KOLOM

Nabi, Sahabat Umar, Habib, Sikap Lemah Lembut dan Kasar

 

Oleh: Adib Gunawan

Praktisisi Kesehatan Pendidikan dan Sosial, Tinggal di Bandung

ASSAJIDIN.COM — Dengan hanya berbekal pemahaman akan nilai-nilai universal saja, kita dapat mengatakan, bahwa nilai lemah lembut dan berkasih sayang.., adalah nilai yang positif.

Dalam kehidupan sehari-hari pun kita juga akan merasa nyaman dengan orang-orang di sekitar kita yang memiliki nilai-nilai tersebut.

Demikianlah, selain merupakan nilai positif, sikap lemah lembut dan kasih sayang juga lebih kita pilih untuk mengiringi kehidupan kita.

Terlebih, Allah SWT pencipta langit dan bumi memiliki 2 sifat utama pula, yaitu Ar-Rahman dan Ar-Rahim, dan juga sifat lain yg semakna dengannya, seperti Sang Maha Pengampun, Sang Pemberi Petunjuk, dsb.

Sedangkan nilai yang berkebalikan dengan lemah lembut dan kasih sayang tentu adalah kebalikannya pula, yaitu nilai yang negatif dan nilai yang tidak kita pilih serta tidak kita inginkan ada di sekitar kita, baik itu di level keluarga, level pertemanan, maupun hingga level pejabat.

Sifat lemah lembut dan kasih sayang, juga adalah sifat utama semua Nabi. Dan Rasulullah SAW memiliki sifat tersebut secara paling sempurna.

Ayat yang berbunyi,

“Dengan Rahmat Allah engkau menjadi lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau berlaku kasar lagi keras hati, niscaya mereka akan menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan minta ampunlah untuk mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan. Maka apabila kamu telah bertekad untuk mengerjakan sesuatu sesudah musyawarah, maka bertawakkal lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tawakkal”. (Q.S 3:159).

adalah dalil yang sangat kuat untuk menunjukkan tentang karakter kenabian dan bagaimana seyogyanya menjadi pemimpin dan bagaimana berdakwah, yaitu harus denga lemah lembut dan berkasih sayang, tidak dengan sebaliknya yaitu dengan kasar.

Sifat lemah lembuh tersebut, tentu saja diajarkan oleh Nabi dan diikuti oleh para sahabat. Dan lebih jauh, juga diikuti oleh para ulama sebagai penerus Nabi.

Tidak terbayangkan, bila waliyullah yg bergelar tongkatnya zaman, yang kedua kaki Sayyidina Ali berada di pundaknya, dan kedua kakinya ada di pundak semua wali sesudahnya, yaitu ulama besar Syeikh Abdul Qadir Jailani, bila ia memiliki sifat kasar. Tentu dalam benak kita adalah Sang Syeikh adalah seorang yang lemah lembut dan berkasih sayang. Bukan orang yang kasar.

Lihat Juga :  Edukasi Pajak Hak Semua Golongan

Jika maqom ulama saja kita tak bisa membayangkan, bagaimana bisa kita membayangkan dan menyematkan sifat kasar ada pada diri Sahabat Nabi seperti Umar dan Ali setelah keduanya memperoleh bimbingan Nabi?

Bila seandainya para Sahabat mulia sesudah memperoleh bimbingan Nabi masih saja memiliki karakter kasar, maka hal tsb berlawanan dengan karakter kenabian, yang seharusnya dimiliki oleh semua pewaris dan penerus Nabi, yaitu Khulafaur Rasyidin.

Bila Nabi SAW bisa mengubah karakter jahiliah yang tega membunuh anak kandung perempuannya, diubah 180 derajat menjadi merasa berdosa hanya ketika membunuh seekor semut, maka tentu Rasulullah SAW bisa mengubah hanya sekedar karakter kasar seorang Umar.

