SYARIAH

Khutbah Jumat : Hati-hati Sifat Munafik yang Semakin Nyata di Akhir Zaman, Mohonlah Perlindungan Allah

Oleh:
Dr. H. Syarif Husain, S.Ag. M.Si

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Dengan tiada henti-hentinya, saya selaku khatib pada kesempatan ini mengajak kepada hadirin sekalian, marilah kita bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang telah dianugerahkan Allah Swt. kepada kita.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi Muhammad Saw. beserta keluarga dan sahabatnya serta para pengikutnya yang setia dan taat kepadanya hingga yaumil akhir kelak.
Selanjutnya, saya selaku khatib pada kesempatan ini berwasiat, marilah kita tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah Swt.
dengan sebenar-benarnya takwa, berusaha untuk melaksanakan amal  kebajikan dan meninggalkan segala bentuk kemunafikan dan kesesatan.
Kaum muslimin rahimakumullah,

Judul khutbah kita kali ini, Kemunafikan Di Akhir Zaman.
Apakah memang ada perbedaan kemunafikan pada zaman Rasulullah  Saw dan generasi awal perkembangan Islam apabila dibandingkan dengan kemunafikan di akhir zaman saat ini.
Kaum muslimin rahimakumullah, Pengertian munafik perbedaan amaliah antara hati dan lisannya, atau perbedan antara yang nampak dan tersembunyi dan antara yang keluar dan masuk dari sebuah amaliah yang dilakukan oleh seseorang atau sebuah kaum. Pemaknaan munafik tersebut adalah diungkapkan
oleh seorang ulama Hasan Al-Bashri.

Di antara tanda kemunafikan itu adalah berbeda antara hati dan lisan, berbeda antara sesuatu yang tersembunyi dan sesuatu yang nampak, berbeda antara yang masuk dan yang keluar.

Apabila definisi munafik menurut ulama tersebut di atas disandingkan dengan ciri-ciri orang munafik dalam sabda Rasulullah Saw. riwayat Imam Muslim:

Diantara tanda kemunafikan itu ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji tidak menepati, jika diberi amanat dia berkhianat.
Ternyata ada unsur kesamaan makna dari tanda kemunafikan menurut Hasan Al-Bashri dengan sabda Rasululah Saw. Lantas bagaimana apabila definisi munafik tersebut dibandingkan dengan keadaan di akhir zaman saat ini?

Berdasarkan pendapat beberapa para ulama, bahwa kemunafikan umat pada saat ini lebih jelek bila dibandingkan dengan masa Rasulullah Saw dahulu. Padahal sifat munafik, sejak zaman dahulu sampai hari ini adalah jelek, hina dan tercela, bahkan pelakunya akan menempati neraka paling dasar. Sekarang ini tentu lebih jelek lagi karena kemunafikan zaman Rasulullah Saw. sangat tersembunyi dan
disembunyikan, bahkan terkesan aib seandainya kemunafikan tersebut nampak

Sedangkan pada saat ini kemunafikan dilakukan secara terang-terangan dan vulgar serta disaksikan oleh orang
banyak, dan terkesan bahwa kemunafikan yang dipublis dihadapan khalayak adalah lumrah dan umum.
Secara rinci, kemunafikan di akhir zaman atau pada masa kekinian dapat dilihat dari tanda dan gejala yang timbul, diantaranya:

Pertama. Tidak amanah dan tidak jujur.
Identitas kemunafikan seperti ini, sudah dianggap lumrah dan umum, padahal sifat yang sangat hina dan dipandang jelek. Sifat munafik ini tidak saja akan mendapatkan balasan yang sangat berat kelak di akhirat, tetapi di dunia juga akan dijauhi oleh banyak orang.
Apabila tanda kemunafikan tidak amanah dan tidak jujur itu semakin nyata dan terlihat, seakan-akan sudah tidak ada lagi manusia yang tidak munafik, maka itulah tanda kemunafikan di akhir zaman.

Lihat Juga :  Empat Hal Berbuat Baik yang Diridhai Allah (3-Selesai)

Begitu nyata dan terang-terangan. Siapakah pada saat ini orang yang masih berlaku jujur, siapakah pada saat ini yang selalu menepati janji dan dan siapakah pada saat ini yang masih melaksanakan amanahnya.
Apabila pertanyaan tersebut dikemukakan dalam kontek yang lebih luas dan kekinian, mencari pemimpin yang amanah dan jujur selalu susah dan sulit dan sangat langka. Sudah menjadi sesuatu yang biasa dan lumrah apabila seseorang yang mencalonkan diri sebagai pemimpin atau pejabat politik, dalam berkampanye menjanjikan apa saja yang akan dijalankannya, akan tetapi ketika ia terpilih ternyata semua janji tersebut hanya tinggal pepesan kosong.

