BERITA TERKINIKELUARGA

Istilah Haram, Halal, Hantam : Topeng Kesalahan- Berwujud Pakaian Kebenaran, Jauhi…!

AsSajidin.com—-Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan banyak perawi, Nabi juga telah menjelaskan bahwa ada seseorang yang telah membeli pakaian dengan harga 10 dirham, tetapi dalam 10 dirham itu terdapat 1 dirham uang haram, maka Allah tidak akan menerima semua amalannya kecuali dia telah melepaskan pakaian itu dari tubuhnya.

Jadi hanya karena 1 durham yang haram maka seseorang tidak akan dikabulkan do’anya karena Allah hanya menerima hambanya yang suci dan baik. Inilah salah satu sebab doa ditolak oleh Allah SWT.

Dari hadist itu maka dapat disimpulkan bahwa sekecil apapun hal yang buruk atau sesuatu yang haram dapat menjadi penghalang bagi manusia untuk dekat kepada Allah dan semua amal manusia menjadi sia-sia, oleh karena itu sebagai umat muslim kita harus waspada dan lebih hati-hati dalam memilih dan melakukan sesuatu karena semua hal yang kita lakukan menjadi nilai dihadapan Allah SWT. Benarkah demikian? Hanya karena pakaian apakah dapat membatasi doa sehingga ditolak?

Berikut adalah hal-hal yang menyebabkan doa ditolak:

  1. 1. Melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ketentuan Allah
    2. Makan makanan haram baik dari fisk maupun cara memperolehnya
    3. Mendhalimi hak-hak orang lain
    4. Memakai pakaian yang didalamnya mengandung sesuatu yang haram
Lihat Juga :  Suka Bohong? ini Kerugiannya Bagi Diri Sendiri

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَلۡبِسُواْ ٱلۡحَقَّ بِٱلۡبَـٰطِلِ وَتَكۡتُمُواْ ٱلۡحَقَّ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

Artinya: “Janganlah kalian campur-adukkan antara kebenaran dan kebatilan, dan kalian sembunyikan yang benar padahal kamu mengetahuinya”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 42).

Sehubungan dengan ayat tersebut, Imam Qatadah dan Mujahid mengartikan ayat ini dengan, “Janganlah kalian campur-adukkan antara agama Yahudi dan Nasrani dengan Islam”.

Termasuk dalam kategori penjelasan ayat ini, dalam kehidupan bermasyarakat terkadang kita sering mendengar istilah ‘ haram, halal, hantam ‘. Oleh sebab itu larangan ini merupakan bagian yang besar dan serius. Karena itu Allah mengecam mereka yang mencampur-adukkan antara yang haq dan yang bathil, antara kebenaran dan kebohongan. Sebab dengan cara-cara itu dapat dipastikan dari tangan-tangan kotor mereka akan lahir sikap menghalalkan segala cara. Sebagai contoh, akhir-akhir ini kita disuguhkan dengan ulah pengemis yang ternyata kaya raya, adalagi kegiatan sosial penggalangan dana untuk pembangunan masjid namun kenyataanya fiktif. Ada pula yang berkedok rumah yatim, ternyata dihuni oleh semua anggota keluarga pengurusnya, sementara yang benar-benar yatim hanya segelintir orang saja, ini artinya sama dengan mereka menjual suara kebenaran untuk menutupi kesalahan.  Itulah yang menyebabkan hukum Allah bercampur aduk antara larangan dan suruhan.

Lihat Juga :  Seberapa Penting Silaturrahim Menurut Islam?

“Ditinjau dari sisi bahasa, kata تَلْبِسُواْ (talbisuu) bisa berasal dari kata “la-bi-sa” (memakai) atau “la-ba-sa” (mengacaukan, menyamarkan) atau “al-ba-sa” (memakaikan). Kalau dipadukan bisa menjadi: “Memakai pakaian kebenaran (al-haq) untuk menutupi tubuh aslinya yang salah (al-baahil).” Begitu nukilan kata yang disadur dari tulisan  Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency) sebagaimana dilansir dari minanews.net

Menurutnya,  orang yang membantu, setuju atau membiarkan tindakan ini disebut memakaikan pakaian kebenaran (al-haq) kepada kebatilan (al-baahil). Baik yang memakai ataupun yang memakaikan pakaian kebenaran (al-haq) kepada kebatilan (al-baahil) punya andil yang sama di dalam mengacaukan pandangan masyarakat tentang agama samawi yang benar.

 

 

Close