Memang karakter kasarnya umar tampak pada riwayat, dimana Umar menampakkan keinginannya memohon izin Nabi agar bisa memenggal leher seorang yang mengkasari Nabi. Tapi kemudian Nabi melarangnya, Nabi meminta supaya Umar tetap bersikap lembut kepadanya.

Hal tersebut adalah bentuk teguran dan dan pengajaran Nabi akan nilai lemah lembut dan berkasih sayang.

Umar tentu menjadikan hal tersebut sebagai tuntunan dan dia pegang erat sampai sepeninggal Nabi dan bahkan sampai dirinya wafat.

Dan bahkan Umar sendiri yang meriwayatkan kisah-kisah tentang dilarangnya ia bersikap kasar tersebut untuk memberikan pengajaran kepada kaum sahabat lainnya, yang kita seharusnya pun bisa ambil pelajaran dalam kehidupan kita sekarang. Bukan kita ambil pelajaran tentang kasarnya umar, tapi bagaimana karakter kasar tersebut tidak direstui Nabi SAW.

Itu dari satu sisi.

Sisi lainnya adalah.. ketika Nabi masih hidup, semua orang di sekitar Nabi secara relatif akan kelihatan sebagai orang kasar. Hal ini dikarenakan sifat lembah lembut dan kasih sayang Nabi yang sempurna yang tak bisa ditandingi oleh siapapun. Beliau dalam hal ini adalah suri tauladan yang terbaik.

Lihat Juga :  Mencoba Terbiasa pada Kenormalan Baru

Jadi tampak kasarnya Umar dan Ali bukan karena kasarnya mereka berdua, tapi karena dibandingkan dengan lemah lembutnya Nabi SAW.

Selanjutnya, sifat lemah lembut dan kasih sayang tersebut setelah diramu dengan niat yang ikhlas, bicara dan langkah terukur, sikap istiqomah dan konsisten serta adil, akan melahirkan sikap tegas. Bukan kasar.

Tegas adalah sikap teknis yang merupakan cabang dari lemah lembut dan kasih sayang, yang bersumber dari petunjuk ilahi dan karakter kenabian. Kiranya, sikap tegas ini lah yang dimiliki oleh Sahabat Umar dan Ali (dan juga Abu Bakar dan Ustman).

Sedangkan kasar adalah sikap teknis yang merupakan cabang dari emosi dan amarah, serta bersumber dari hawa nafsu. Kasar ini tidak dimiliki oleh Sahabat Umar dan Ali (apalagi oleh Abu Bakar dan Ustman).

Demikianlah.. bahwa, sifat lemah lembut dan berkasih sayang serta memaaafkan adalah karakter kenabian, dimiliki oleh Nabi dan diwariskan kepada Sahabat dan ulama yang saleh sebagai penerus para Nabi.

Sedangkan sifat kasar adalah berlawanan dengan perintah ilahi, berlawanan dengan karakter Nabi, berlawanan dengan karakter Sahabat, berlawanan dengan karakter Umar dan Ali serta berlawanan dengan karakter ulama yang saleh.

Jadi, bila sekarang ada seseorang yang berperilaku dan berkata kasar.. entah orang biasa ataupun bergelar Ustadz, digelari ulama dan Habib sekalipun.., menyamakan dan menisbatkan sifat kasarnya pada Sahabat Umar dan Ali adalah tidak benar.

Selain hal tersebut adalah pembelaan diri terhadap nafsunya, hal tersebut juga berarti menurunkan derajad Umar dan Ali serta memberi pengajaran yg salah kepada umat. Juga membelokkan ajaran islam tentang perintah berlemah lembut. Juga memberikan citra yang buruk terhadap islam, dan tanpa ia sadari menjauhkan orang dari islam (yang ironisnya) justru di saat ia merasa sedang berjuang untuk islam.

Mungkin ia bisa memberi petunjuk yang semu pada sepuluh ribu orang, tapi pada saat yang sama bisa jadi menjauhkan sepuluh juta orang dari islam.

Wallahu alam. (*)

Tags
Close