ALFURQON SCHOOLHALAL

Guru dalam Persfektif Islam, Mulia dan Terhormat

 Guru (dalam bahasa arab penggunaaannya dapat ditujukan kepada ustad/ustadzah) identik dengan pahlawan tanpa tanda jasa sebagaimana persfektif yang selama ini dikenal di Indonesia. Sebab jasa seorang guru melahirkan berbagai macam profesi dan menjadikan manusia mulia dan terhormat serta ber – akhlak mulia.

Oleh: Ir. Salamah Syahabudin, MP ( Guru di SIT Alfurqon Palembang )

ASSAJIDIN.com – Guru dalam Islam  di tempatkan dalam posisi yang begitu tinggi dan mulia derajatnya. Guru memiliki makna universal, bukan sebatas guru yang hanya mengajar pendidikan formal saja tetapi guru bermakna sesorang yang mengajarkan ilmu pengetahuan dan dapat menuntun kepada kebaikan seperti; guru ngaji, guru les, ustadz, kiai, bahkan seorang teman pun bisa dikatakan sebagai seorang guru.

Mengapa profesi guru sangat dimuliakan? Karena guru terikat dengan ilmu sedangkan  islam sangat amat menghargai ilmu .Dengan memiliki ilmu seseorang bisa membedakan antara yang benar dan salah. Sebagai seseorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah SWT yang mana ilmu tersebut digunakan untuk memperoleh dan menuju kebaikan baik dunia dan akhirat, guru tidak hanya sebatas menyampaikan ilmu saja, tetapi juga mendidik muridnya agar menjadi manusia beradab dan bermoral.

Dalam sebuah artikel yang duitulis, DiAjeng Juwita Ningrum ,di Kompasiana.com, 2022) , memberikan gambaran, bahwa Islam menempatkan guru sebagai profesi yang begitu mulia, karena di posisi yang berbeda islam telah mengajarkan ummat nya untuk menuntuk ilmu sejak dalam buaian ibu sampai ke liang lahat.Sehingga logika nya jika tidak ada peran atau sosok seorang guru maka kemanakah sesorang akan belajar ataupun menuntut ilmu.

Sebenarnya tingginya kedudukan guru dalam islam merupakan realisasi dalam ajaran islam itu sendiri.Islam sangat memuliakan ilmu yang didapatkan dari proses belajar mengajar antara guru dan murid.Maka tidak boleh tidak islam tidak memuliakan guru.

Guru   diyakini   menempati   posisi   kunci   dalam   pendidikan.   Guru   atau pendidik juga merupakan sosok yang akan memberi pengaruh kepada murid atau anak didiknya. Karena itu, seorang guru atau pendidik haruslah orang yang dapat digugu  dan  ditiru  sebagai   panutan   baik   dari   segi   pribadi,   ilmu   dan   tingkah lakunya.

Adapun   guru   yang   ideal   seharusnya   memiliki   kualifikasi­kualifikasi tertentu, baik menyangkut jasmani, etika atau akhlak maupun keilmuannya.

Selain   itu   walaupun   tidak   memberikan   pengertian   secara   jelas   tetapi   Al­ Zarnuji salah seorang tokoh pendidikan klasik menggambarkan bahwa seorang guru   atau   pendidik   haruslah  A’lam  (menguasai   materi),  Arwa’  (memiliki kematangan emosional) dan Al asan (berpengetahuan). Oleh karena itu dalam hal ini beliau menyarankan agar para pencari ilmu mencari guru atau pendidik yang mempunyai kualifikasi tersebut.

Guru dan Keteladanan

Sebagai sebutan untuk guru. Selain itu juga terdapat istilah yang juga berarti guru atau pendidik seperti, mudarris, muaddib, murabbiy, ustadz, Syaikh atau mursyid (sebutan   untuk   guru   tasawuf),   dan   juga  kyai.   Dalam   sejarah   peradaban  Islam klasik telah mencatat banyak istilah yang dipakai untuk kata guru.

Lihat Juga :  Sukses Menduduki Puncak Tertinggi, Ternyata Inilah Satu-satunya "Bodyguard" Petinju Legendaris Muhammad Ali

Dalam   Al­Qur’an   sebutan   untuk   guru   atau   pendidik   lebih   banyak   lagi disebutkan, seperti: al­’Alim atau Ulama, Ulul ’Ilmi, Ulul al­Bab, Ulul Abshar, al­ Mudzakir, al­Muzakki, dan al­Murabbi yang kesemuanya tersebar pada ayat­ayat al­Qur’an. Sementara dalam al­ Hadits kata pendidik antara lain disebut dengan istilah ’Alim , seperti dalam hadits yang artinya: “Jadilah orang yang ’alim (guru atau pendidik), ata u orang yang belajar, atau pendengar (ilmu), dan jangan menjadi orang yang keempat (orang 4 yang tidak memilih salah satu posisi tersebut) maka kamu akan binasa”.

Kemudian gambaran paling luas termaktif dalam firman Allah, sebagaimana tercermin dalam salah satu ayat Al-Quran;’’.. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung, (QS Ali ‘Imran ayat 104).

Ayat itu juga didukung oleh pesan Rasulullah saw. kepada Abu Darda, “Jadilah engkau sebagai orang berilmu, atau pembelajar, atau penyimak ilmu, atau pecinta ilmu. Namun jangan jadi yang kelima, niscaya engkau celaka,” (HR Al-Baihaqi).

Guru atau pendidik adalah figur orang yang mempunyai kedudukan terhormat dan juga mulia. Hal ini sebagaimana ungkapan al­Ghazali, “Makhluk yang paling mulia   di   kerajaan   langit   adalah   manusia   yang   mengetahui,   mengamalkan   dan mengajar.

