HAJI & UMROH

Belum Ada Kesempatan Umrah dan Haji, ini Amalan yang Pahalanya Setara dengan ke Tanah Suci

ASSAJIDIN.COM — Berangkat ke Tanah Suci untuk ibadah Haji dan Umrah adalah impian umat Islam. Selain bagian dari rukun Islam kelima, haji merupakan kewajiban yang sangat berpahala. Sayangnya tidak semua umat Muslim bisa berangkat melaksanakannya.

Kalaupun mampu ada kendala lain, pandemi Covid 19 global yang dialami sekarang misalnya. Jutaan umat muslim dunia terhalang ke Tanah Suci.

Jangan sedih semua ini kehendak Allah SWT. Kini umroh sudah mulai dibuka tapi antreannya panjang..butuh kesabaran lagi untuk bisa melaksanakan ibadah tersebut di tengah pandemi yang masih berisiko mewabah.

Nah, amalan yang berpahala setara Haji dan Umrah ini bisa sedikit menenangkannya. Intinya adalah teruslah berbuat baik dan bermanfaat untuk orang lain.

Islam selalu memudahkan, seperti Islam memudahkan untuk mendapat pahala setara Haji dan Umrah tanpa harus ke Baitullah. Bahkan, amalan yang pahalanya setara Haji dan Umrah ini juga tidak sesulit yang dibayangkan. Kebanyakan umat Muslim sudah sering sekali mengamalkannya.

Meski ada amalan yang pahalanya setara Haji dan Umrah, umat Muslim tetap harus berniat ke Baitullah. Benar-benar menginjakkan kaki di rumah Allah. Mengunjungi makan Rasulullah, akan lebih membuatmu semakin bertaqwa kepada Allah SWT.

Berikut ulasan amalan yang pahalanya setara haji dan umrah dari berbagai sumber, Kamis (4/6/2021).

Amalan yang pahalanya setara Haji dan Umrah yakni ketika umat Muslim menuju masjid dalam keadaan suci. Suci dari hadas kecil dan suci dari hadas besar. Termasuk bagi mereka yang sudah berwudu sebelum berangkat salat berjemaah di masjid.

Begitu juga bagi mereka yang hendak salat sunnah di masjid dan menuntut ilmu di masjid. Amalan ini bisa juga bermakna ketika menuntut ilmu selain di masjid. Sebab, saat zaman Rasulullah SAW, masjid adalah tempat bagi umat menuntut Ilmu.

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لاَ يُنْصِبُهُ إِلاَّ إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ وَصَلاَةٌ عَلَى أَثَرِ صَلاَةٍ لاَ لَغْوَ بَيْنَهُمَا كِتَابٌ فِى عِلِّيِّينَ

“Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci menuju salat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji. Barangsiapa keluar untuk salat Sunnah Duha, yang dia tidak melakukannya kecuali karena itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang berumrah.” (HR Abu Daud).

Ternyata melaksanakan salat fardu lima waktu berjemaah di masjid termasuk amalan yang pahalanya setara Haji dan Umrah. Amalan ini sangat bisa mendekatkan seorang hamba kepada Tuhannya. Memakmurkan masjid dengan terus berupaya mendatanginya. Selain setara dengan pahala Haji dan Umrah, selalu salat fardu berjemaah di masjid juga begitu berlimpah pahalanya.

Ada dua hadits Rasulullah yang bisa menguatkannya, yakni:

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَشَى إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ فِي الجَمَاعَةِ فَهِيَ كَحَجَّةٍ وَ مَنْ مَشَى إِلَى صَلاَةٍ تَطَوُّعٍ فَهِيَ كَعُمْرَةٍ نَافِلَةٍ

“Siapa yang berjalan menuju salat wajib berjemaah, maka ia seperti berhaji. Siapa yang berjalan menuju salat sunnah, maka ia seperti melakukan umrah yang sunnah.” (HR. Ath-Thabrani)

Lihat Juga :  Musim Haji 2021, Arab Saudi Akhirnya Putuskan Jemaah Haji Hanya untuk Domestik dan Ekspatriat

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لاَ يُنْصِبُهُ إِلاَّ إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ وَصَلاَةٌ عَلَى أَثَرِ صَلاَةٍ لاَ لَغْوَ بَيْنَهُمَا كِتَابٌ فِى عِلِّيِّينَ

“Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci menuju salat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji. Barangsiapa keluar untuk salat Sunnah Duha, yang dia tidak melakukannya kecuali karena itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang berumrah. Dan (melakukan) salat setelah shalat lainnya, tidak melakukan perkara sia-sia antara keduanya, maka pahalanya ditulis di ‘illiyyin (kitab catatan amal orang-orang salih).” (HR. Abu Daud)

Salat Isyraq termasuk amalan yang pahalanya setara ibadah Haji dan Umrah. Amalan salat ini di awali dengan salat Subuh berjemaah di masjid. Setelah itu, dianjurkan untuk tetap berzikir di dalam masjid sampai waktu salat Duha tiba. Tepatnya ketika matahari telah terbit. Terakhir dirikanlah salat Duha di awal waktu.

