Uncategorized

Memaknai Quran Surat Adzariat (51) ayat 19, pada Harta Ada Hak untuk Orang Miskin yang Meminta dan Orang Miskin yang tidak Mendapat Bagian

Oleh: Muhammad Alimuddin
Kader Posyandu
Fasilitator Pemahaman Alquran
ASSAJIDIN.COM — Sebagai hamba Allah yang baik, tentunya marilah kita selalu bersyukur kepada Allah Swt atas segala nikmat dan karunia yang telah Dia anugerahkan kepada kita semua.
Bersyukur bukan dalam arti hanya mengucap Alhamdallah saja akan tetapi syukur yang melahirkan perbuatan-perbuatan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya semoga salam dan sholawat tetap selalu tercurah kepada seluruh para nabi dan rosul Allah,dimulai dari nabi Adam As dan sampai kepada Nabi Muhammad Saw.
Beberapa hari lalu, kita baru saja memperigati dan merayakan Hari Kelahiran Bangsa Indonesia yang ke-76 tahunnya. Riuh riah perayaan tersebut kita rasakan dengan berbagai kegiatan bersama, dimulai dengan upacara bendera, karnaval atau pun berbagai lomba-lomba menarik yang kita adakan.
Tentunya yang penting dari itu semua, semoga dari perayaan tersebut membuat kita selalu mencintai Negeri ini, selalu mencintai tanah air ini dan selalu berbuat dan berkarya yang terbaik untuk bangsa ini sebagai wujud syukur dan terima kasih atas nikmat kemerdekaan yang dulu diperjuangkan dengan darah dan air mata para pejuang bangsa.
Rasa syukur terhadap tanah air bangsa ini, sudah dicontohkan oleh nabiyullah Ibrahim As dalam kalam-Nya. Surah Al-Baqoroh (2) ayat 126
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”.
Di awal kalimat ayat tersebut kita disuruh ingat, ingat nabi Ibrahim yang mendoakan negerinya, lalu setelah ingat apa yang kita lakukan? Yah berdoalah sama seperti Nabi Ibrahim yang mendoakan negerinya. Apakah cukup dengan berdoa?
Tidak, lalu selanjutnya berbuatlah, lakukan perbuatan yang sama persis seperti isi doa yang dipanjatkan, melakukan segala perbuatan yang membuat negeri menjadi aman sentosa dan sejahtera.
Membangun Akhlak
Sahabat pembaca, sebagai hamba Allah yang baik dan sebagai anak bangsa serta sebagai penerus perjuangan para pahlawan bangsa, kita harus memiliki kesadaran kolektif, kesadaran menyeluruh untuk membangun bangsa ini, yang terpenting dari itu semua membangun generasi bangsa yaitu anak-anak kita.
Hal tersebut sesuai dengan amanat perjuangan para pahlawan yang termuat dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya yakni bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya, dan sesuai amanat Allah Swt di dalam kalam-Nya.
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Qs. An-Nisa (4) ayat 9).
Membangun jiwa sama saja membangun akhlak, erat kaitan nya dengan agama, kitab suci dan nabinabi. sedangkan membangun badan berkaitan dengan kesehatan, tumbuhkembang, gizi dan lainlain. Orang-orang yang tiap hari mengajarkan agama, mengajarkan Al Qur’an dan akhlak adalah guru-guru ngaji sekitar kita, sedangkan yang membangun badan anak, badan nya harus sehat, gizinya harus lengkap, vaksinnya harus lengkap, tidak ada stunting mau pun gizi buruk adalah kaderkader posyandu.
 Dalam kesempatan ini, marilah memfokuskan mengajak seluruh jamaah untuk berbuat baik dan peduli terhadap posyandu di lingkungan rumah kita masing-masing. Kenapa harus di posyandu?
Karena posyandu adalah salah satu wadah dalam rangka mempersatukan hati dan perbuatan sebagai wujud kepedulian dan rasa kasih sayang kepada seluruh rakyat Indonesia khususnya yang pra-sejahtera tanpa membeda-bedakan agama, ras, suku dan budaya.
Posyandu adalah wadah berkumpulnya masyarakat miskin dan posyandu fokus kepada ibu hamil, balita, anak-anak dan lansia yang notabene nya balita dan anak-anak adalah generasi penerus bangsa.
Mari kita perhatikan ayat Allah ini Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (QS. Adzariat (51) ayat 19)
Dari ayat ini, di harta kita ada haknya si miskin baik yang meminta mau pun tidak meminta. Si miskin yang meminta jelas kelihatan, ia hadir ke rumah atau di pinggir jalan sedangkan si miskin yang tidak meminta inilah yang harus kita cari agar haknya terpenuhi. Untuk mencari si miskin yang tidak meminta ini perlu sistem agar mudah mencarinya, alhamdulillahnya sistem itu sudah ada yaitu posyandu. Di posyandu ada Ibu hamil miskin yang tidak akan sanggup meminta-minta, balita miskin tidak akan mampu meminta-minta, lansia miskin tidak akan sanggup meminta-minta.
Dimana Mencari Orang Miskin?
Kalau anda mau mencari masyarakat miskin, tidak usah jauh-jauh, kami sarankan ke posyandu saja silahkan temui kader posyandunya dan silahkan salurkan zakat, infaq dan shodaqohnya ke posyandu. Hal ini sesuai dengan kehendak Allah, yang memerintahkan manusia untuk berbuat baik dari lingkungan terdekatnya.
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (QS. An-Nisa (4) ayat 36)
Ketika kita berbuat baik ke posyandu sama saja kita berbuat baik untuk diri kita sendiri karena boleh jadi di posyandu ada anak kita, keponakkan kita, tetangga kita dan boleh jadi ada orang tua kita di sana. Artinya ketika kita berbuat baik ke posyandu kita tahu peruntukkan yang kita bantu untuk siapa siapa saja, jelas detail keadaan orang yang diberi. Kita perlu malu dengan kader posyandu, yang berpuluh-puluh tahun tulus ikhlas mengurusi anak bangsa tanpa ada imbalan sedikit pun, kalau pun itu ada, itu pun kecil adanya. Kita perlu malu dengan kader posyandu, yang terkadang tidak sedikit makanan sehat balita dan lansia bersumber dari kantong-kantong ibu kader itu sendiri. Dimana orang-orang kaya sekitar posyandu? Dimana tokoh-tokoh agama yang menyuarakan agamanya?
Dimana lembaga-lembaga zakat lainnya?
Usaha yang dilakukan bersama akan mempermudah tercapainya keberhasilan bersama, jika seandainya kita memiliki kesadaran kolektif sebagai hamba Allah, sebagai anak bangsa dan sekaligus penerus perjuangan para pahlawan, maka wujud syukur itu marilah kita curahkan pada membangun generasi bangsa terutama yang berada di posyandu.
Prinsip berbuat baik sama seperti bisnis ekonomi, minim modal tapi keuntungan besar, maksudnya memiliki efek besar dan berkepanjangan yaitu mengajak orang lain untuk peduli dan sayang pada generasi bangsa di sekitar rumah masing-masing. Bukan seberapa banyak jumlah donasi tapi seberapa banyak masyarakat yang peduli.
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, Dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya Dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (QS. Al Maun (107) ayat 1-7). Wallahualam bishawab.
Back to top button