ALFURQON SCHOOL

Konsep Pendidikan Karakter Musa Menuntun SDIT Al Furqon Palembang Jadi yang Terbaik

Ustadz Zakiudin Sabet Juara II Lomba Grand Design Pendidikan 2045

AsSajidin.com— Mengusung konsep “ Pendidikan Karakter MUSA Menuju Indonesia Emas di tahun 2045 “. Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Furqon di daulat menjadi runner up pada ajang lomba Grand Design Pendidikan karakter dalam acara puncak Milad Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) ke 18 tahun 2021.

Ustadz Zakiudin, S.Pd.I Kepala Sekolah SDIT Al Furqon tidak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur dan terimakasih kepada semua pihak yang telah turut membantu dan mendoakan sehingga konsep pendidikan karakter yang di sampaikan terpilih dan menjadi salah satu yang terbaik dari 105 peserta di seluruh Indonesia.

“Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT, design pendidikan karakter SD Islam Terpadu Al Furqon Palembang dapat diapresiasi dan diakui secara Nasional dengan mengedepankan slogan membentuk siswa menjadi Ahli Dzikir, Ahli Fikir dan Ahli Ikhtiar. Melalui konsep pendidikan karakter ini, Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT)  Al Furqon berkomitmen menjadikan setiap anak didiknya memiliki sikap positif, pola pikir esensial, komitmen normatif dan kompetensi abilitas yang berlandasan Intellectuall,. Emotional, Spiritual Question (IESQ).

“ Kita ingin agar siswa memiliki Jiwa Leadership, Jiwa entrepreuner, Kecerdasan Intelektual, spritual dan emosional dan Pendidikan Tekhnologi Digital. Sebagai langkah dalam mencapai muashofat lulusan JSIT yang unggul sebagai generasi -generasi emas,  karenanya, Sekolah bertagline ahli dzikir, ahli fikir dan ahli ikhtiar ini selalu menterdepankan konsep Islami dalam setiap proses belajar mengajar menuju IESQ dengan menitik beratkan sejumlah catatan sejarah agar para generasi bisa mengambil hikmah dari setiap perjalanan waktu,”tuturnya.

Malului catatan panjang itulah, kata Ustadz Zaki, banyak sejarah menuliskan bahwa pendidikan ala rasulullah adalah pendidikan yang terbaik. Belajar dari sejarah itu pula lah, kami ingin menciptakan setiap anak didik kami menjadi generasi emas seperti Mus’ab bin Umair, Umar bin Abdul Aziz, Usamah bin Said dan Muhammad Al Fatih yang disingkat dengan Musa. Melalui gurisan tinta emas sejarah itu, kami ingin anak didik kami di SDIT Al Furqon memiliki semangat seperti tokoh-tokoh Islam di bidangnya masing-masing, karena setiap priode akan menghasilkan pemuda-pemuda yang berkualitas,unggul secara kepribadian, cerdas dalam pemiikiran, serta berakhlak robbani,sehingga dengan begitu kita harapkan Islam dapat menduduki masa kejayaanya di masa kini,” ungkapnya.

Seperti di ketahui bersama, ke empat tokoh pemuda Islam ini memiliki kontribusi yang luar biasa dalam peradaban umat Islam di masanya seperi yang dilakukan oleh :

  1. Mush’ab bin Umair ra. atau yang bernama lengkap Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Abd al-Dar Qushai lahir di Mekkah pada tahun 585 M dan wafat pada tahun 625 M di Madinah. Mush’ab bin Umair salah seorang diantara para sahabat Nabi. Ia seorang remaja Quraisy terkemuka, gagah dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan. Para ahli sejarah melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: “Seorang warga kota Makkah yang mempunyai nama paling harum.”
Lihat Juga :  SDIT Al Furqon Gelar Iftor Dan Mabit, Ustadz Zakkiudin : Wahana Melembutkan Hati

Awalnya beliau hidup dalam kekayaan dan kemewahan, dan bisa dibilang sebagai anak yang paling beruntung dan disenangi di Makkah pada saat itu, akan tetapi pada saat ibunya, Khunas binti Malik, yang merupakan pemuka Quraisy mengetahui bahwa anaknya memeluk Islam, ibunya melakukan segala hal agar anaknya keluar dari agama Islam. Dengan keteguhannya, Mush’ab bin Umair pun meninggalkan ibunya dan melanjutkan perjuangan di jalan Rasulullah Saw. dengan meninggalkan semua kekayaan dan kemewahan yang telah dimilikinya sebelum masuk Islam.

Karena keteguhannya itu, Rasulullah memberikan misi penting kepada beliau, yaitu sebagai duta pertama atau utusannya untuk mengajarkan Islam kepada kaum Anshar dan kaum-kaum yang lain di Madinah, yang tentu saja dilaksanakannya dengan baik dan sabar meskipun banyak halangan yang dialami. Kegigihannya membawa Madinah menjadi kota yang memegang teguh terhadap Islam.

  1. Pada era Khalifah Umar bin Abdul Aziz telah mengentaskan rakyatnya dari kemiskinan. Semua rakyatnya hidup berkecukupan. Abu Ubaid mengisahkan, Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkirim surat kepada Hamid bin Abdurrahman, Gubernur Irak, agar membayar semua gaji dan hak rutin di provinsi itu. ‘’Saya sudah membayarkan semua gaji dan hak mereka. Namun, di Baitulmal masih terdapat banyak uang,’’ tutur sang gubernur dalam surat balasannya.