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang mengerjakan salat Subuh dengan berjemaah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan salat Sunnah Duha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumrah secara sempurna.” (HR. Ath-Thabrani)

Salat Sunnah di Masjid

Melaksanakan salat sunnah di masjid semata karena Allah SWT termasuk amalan yang pahalanya setara ibadah Umrah. Jika dalam hadits hanya dijelaskan melaksanakan salat Duha, sebenarnya salat sunnah lain juga lebih baik didirikan.

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لاَ يُنْصِبُهُ إِلاَّ إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ وَصَلاَةٌ عَلَى أَثَرِ صَلاَةٍ لاَ لَغْوَ بَيْنَهُمَا كِتَابٌ فِى عِلِّيِّينَ

“Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci menuju salat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji. Barangsiapa keluar untuk salat Sunnah Duha, yang dia tidak melakukannya kecuali karena itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang berumrah.” (HR Abu Daud).

Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu atau menghadiri majelis ilmu juga bagian dari amalan yang pahalanya setara ibadah Haji. Apalagi jika tujuan menuntut ilmunya tentang ilmu yang sudah pasti bermanfaat. Serta tujuannya untuk bekal ilmu di dunia dan di akhirat.

Pada zaman Rasulullah SAW tempat terbaik menuntut ilmu adalah di masjid. Sebab, sekolah juga masih dilaksanakan di masjid. Berbeda dengan keadaan umat sekarang, sudah ada sekolah. Namun, menuntut ilmu di masjid juga akan sangat dianjurkan jika bisa dilakukan.

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala Haji yang sempurna Hajinya.” (HR. Ath-Thabrani)

Lihat Juga :  Indeks Kepuasan Jemaah Haji 2017 Terbaik dalam Kurun Waktu 10 Tahun, ini Indikatornya

Meski belum mampu melaksanakan ibadah Haji, berniat melaksanakan haji sangat dianjurkan. Sebab, tekad yang sangat kuat untuk berhaji akan dicatat pahala sama ketika berhaji. Terutama bagi umat Muslim yang sudah mendaftar ibadah Haji tetapi justru sudah dipanggil oleh Allah SWT.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu ia berkata ketika perang tabuk kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau bersabda:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى غَزَاةٍ فَقَالَ « إِنَّ بِالْمَدِينَةِ لَرِجَالاً مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلاَّ كَانُوا مَعَكُمْ حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ »

“Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang yang tidak ikut melakukan perjalanan perang, juga tidak menyeberangi suatu lembah, namun mereka bersama kalian (dalam pahala). Padahal mereka tidak ikut berperang karena mendapatkan uzur sakit.” (HR. Muslim)

 

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada wanita:

مَا مَنَعَكِ أَنْ تَحُجِّى مَعَنَا

“Apa alasanmu sehingga tidak ikut berhaji bersama kami?”

Wanita itu menjawab, “Aku punya tugas untuk memberi minum pada seekor unta di mana unta tersebut ditunggangi oleh ayah fulan dan anaknya. Ia meninggalkan unta tadi tanpa diberi minum, lantas kamilah yang bertugas membawakan air pada unta tersebut.

Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ

“Jika Ramadan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadan senilai dengan haji.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk selalu berbakti kepada kedua orang tua. Berbuat baik kepada kedua orang tua bahkan termasuk amalan yang pahalanya setara Haji dan Umrah. Amalan ini akan semakin besar nilai pahalanya jika dimaksimalkan ketika orang tua masih hidup di dunia.

Meski sebenarnya ketika orang tua sudah tidak ada di dunia, bisa dengan terus mendoakan kebaikan untuk mereka. Kemudian memenuhi janji mereka, selalu menjalin silaturahmi dengan keluarga, memuliakan teman mereka, dan bersedekah atas nama mereka.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنِّي أَشْتَهِي الْجِهَادَ وَلا أَقْدِرُ عَلَيْهِ ، قَالَ : هَلْ بَقِيَ مِنْ وَالِدَيْكَ أَحَدٌ ؟ قَالَ : أُمِّي ، قَالَ : فَأَبْلِ اللَّهَ فِي بِرِّهَا ، فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ فَأَنْتَ حَاجٌّ ، وَمُعْتَمِرٌ ، وَمُجَاهِدٌ ، فَإِذَا رَضِيَتْ عَنْكَ أُمُّكَ فَاتَّقِ اللَّهَ وَبِرَّهَا

“Ada seseorang yang mendatangi Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia sangat ingin pergi berjihad namun tidak mampu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya padanya apakah salah satu dari kedua orang tuanya masih hidup. Ia jawab, ibunya masih hidup. Rasul pun berkata padanya, “Bertakwalah pada Allah dengan berbuat baik pada ibumu. Jika engkau berbuat baik padanya, maka statusnya adalah seperti berhaji, berumrah dan berjihad.” (HR. Ath-Thabrani). (*/Sumber: liputan6.com)

Tags
Close
Close