Kedua, apabila tanda kemunafikan di akhir zaman tersebut dirunut kepada ranah ibadah, cirinya adalah malas dalam beribadah, berikut kita simak firman Allah dalam surat an-Nisa ayat ke-142:

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.

Ketiga, piawai berkata bijak, namun perilaku yang ditampilkan adalah kemunkaran. Umar Bin Khattab pernah mengeluarkan narasi:
Yang aku khawatirkan kepada kalian adalah orang berilmu yang munafik, para sahabat bertanya: Apakah mungkin orang berilmu melakukan kemunafikan wahai Amirul Mukminin? Ya, memungkinkan, kata Umar. Orang berilmu melakukan kemunafikan adalah apabila ia berkata dengan kata bijak dan mengandung hikmah
namun ia senang melakukan kemunkaran.

Keempat, kekhusukan dalam beribadah hanya nampak dari lahiriahnya saja. Inilah ciri kemunafikan kekikinian. Ia melakukan ibadah habya lip service atau dalam akhlak disebut ria, ujub dan sum’ah. Ria ingin dilihat, ‘ujub ingin dipuji dan sum’ah ingin di dengar.

Khusyuknya orang munafik, jasad terlihat khusyuk, namun hati tak ada kekhusyukan.
Demikian kata ulama.
Ciri kemunafikan kekinian kelima adalah malas melakukan shalat berjama’ah di masjid. Ciri kemunafikan ini diberlakukan bagi kaum laki-laki. Karena laki-laki itu seyogyanya shalat di masjid dan berjama’ah. Maka apabila laki-laki tidak mau shalat berjama’ah di masjid adalah termasuk kriteria orang munafik. Sebagaimana sabda
Rasulullah Saw:

Lihat Juga :  Ucapkan Taqobbalallahu Minna Wa Minkum Saat Hari Raya Idul Fitri, ini Maknanya

Aku telah melihat bahwa orang yang meninggalkan shalat jama’ah hanyalah orang munafik, ia adalah munafik sesungguhnya. Karena bahayanya meninggalkan shalat jama’ah sedemikian  adanya, ada seseorang sampai didatangkan dengan berpegangan pada dua orang sampai ia bisa masuk dalam shaf. (HR. Muslim).

Keenam, adalah malas merutinkan shalat Shubuh dan shalat Isya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak. (HR. Bukhari)

Kaum muslimin rahimakumullah, Dimanakah hubungan antara enggan shalat di masjid dengan ciri kemunafikan khususnya shalat Isya dan shubuh? Ternyata shalat Isya dan Shubuh akan terasa berat bagi orang munafik, karena mereka tidak bisa memamerkan amalan mereka dan mereka beralasan bahwa waktu Isya adalah waktu istirahat, dan waktu shubuh adalah waktu sedang terlelapnya tidur. Demikian kata ulama Syekh Utsaimin.

Ciri kemunafikan berikutnya adalah dapat dilihat dari cara melakukan shalatnya. Akan terlihat ketika ia sholat tidak khusyuk serta mempercepat gerakan dan bacaan sholatnya, itulah merupakan ciri orang munafik. Ciri seperti ini dapat dilihat dalam hadits

Rasulullah Saw. yang artinya: Itulah salat orang munafik. Itulah salat orang munafik. Itulah salat orang munafik. (Yaitu) dia menunggu matahari sampai hampir terbenam kemudian dia berdiri (untuk sholat asar), lalu mempercepat (tanpa ada rasa khusyuk sedikitpun) empat rakaat, tanpa mengingat Allah di dalamnya
kecuali sedikit sekali. (HR Muslim)

Kemudian ciri berikutnya orang munafik adalah mereka yang bangga terhadap dosa yang telah dilakukan, betapa pun banyak dosa yang ia dilakukan, biasanya maka orang munafik akan selalu mencari jalan keluar serta mencari-cari alasan pembenaran tindakannya.

Kaum muslimin rahimakumullah, Lalu ciri kemunafikan kekinian di akhir zaman berikutnya adalah mereka yang gemar membuat kerusakan di bumi dengan alasan untuk mengadakan perbaikan. Orang maupun kaum dengan tipe seperti ini biasanya akan sangat pandai untuk memutarbalikkan fakta dan menipu orang-orang dan kaum lainya seakan sedang mengusahakan suatu perbaikan, padahal ia telah berbuat kerusakan dan dampaknya
sudah nyata dalam kehidupan.

Perilaku seperti ini digambarkan oleh Allah Swt. dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat ke-11-12:

Dan bila dikatakan kepada mereka, Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab, Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah,sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadarinya Semoga kita selamat dari sifat kemunafikan dan dijauhkan dari kesyirikan dan berusaha untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya melalui jalan orang-orang diridhain-Nya. Amiin. (*)

Tags
Close
Close