KELUARGA

Memandang Kehidupan, Jangan Langsung Menyimpulkan, Bersyukur dan Jauhi Iri Dengki

AsSAJIDIN.COM — Apabila kita melihat hidup orang lain begitu nikmatnya. Ternyata ia hanya menutupi kekurangannya tanpa berkeluh kesah…

Tatkala kita melihat hidup teman-teman sepertinya tak ada duka dan kepedihan. Ternyata ia hanya pandai menutupi dengan mensyukuri…

Kita melihat hidup saudara kita begitu tenangnya tanpa ujian. Ternyata ia begitu menikmati badai hujan dalam kehidupannya…

Kita melihat hidup sahabat begitu sempurna. Ternyata ia hanya berbahagia menjadi apa adanya…

Di saat kita melihat hidup tetangga begitu beruntung. Ternyata ia selalu tunduk pada Allah untuk bergantung…

Setiap hari kita belajar memahami dan mengamati setiap hidup orang yang kita temui. Ternyata kita yang kurang mensyukuri nikmatMu Ya Allah. Bahwa di belahan dunia lain masih ada yang belum seberuntung yang kita miliki saat ini.

Lihat Juga :  Cara Rawat Kain Batik Agar tidak Cepat Rusak dan Warna tidak Pudar

Dan satu hal yang harus kita ketahui, bahwa Allahu Rabbi tidak pernah mengurangi ketetapanNya. Hanya kitalah yang masih saja mengkufuri nikmat suratan takdir Ilahi. Mungkin kita tidak tahu dimana rezeki kita. Tapi rezeki kita tahu dimana diri kita berada.. Dari lautan biru, bumi dan gunung, Allah Ta’ala telah memerintahkannya menuju kepada kita.

Manusia begitu kerja membanting tulang, demi angka simpanan tabungan, yang mungkin esok akan ditinggal mati. Mereka lupa bahwa hakekat rezeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya.

Rezeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, Allah menaruh sekehendak-Nya. Diulang bolak balik 7x Shafa dan Marwa, tapi zamzam justru muncul dari kaki sang bayi, Ismail a.s.

Lihat Juga :  Hikmah di Balik Kisah Warisan Hisyam bin Abdul Malik dan Umar Bin Abdul Aziz

Ikhtiar itu perbuatan, Rezeki itu kejutan,
Dan yang tidak boleh dilupakan, tiap hakekat rezeki, kelak akan ditanyakan…
“Darimana dan digunakan untuk apa”.
Karena rezeki hanyalah “hak pakai”, bukan “hak milik”… Halalnya saja dihisab dan haramnya diadzab..!

Maka, kita tidak boleh merasa iri pada rezeki orang lain. Bila kita iri pada rezeki orang, sudah seharusnya juga iri pada takdir kematiannya.

Astaghfirullaah… (*/sumber: anonim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button