya selama orang itu tidak menghina kehormatan Allah swt.  Namun, jika kehormatan Allah dihina oleh seseorang sedikitpun, beliau adalah orang yang paling marah karenanya.  Seandainya beliau saw diminta memiliki dua perkara, niscaya beliau akan memilih perkara yang paling mudah, selama perkara itu tidak berhubungan dengan kemaksiyatan”.[HR. Imam Turmudziy dari Hisyam bin ‘Urwah]

Ummul Mukminin ‘Aisyah ra menuturkan sebuah hadits;   “Sewaktu aku berada di samping Nabi saw, ada seorang laki-laki meminta ijin untuk bertamu kepada Rasulullah saw.  Beliau berkata, “Sejahat-jahatnya pemimpin suku (Ibnul ‘Asyirah) adalah dia; atau perawi ragu-ragu, “Sejahat-jahatnya Akhul ‘Asyirah (pemimpin suku) adalah dia”.  Lalu, Rasulullah saw mengijinkannya.  Ketika orang itu masuk ke dalam rumah, beliau berkata lembut kepadanya.  Setelah orang itu keluar, aku bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah,  mengapa engkau berkata lembut kepada dirinya?”  Beliau saw bersabda, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya sejahat-jahat manusia adalah orang yang ditinggalkan sesamanya atau orang yang dibiarkan sesamanya karena takut dengan kejahatannya”.[HR. Imam Bukhari dan Muslim, Imam Turmudziy, dan Abu Dawud]

Lihat Juga :  Konferensi Pemuda Islam Internasional untuk Palestina Bakal Digelar di Indonesia

Kasih sayang beliau yang amat luas dan besar juga ditunjukkan dalam hal meringankan beban kaum Mukmin dalam beribadah kepada Allah.   Beliau saw pernah memendekkan sholat dikarenakan beliau saw mendengarkan tangisan bayi yang ditinggalkan ibunya yang ingin sholat bersama dengan Rasulullah saw.

Beliau begitu sedih dan tersentuh hatinya ketika mendengar tangis bayi dan kesabaran ibunya.  Oleh karena itu, beliau segera memendekkan sholat untuk menghapuskan kesedihan bayi dan untuk meringankan beban ibunya. Anas bin Malik bercerita, bahwasanya Nabi saw bersabda, “Aku baru memulai sholat dan ingin memanjangkannya.  Lalu, aku mendengar tangis bayi.  Aku pun menahan diri untuk tidak memanjangkan sholatku.  Sebab, aku tahu bagaimana besarnya kerinduan seorang ibu ketika mendengar tangis anaknya”.[HR. Imam Bukhari]

Suatu saat, Nabi saw sedang mengerjakan sholat; lalu datanglah Umamah putri Zaenah menggelantungi tubuh beliau, lalu beliau mengangkatnya ke atas bahunya.  Jika beliau hendak sujud, beliau meletakkan Umamah di atas tanah.  Dan jika beliau berdiri, beliau meletakkan Umamah ke atas bahunya kembali.”

Dijelaskan juga oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh bahwa nasehat bagi pemimpin kaum muslim adalah dengan memberikan hak-hak mereka yang telah Allah berikan kepada mereka, yang telah Allah jelaskan dalam kitab-kitab-Nya maupun yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jelaskan dalam sunnah beliau.   Dan termasuk nasehat bagi mereka yaitu memberikan nasehat dengan makna mengingatkan keasalahan-kesalahan mereka.

Syaikh Al ‘Utsaimin berkata, Ketahuilah bahwa perkataanmu terhadap salah seorang kaum muslim tidaklah boleh disamakan dengan perkataanmu terhadap seorang pemimpin. Perkataanmu terhadap seorang pembangkang tidaklah boleh disamakan dengan perkataanmu terhadap orang yang masih bodoh. Maka, setiap kondisi orang ada perkataan (yang sesuai). Maka, berilah nasehat kepada kaum muslimin secara umum semampumu. (Asy Syarhul Kabiir, 181).(*)

 

Tags
Close