Uncategorized

Memaknai Al Quran Secara Akal Sehat

AlQuran,  Dibaca, Ditadabburi dan Fahami dengan Akal

  Oleh: Hj. Desmawati Djuliar, M.Si [ Pimpinan SIT Al Furqon ]

Setiap umat Islam sudah barang tentu mengerti dengan kaidah keagamaannya yang diwajibkan selain mempercayai AlQuran juga harus membaca (tilawah), menadaburi (Tadabbur) dan memahaminya dengan akal-pikiran (Ta’aqqull). Dengan begitu maka AlQuran sungguh telah menjadi pedoman dalam seluruh aspek kehidupan.

Demikian disimpulkan dari Kajian yang disampaikan Ustadz H. Lutfi Izzuddin yang juga Ketua Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Sumatera Selatan dalam kajian ahad di Mesjid Al Furqon, Jl. R Soekamto. Palembang Ahad 12 Mei 2019 lalu.

Para ulama salafus shaleh yang terdahulu, menerapkan itu setiap saat, apalagi di bulan Ramadhan, maka mengaji dengan mengkhatamkannya, memang telah menjadi tradisi. Namun, bukan hanya saat lebaran, setelah hari-hari sebagaimana sekarang dalam bulan sawal dan seterusnya justru membaca alquran adalah kewajiban seorang mukmin.

Kewajiban lain, yakni mentadaburi. Tadabur sebagaimana disebutkan oleh Ustadz Lutfi, adalah memahami dengan hati. Dipelihara arti dan maknanya di hati sebagai suatu perintah yang diwajibkan,. Dengan menggunakan hati makan tidak akan terjadi kebohongan dalam memaknai AlQuran.

Lalu, mengolah dengan akal pikiran kita atau ta’aqul. Pemikiran intelektual seseorang yang beriman tentu ikut menjawab berbagai hal yang terkandung dalam surat-surat alquran. Tentunya dengan tafsir yang telah diuraikan secara lebar oleh para Ulama terdahulu. Seperti Ibnu Katsir, Imam An Nawawi, Imama Syafi’I, semua para ulama dahulu tentunya.

Seorang penulis, DR. Kamal Qalami, memberikan pandangan bahwa Allâh Azza wa Jalla telah menurunkan Kitab-Nya yang mulia kepada hamba-Nya sebagai petunjuk, rahmat, penerang, pembawa kabar gembira serta peringatan bagi siapa saja yang mau mengambil peringatan. Allâh Azza wa Jalla  juga mengajak mereka untuk membaca dan mentadaburinya (merenunginya), sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman : Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? sekiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allâh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [An-Nisâ’/4:82]

Lihat Juga :  Menikmati Bacaan Alquran dan Mengerti Isi Kandungannya

Dalam ayat lain Allâh Azza wa Jalla berfirman: Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci? [Muhammad/47:24]. “Dia telah menurunkan al-Qur’an sebagai sarana untuk merenungi tanda-tanda kebesaran Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana firman-Nya : Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. [Shâd/38:29]

*Gunakan Hati dan Akal*

Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga telah menjelaskan bahwa salah faktor  yang menyebabkan sesatnya seseorang dari jalan lurus  adalah lantaran meraka tidak mentadaburi al-Qur’an dan tidak mau mendengarnya, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman:Sesungguhnya ayat-ayat-Ku (al-Qur’an) selalu dibacakan kepada kamu sekalian, Maka kamu selalu berpaling ke belakang, dengan menyombongkan diri terhadap al-Qur’an itu dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya di waktu kamu bercakap-cakap di malam hari. Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu? [al-Mu’minûn/23: 66-68]

Allâh Azza wa Jalla telah menjelaskan keagungan dan pengaruh kuat al-Qur’an, yaitu seandainya al-Qur’an ini diturunkan kepada gunung besar niscaya gunung tersebut akan tunduk dan terpecah belah lantaran ketakutannya kepada Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman: Kalau sekiranya Kami turunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allâh. dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. [Al-Hasyr/59:21]

Lutfi mengetengahkan juga pemikiran Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam mentafsirkan ayat  Allah menyampaikan, “Dengan ayat ini, Allâh Azza wa Jalla mengajak untuk mentadaburi petuah-petuah al-Qur’an. Allâh Azza wa Jalla juga menjelaskan bahwa tidak ada alasan dalam meninggalkan tadabur tersebut, karena sekiranya al-Qur’an ditujukan kepadan gunung niscaya gunung tersebut akan patuh dengan petuah-petuahnya, dan gunung tersebut akan tunduk terpecah belah sekalipun ia teramat kokoh dan kuat.”

Lihat Juga :  Menjadi Endorse dan Menjual Barang tanpa Stok, Apa Hukumnya dalam Islam?

Ini adalah sebagian kemuliaan kitab al-Qur’an, maka sudah selayakanya bagi setiap Muslim untuk memuliakan, membaca, mentadaburi, serta menggunakan akal pikirannya untuk memahami dan merenungi kandungan ayat-ayatnya sebagaimana mestinya. Ibnu Quddâmah rahimahullah  menerangkan perihal al-Qur’an,

“Hendaklah orang yang membacanya menyadari bahwa apa yang ia baca bukan perkataan manusia. Hendaknya ia menyadari keagungan Allâh yang memiliki perkataan itu serta merenungi firman-Nya  itu. Karena mentadabburi (merenungi) merupakan tujuan dari membaca al-Qur’an. Jika ia tidak bisa menghayati dan merenunginya kecuali dengan mengulang-ulang ayat, maka hendaklah ia membacanya berulang kali!’

Imam ibn al-Qayyim rahimahullah menegaskan, “Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati bila dibandingkan dengan membaca al-Qur’an disertai tadabbur dan tafakur (memahami dan merenungi maknanya). … itulah yang menumbuhkan rasa cinta, rindu, optimisme, keinginan untuk taubat, tawakal, ridha, berserah diri, sabar, dan semua yang membuat hati seseorang menjadi hidup dan sempurna. Itu juga bisa  mencegah seseorang dari seluruh sifat dan perbuatan tercela yang menyebabkan hati menjadi rusak dan binasa.

Sekiranya umat manusia itu mengetahui keutamaan yang terdapat dalam membaca al-Qur’an dengan disertai tadabbur (perenungan terhadap makna-maknanya dengan menggunakan akal pikiran yang dituntutun oleh tafsir para ulama) tentu mereka telah menyibukkan diri mereka dengannya dan meninggalkan semua aktifitas lainnya.  Apabila ia membaca disertai tafakur lalu dia mendapati satu ayat yang dia butuhkan untuk mengobati hatinya, dia akan mengulanginya meskipun sampai seratus kali di sepanjang malam. Membaca satu ayat disertai tafakkur  (merenunginya) lebih baik daripada mengkhatamkannya tanpa disertai tadabbur dan pemahaman, dan lebih bermanfaat bagi hati, lebih bisa menghantarkan kepada keimanan dan meraih manisnya al-Qur’an.”(*)

 

Also Read
Close
Back to top button