SYARIAT

Memahami Apa itu Benda Najis dan Bolehkah Untuk Pengobatan?

ASSAJIDIN.COM — Kita sering mendengar orang yang meminum air urine dengan alasan pengobatan. Tapi bagaimana menurut pandangan islam soal ini? Bolehkah mengkonsumsi benda  yang tak halal untuk pengobatan ini?

Dikutip dari NU Online persoalan ini sebenarnya sudah muncul sejak lama. Banyak ulama yang juga telah membahasnya.

Salah satunya Imam Ibnu Syihab Az Zuhri. Pada suatu kesempatan, Imam Az Zuhri mendapat pertanyaan mengenai hukum minum air kencing dengan tujuan untuk pengobatan.

Ulama pelopor kodifikasi hadis Rasulullah ini memberikan jawaban air kencing tidak termasuk benda thayyibat, sehingga dinyatakan sebagai sesuatu yang buruk. Pun sudah menjadi pemahaman bersama di antara umat Islam, air kencing adalah benda najis.

Bangkai Najis
Imam Asy Syarbini juga membahas mengenai keharaman mengonsumsi benda najis. Pandangan itu tertuang dalam kitabnya Mughnil Muhtaj.

Dalam kitab tersebut, Imam Asy Syarbini dalam Al Iqna’ fi Halli Alfazhi Abi Syuja’ menjelaskan keharaman suatu benda tidak karena pemuliaan atau kondisi menjijikkan, statusnya adalah najis. Contoh yang dikemukakan adalah bangkai.

Lihat Juga :  Tujuh Penyebab Kesesatan Menurut Alquran

Dalam kerangka ini, bangkai adalah benda yang tidak dimuliakan. Jika belum membusuk maka belum dianggap menjijikkan bagi sebagian orang.

Dalam sudut pandang fikih, bangkai tidak sekadar dipandang sebagai makhluk kehilangan nyawa. Pada kitab tersebut dijelaskan mengenai bangkai.

” Bangkai adalah makhluk yang hilang nyawanya tanpa cara penyembelihan yang syar’i.”

Dalam hal ini, bangkai tidak dimaknai sebatas hewan yang mati bukan karena disembelih secara syar’i namun juga hewan yang dagingnya haram dimakan meski disembelih sesuai ajaran Islam. Keharaman bangkai terletak pada sifat najis yang melekat padanya.

Macam Benda Najis
Benda najis yang umum kita ketahui adalah babi, anjing, cairan memabukkan, tinja, air kencing, darah, nanah, juga muntahan. Benda-benda itu adalah najis sehingga haram dikonsumsi, kecuali dalam kondisi darurat dan mendesak.

Ada lagi kasus lain yaitu benda halal yang terkena najis. Terkait hal ini, terdapat hadis yang menjelaskan mengenai cara menggunakan benda halal yang terkena najis, yang diriwayatkan Imam Bukhari dengan derajat shahih.

Lihat Juga :  Bayar Utang atau Sedekah, Mana yang Didahulukan?

Dalam hadis itu, Rasulullah Muhammad SAW ditanya mengenai bangkai tikus yang jatuh ke permukaan mentega padat. Para ulama mengartikan mentega itu dengan lemak.

Rasulullah menjawab, ” Jika mentega itu padat, maka buanglah tikus itu dan buang juga mentega di sekitar daerah yang kejatuhan tikus itu. Jika mentega itu cair, maka jangan digunakan.”

Dari hadis ini, bisa diketahui cara menggunakan benda halal terkena najis. Bangkai tikus adalah najis dan mentega yang terkena bangkai itu adalah mutanajjis (terkena najis).

Mentega itu tidak semuanya tidak bisa dikonsumsi. Cukup dengan membuang bangkai tikus dan mentega di sekitarnya, maka sisa mentega bisa dimakan.

Tetapi, jika mentega cair maka semuanya harus dibuang. Sebab, najis bisa larut pada benda halal bentuk cair.(*/sumber: NU Online)

Close