Khalifah Umar lalu memerintahkan, ‘’Carilah orang yang dililit utang tetapi tidak boros. Berilah dia uang untuk melunasi utangnya!’’ Abdul Hamid kembali menyurati Khalifah Umar, ‘’Saya sudah membayarkan utang mereka, tetapi di baitulmal masih banyak uang.’’ Khalifah lalu memerintahkan lagi, ‘’Kalau begitu bila ada seorang lajang yang tidak memiliki harta lalu dia ingin menikah, nikahkan dia dan bayarlah maharnya!’’ Abdul Hamid kembali menyurati Khalifah, ’’Saya sudah menikahkan semua yang ingin nikah.’’ Namun, di baitulmal ternyata dana yang tersimpan masih banyak.

Khalifah Umar lalu memberi pengarahan, ‘’Carilah orang yang biasa membayar jizyah dan kharaj. Kalau ada yang kekurangan modal, berilah mereka pinjaman agar mampu mengolah tanahnya. Kita tidak menuntut pengembaliannya kecuali setelah dua tahun atau lebih.’’

  1. Sejarah Islam mencatat sejumlah panglima perang terhebat sepanjang masa. Salah satunya Usamah bin Zaid. Usamah merupakan panglima Islam termuda sekaligus panglima terakhir yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah. Ia mulai memimpin perang pada usia 18 tahun. Saat Rasulullah SAW sakit, para musuh sengaja memanfaatkan keadaan. Mereka mengancam kekuatan Islam dengan membuat gejolak di perbatasan Syam. Dari arah Yaman bahkan muncul seseorang yang mengaku sebagai nabi.

Di tengah kondisinya yang tak sehat, Rasulullah tetap memerintahkan perlawanan ke perbatasan Syam. Dia juga menulis surat-surat perintah untuk membasmi nabi palsu. Baginda Nabi menunjuk Usamah sebagai panglima perang di perbatasan Syam. Ia membawahi sahabat lainnya termasuk Umar bin Khattab.

Beberapa sahabat mempertanya kan keputusan tersebut sebab banyak sahabat senior dalam pasukan, seperti Sa’ad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan lainnya. Mereka dianggap lebih pantas memimpin pasukan. Mendengar berbagai perkataan yang terdengar me nye pe lekan Usamah, Umar segera me nemui Rasulullah. Mendengar kabar itu, Nabi Muhammad sangat marah.

Lihat Juga :  Serunya Suasana Cooking Day SDIT Al- Furqon,  Asah Keterampilan Anak

Beliau kemudian bergegas mene mui para sahabat di Masjid Nabawi. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Wahai sekalian manusia, aku mende ngar pembicaraan mengenai pengang katan Usamah? Demi Allah, seandai nya kalian menyangsikan kepemimpinannya, berarti kalian menyangsikan juga kepemimpinan ayahnya, Zaid bin Haritsah. Demi Allah Zaid sangat pantas memegang pimpinan, begitu pula dengan putranya Usamah.”

Rasulullah melanjutkan, “Jika ayahnya sangat aku kasihi, putranya pun demikian. Mereka orang baik. Hendaklah kalian memandang baik mereka berdua. Mereka juga sebaikbaik manusia di antara kalian.” Nabi SAW lalu kembali ke rumahnya. Mendengar sabda Rasul, kaum Muslimin mulai datang bergabung dengan pasukan Usamah.

Sebelum berangkat ke medan perang, terlebih dahulu Usamah menemui Rasulullah yang masih sakit. Ketika sang panglima termuda mencium wajah beliau, Rasul tak mengatakan apa pun selain mendoakan sekaligus mengusap kepala Usamah.

Belum jauh pasukan bergerak. Kabar wafatnya Rasulullah datang sehingga Usamah menghentikan laju pasukannya. Selanjutnya, ia bersama Umar dan Abu Ubaidah bergegas ke rumah Sang Nabi. Melalui musya wa rah yang masih diliputi kesedihan, Kaum Muslimin sepakat mengangkat Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai Khalifah menggantikan Rasulullah. Abu Bakar kemudian menyuruh Usamah kembali memimpin pasukan, seperti perintah Rasulullah.

Bersama pasukannya, Usamah bergerak cepat meninggalkan Madinah menuju perbatasan Syam. Setelah melewati beberapa daerah yang masih tetap memeluk Islam, akhirnya mereka sampai di Wadilqura. Dengan strategi perang yang matang, pasukan Usamah mampu mengalahkan musuh secara cepat.

  1. Muhammad al-Fatih Sang Penakluk Konstantinopel

merupakan salah satu pahlawan besar umat Islam selain Shalahuddin al-Ayyubi. Di usia yang masih muda, yakni 25 tahun Muhammad al-Fatih mampu menaklukkan Konstantinopel di Romawi Timur.

Putra dari pasangan Sultan Murad II dengan Turki Hatun binti Abdullah itu seperti jawaban atas Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan dalam hadits Ahmad berikut ini:

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”

Melihat besarnya catatan sejarah tersebut, SDIT Al Furqon yang merupakan jaringan Islam Terpadu turut serta mendesign generasi emas 2045 dengan program dan terobosan terbaru yang berorienstasi pada penguatan karakter, skill, dan penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi ala Rasululllah.

“Melalui semangat itu, kita ciptakan program-program unggulan yang meliputi ,jiwa Entrepreneur ,jiwa kepemimpinan,jiwa Kecerdasan baik intelektual dan spiritual, pendidikan digital, E-raport dengan pembelajaran berbasis elektronik, “  Dan Alhmadulillah, kemarin kita dinyatakan berhasil dan menjadi kepala sekolah utusan diluar pulau jawa, dengan menoreh hasil maksimal ini,” tuturnya. (JEMMY SAPUTERA)

Close
Close