SYARIAT

Khutbah Jumat: Ikhtiar dan Tawakkal

ASSAJIDIN.COM

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, Tuhan pemberi segala nikmat dan karunia yang tak terhingga jumlahnya. Dzat yang menakdirkan segala sesuatu penuh dengan hikmah dan pelajaran berharga. Dzat yang Maha Menguasai segala isi langit dan bumi dan di antara keduanya. Dzat yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dzat Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus seluruh makhluk-Nya.

Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, segenap keluarga dan sahabatnya, para pejuang yang gigih berjuang, serta pengikutnya yang istiqamah menegakkan sunnahnya hingga akhir jaman.

Senantiasa khatib menyampaikan wasiat kepada hadirin untuk menjaga dan meningkatkan takwa kepada-Nya. Takwa dalam arti menjalankan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seala larangan-Nya. Takwa dalam arti thaat kepada Allah dengan tidak memaksiati-Nya. Takwa dalam arti ingat kepada Allah dengan tidak melupakan-Nya. Dan takwa dalam arti syukur kepada Allah dengan tidak mengkufuri-Nya.

Hadirin yang sama-sama mengharap ridha dan ampunan Allah

Wabah yang saat ini mendunia, yaitu menjangkitnya virus corona, merupakan musibah dan keprihatinan kita semua. Puluhan ribu korban terdampak virus ini, ribuan lainnya meninggal di seratus lebih negara di dunia.

Yang pertama dan utama kita kemukakan menghadapi musibah besar ini, adalah mengembalikan semuanya kepada Allah, Sang Pencipta Yang Maha segala-galanya. Allah yang telah menciptakan semua makhluk-Nya, baik yang besar maupun yang kecil, yang terlihat maupun tidak kelihatan oleh mata.

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٌ۬ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ

Artinya: “Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” (Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali). (QS Al-Baqarah [2]: 156).

Maka, seyogyanya kita tidak bersedih dan khawatir berlebihan dan berlarut-larut, menyesali nasib lalu berputus asa. Sebab semuanya memang hanya milik Allah. Termasuk wabah corona yang saat ini merebak ke seluruh dunia, merupakan musibah bagi kita semua, dan menjadi pelajaran agar kita berupaya mengatasinya dan mengantisipasinya dengan segera dan tepat.

Adapun secara aqidah kita kepada Allah, hadirin yang berbahgia

Tentu kita menghayatinya, bahwa segala urusan di muka bumi ini, semua yang berlangsung di atas dunia ini, adalah atas izin dan kehendak Allah. Seperti firman-Nya:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan setiap orang yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS At-Taghabun : 11).

Pada ayat lain Allah menekankan :

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

Artinya : “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS Al-An’am [6] : 59).

Berkaitan dengan ayat ini, Syaikh Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir asal Suriah, dalam Kitab Tafsir Al-Wajiz, menjelaskan, bahwa ayat yang agung ini menjelaskan ilmu Allah yang menyeluruh.

Bahwa Allah mengetahui, bukan hanya mengetahui, tapi Maha Mengetahui, semua yang ada dan terjadi di daratan dan di tempat-tempat sepi tersembunyi sekalipun, yang mencakup binatang, pepohonan, pasir kerikil, dan debu, termasuk bakteri dan virus. Juga segala hewan yang berada di laut, berupa binatang, tambang, ikan, dan lain-lain yang dikandungi oleh airnya.

Tiada sehelai daun pun yang gugur dari pohon darat, laut, kota, desa, dunia dan akhirat kecuali Allah mengetahuinya. Termasuk tidak ada sebutir bijipun yang jatuh dalam kegelapan bumi, berupa biji-bijian, buah-buahan dan tanaman, biji yang di tanam oleh manusia, dan biji-biji tanaman di darat yang menjadi cikal tumbuh-tumbuhan. Melainkan semuanya tertulis di dalam kitab yang nyata atau Lauh Mahfudz.

Lihat Juga :  Hikmah di Balik Doa yang Belum Terkabul

Itu semua adalah bukti keagungan Allah Yang Maha Besar dan keluasan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Maka jika seluruh mahkluk dari yang pertama sampai terakhir bersatu untuk mengetahui sebagian dari sifat-sifat-Nya, niscaya mereka tidak memiliki daya dan kekuatan untuk itu. Maka Mahasuci Allah Yang Mahaagung, Mahaluas, Maha Mengetahui, Maha Terpuji, Mahamulia, Maha Menyaksikan dan Maha Meliputi.

Alangkah mulianya Allah sebagai Tuhan, yang atidak ada seorang pun yang mampu menghitung pujian-Nya. Ayat ini menunjukkan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu dan kitab-Nya yang mencakup seluruh peristiwa.

Maka, sepantasnyalah kita mengucapkan, kalimat pujian, “Subhaanallaah, walhamdulillaah, walaailaaha illaah, Allaahu Akbar.”

Sidang Jumat yang berbahagia

Begitulah bahwa semua yang ada di muka bumi ini adalah makhluk Allah, ciptaan-Nya, dari yang paling besar hingga yang terkecil dan yang tak kelihatan. Ini semua tanda kekuasaan Allah Yang Maha Segalanya. Itu semua menunjukkan tanda kekuasaan Allah. Seperti firman-Nya:

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلْفُلْكِ ٱلَّتِى تَجْرِى فِى ٱلْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٍ فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلْمُسَخَّرِ بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS Al-Baqarah : 164).