Ia   seperti   matahari   yang   menerangi   selain dirinya   utamanya orang   lain…”   Dari pernyataan tersebut dapat dipahami betapa besar dan pentingnya profesi guru atau pendidik  dibandingkan dengan profesi yang lain. Pendidik menjadi perantara antara manusia, dalam hal ini anak didik­ dengan penciptanya, yakni Allah SWT. sehingga bisa   dikatakan   tugas   pendidik   sama   seperti   tugas   para   utusan   Allah.   Rasulullah, sebagai Mu’allimul Awwal fil Islam

Menurut Raziel Abelson dalam Suparman Syukur Etika Religi menjelaskan bahwa ”istilah  etika juga  sering diguna  kan dalam  tiga  perbedaan  yang saling terkait,  pertama  merupakan   pola   umum   atau   jalan   hidup,  kedua  seperangkat aturan atau “kode moral”, dan ketiga penyelidikan tentang jalan hidup dan aturan­ aturan perilaku”.

Etika   dalam   Islam   tidak   dapat   lepas   dari   ilmu   akhlak sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan agama Islam. Oleh karena itu etika dalam   Islam   dapat   dikatakan   identik   dengan   ilmu   akhlak,   yaitu   ilmu   tentang keutamaan­keutamaan dalam mengajarklan ilmu kepada anak murid.(Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 29). 

Derajat Kemuliaan Guru

Di mana ada anjuran, pasti ada keutamaan. Demikian halnya anjuran menjadi orang yang berilmu. Berikut adalah ayat-ayat yang menyebutkan keutaman orang-orang berilmu. Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian), (QS, Ali ‘Imran ayat 18).

Perhatikanlah ayat ini. Allah menyandarkan pernyataan-Nya kepada diri-Nya, kemudian kepada para malaikat, dan kepada orang-orang berilmu. Cukup mulialah  mereka yang disandingkan dengan yang mulia, apalagi Yang Maha Mulia. Ayat yang cukup populer dan mengangkat kedudukan orang berilmu adalah, ‘Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, (QS. Al-Mujadilah ayat 11).

Betapa mulianya seorang guru, sebagaimana digambar dalam pandangan Islam. Para ahli dan ilmuwan Islam, begitu juga Firman Allah dalam Al Quran dan Hadist Rasulullah SAW, mengemukakan keutaman menghormati guru, karena ahlak dan keteladanan mereka dalam ilmu. Mereka bahkan ditingkatkan derajatnya ketimbang orang-orang yang tidak memiliki ilmu.

Lihat Juga :  Soft Tennis Sumbang Satu Perak dan Dua Perunggu

Ibnu ‘Abbas sebagaimana dituls Tatam Wijaya, dalam laman¸ https://islam.nu.or.id/ menggambarkan bahwa , “Orang-orang yang berilmu memiliki kedudukan tujuh ratus derajat di atas orang-orang mukmin.” Sebab, keunggulan mereka salah satunya karena takut kepada Allah, Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang yang berilmu(ulama), (QS Fathir ayat 28).

‘’Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu pengetahuan, (QS An-Nahl [16-34). Masih banyak lagi ayat yang menunjukkan kedudukan dan keutamaan mereka.  Sementara dalam hadits, kedudukan dan keutamaan orang berilmu dapat kita jumpai dalam puluhan, bahkan mungkin ratusan sabda Rasulullah saw.

Antara lain adalah, “Para ulama itu pewaris para nabi.” Bayangkan, betapa tingginya kedudukan orang berilmu, hingga menyandang gelar sebagai pewaris para nabi. Sedangkan tidak ada kedudukan yang lebih tinggi di atas para nabi dan rasul. Keunggulan lainnya adalah orang berilmu juga dimintakan ampunan oleh semua yang ada di langit dan bumi. Di antaranya oleh para malaikat.

Bahkan, dalam hadits lain, disebutkan, “Siapa saja yang dikehendaki Allah menjadi orang baik, maka ia mulai diberi pemahaman dalam urusan agama (ilmu).” Kemudian kematian mereka dianggap sebagai duka yang sangat mendalam, bahkan menjadi pertanda kian dekatnya hari Kiamat, “Di antara pertanda Kiamat adalah hilangnya ilmu.” (HR. Abu Dawud).

 

Sebagai orang yang merintis dan mengajak kebaikan, guru dan orang berilmu juga berhak mendapat balasan sebagaimana yang digambarkan dalam sabda Rasulullah saw., “Siapa saja yang menempuh jalan kebaikan, maka dia mendapat pahalanya, sekaligus pahala orang yang turut mengikutinya, tanpa mengurangi pahala  mereka sedikit pun,” (HR. Ibnu Abi Syaibah). “Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk kepada satu orang berkat ajakanmu maka itu jauh lebih baik (bagimu) daripada kekayaan paling berharga,” (H.R. al-Bukhari dan Muslim).  Di akhirat, orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya juga mendapat perlakuan istimewa dibanding yang lain. Salah satunya masuk surga tanpa hisab.   Hadits riwayat Ibnu ‘Abdil Barr juga menyatakan, “Pada hari Kiamat, tinta orang-orang yang berilmu ditimbang dengan darah para syuhada.” Sementara menurut hadits lain, golongan yang diberi kesempatan memberikan syafaat, di samping para nabi dan para syuhada, adalah orang-orang berilmu.(diriwayatkan Ibnu Majah).

Masya Allah demikian kemuliaan dan keutamaan guru dan orang berilmu di mata Allah dan rasul-Nya.  Kepada para guru, semoga Allah membalas setiap tetes keringatmu dan desah nafasmu dengan pembalasan yang berlipatganda, sebagaimana janji Allah.(*)

 

Also Read
Close
Back to top button