Adapun pada diri kita sebagai manusia biasa, bisa jadi musibah, termasuk wabah virus corona, bisa jadi karena ulah tangan manusia. Ulah perilaku berlebihan, tidak menjaga kebersihan, ceroboh, dan sejenisnya.

Allah telah mengingatkan manusia di dalam ayat-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Ruum [30] : 41).

Di dalam Tafsir Al-Mukhtashar, Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram, dijelaskan, bahwa kerusakan di daratan dan di lautan seperti kekeringan, minimnya hujan, banyaknya penyakit dan wabah, yang semua itu bisa disebabkan kemaksiatan-kemaksiaan yang dilakukan oleh manusia. Agar manusia menerima peringatan dan mendapatkan hukuman dari sebagian perbuatan mereka di dunia. Supaya mereka bertaubat kepada Allah dan kembali kepada-Nya dengan meninggalkan kemaksiatan, selanjutnya keadaan mereka akan membaik dan urusan mereka menjadi lurus.

Pada ayat lain Allah memperingatkan :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Artinya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.” (QS Asy-Syura: 30).

Pada ayat lain disebutkan:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Artinya: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Hadid: 16).

Lihat Juga :  Khutbah Jumat:  Hidup Mencari Ridho Allah, Rasulullah Saw Teladan Kita

Sidang Jumat rahimakumullah

Adapun kemudian ada yang meninggal setelah terdampak virus corona, maka sesungguhnya kematian itu bukanlah karena seseorang atau benda apapun. Namun semata-mata karena ajal yang sudah Allah tentukan. Maka, bagi yang tertimpa wabah corona, atau apapun, tetap berharap dan bergantungnya mutlak kepada Allah.

Tidak takut berlebihan, lalu tidak mau kumpul di majelis ta’lim dengan alasan takut corona. Lalu Jumatan libur karena khawatir terjangkiti corona, tabligh akbar digagalkan, dan sebagainya.

Adapun kepada manusia, seperti periksa dokter, karantina perawatan, itu hanyalah ikhtiar, yang memang harus maksimal juga dilakukan, agar dapat sehat kembali.

Soal ajal, Allah menyebutkan di dalam firman-Nya :

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗ وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS Al-Anbiya [21]: 35).

Sisi lainnya adalah bahwa setiap penyakit, termasuk wabah virus, pasti ada obatnya. Kita manusia tinggal mengusahakanya sesuai ilmu dan pengetahuan tentunya. Dengan tetap berkeyakinan bahwa hakikatnya Allah-lah yang menyembuhkan. Pengobatan adalah usahanya. Dan memang terbukti sebagian dari yang terkena voirus corona dapat disembuhkan secara medis dan laboratorium.

Allah menyebutkan di dalam Al-Quran:

وَ إِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ

Artinya: “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” (QS Asy Syu’ara: 80).

Pada ayat lain dikatakan :

وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS Al-An’am : 17).

Untuk itu, marilah hadirin yang mulia

Marilah kita perkuat upaya spiritual ilahiyah, yakni dengan memanjatkan doa memohon keselamatan dari Allah Sang Maha Pencipta dan Sang pemberi Keselamatan. Memperkuat spiritual jiwa dengan shalat, doa, dzikrullah, shalawat dan kalimat-kalimat thayyibah.

Jika kita menghidupkan sunnah-sunnah Nabi dalam kebersihan, insya-Allah itu akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh kita dari serangan wabah penyakit. Seperti berwudhu dengan sempurna, bersiwak atau gosok gigi setiap akan shalat, mandi janabat minimal setiap Jumat sekali, mandi pagi sebelum shalat tahajud, memotong kuku, dan sebagainya.

Termasuk memanjatkan doa secara khusus, seperti doa yang dijarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, di antaranya :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، وَالجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ

Artinya : “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit kulit, gila, lepra, dan dari penyakit lain yang mengerikan.” (HR Abu Daud dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu).

Atau doa lainnya :

اللهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الغَلا وَالوَبَاء وَالرِّبا وَالزِّنا وَالزَّلازِلَ وَالمِحَنَ، وَسُوءَ الفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَما بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلادِ المُسْلِمِينَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أِرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Artinya: “Ya Allah! Angkat dari kami penyimpangan, malapetaka, zina, riba, gempa bumi, bencana, dan segala cobaan yang buruk, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, dari negeri kami ini khususnya, dan dari semua negeri kaum muslimin, dengan Rahmat-Mu, Duhai Yang Maha Penyayang.”

Kalau di antara kita ada yang mendapat musibah sakit, atau terkena virus corona, semoga segera Allah sembuhkan. Itu semua tidaklah seberapa, karena hanyalah musibah dunia.

Justru, musibah yang terbesar dan berbahaya dunia akhirat adalah musibah agama, yakni manakala kita sudah enggan lagi shalat berjamaah di masjid, malas bertadarus Al-Quran dan berat shalat malam, kikir bersedekah di jalan Allah, takut berjuang di jalan Allah, serta jauh dari petunjuk Allah. Na’udzubillaahi min dzalik.

Semoga Allah melindungi dan menyelematkan kita dari wabah virus corona dan berbagai ujian dan bencana. Aamiin. (*/Sumber:kabarmina/Ali Farkhan Tsani, Da’i Ponpes Al-Fatah Cileungsi, Bogor)

Tags
Close