KALAM

Muslim-Muslimah, Tetaplah Istiqamah Setelah Ramadan Berlalu

ASSAJIDIN.COM –RAMADAN baru saja berlalu meninggalkan kita. Sebulan penuh kita bergelayut di dalamnya.

Beragam aktivitas kita lakukan.
Mulai dari rela bangun sahur dini hari, menyiapkan santap sahur bagi para bunda, rela bangun meski ngantuk yang dirasakan anak-anak, ibadah malam yang tak putus oleh par ayah dan sebagainya.
Puasa Ramadan juga kita jalani selama satu bulan itu, menahan lapar, haus, menahan nafsu, menahan emosi dan sebagainya.

Ibadah lain pun kita jalani, menunaikan kewajiban zakat mal, zakat fitrah, infak dan sadaqah dan ibadah lainnya yang (mungkin) tidak bisa kita sebutkan satu per satu.

Alhamdulillah kita telah melewati semua itu dan merasakan kesenangannya di hari raya nan fitri.

Lantas, bagaimana status ibadah dan amal shalih kita pasca Ramadan? Apakah kita tetap istiqamah dalam melakukan ibadah dan amal shalih seperti yang kita lakukan selama Ramadan itu?

Sejauh mana Ramadan kali ini memberi kesan dan pengaruh terhadap perilaku kita?

Sejatinya pasca Ramadan kita diharapkan istiqamah, mampu dan terbiasa dengan melakukan berbagai aktivitas ibadah dan amal shalih untuk hari-hari pasca Ramadhan selama sebelas bulan berikutnya, baik berupa amalan wajib maupun sunnat. Karena Ramadan adalah bulan tarbiyah. Ramadan telah mendidik dan mentraining kita secara fulltime 30 hari berturut-turut untuk melakukan ibadah puasa dan lainnya. Tujuannya yaitu untuk menjadi insan yang bertaqwa sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala jelaskan dalam al-Quran (al-Baqarah: 183). Inilah keutamaan Ramadan yang disediakan Allah Subhanahu Wata’ala sebagai sarana untuk menjadi orang yang bertakwa.

Jika Ramadan yang telah berlalu ini dapat memberikan bekas dan pengaruh kepada kita dalam kehidupan kita sehari-hari pasca Ramadan yaitu dengan ditandai semakin baik perilaku, amal shalih dan ibadah kita, maka sukseslah kita dalam training dan ujian untuk memperoleh gelar taqwa tersebut dan beruntunglah kita.
Namun sebaliknya, jika Ramadan tidak membekas dan berpengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari, maka gagallah kita dalam training dan ujian tersebut dan merugilah kita. Maka, kesuksesan Ramadan kita sangatlah tergantung dengan kuantitas dan kualitas ibadah kita pada bulan-bulan berikutnya setelah Ramadan.

 

Sungguh Ramadan telah memberikan pembelajaran yang banyak terhadap kepribadian seorang muslim dalam rangka melahirkan insan yang bertakwa dan berkarakter islami.

Lihat Juga :  Kilang Pertamina Plaju Kampanyekan Keselamatan Kerja

Banyak pembelajaran yang dapat kita peroleh dari bulan Ramadhan untuk diimplementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari pasca Ramadan. Di antaranya adalah:

Pertama, semangat beribadah dan beramal shalih. Ramadan telah mendidik dan melatih kita untuk semangat beribadah dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Maka, pasca Ramadan ini sejatinya kita mempertahankan kualitas dan kuantistas ibadah dan amal shalih itu. Karena ibadah dan amal shalih itu tidak hanya disyariatkan untuk bulan Ramadan saja, tapi sesungguhnya diperintahkan sepanjang masa selama kita hidup di dunia yang fana ini. Inilah tugas utama kita di dunia sebagai makhluk Allah sesuai dengan firman-Nya:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ (٥٦)

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS: Az-Zariyat: 56).

Bahkan kita diperintahkan Allah Subhanahu Wata’ala untuk berlomba dalam kebaikan setiap saat, bukan hanya pada bulan Ramadhan. Allah berfirman, “…Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan..” (Al-Baqarah: 148)

Kedua, menjaga diri dari maksiat. Ramadan telah mendidik dan melatih kita bagaimana mengendalikan diri dari hawa nafsu dan maksiat lewat ibadah puasa. Pada waktu berpuasa kita dituntut untuk menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri dan hal-hal yang membatalkan puasa lainnya.
Jika hal-hal yang mubah seperti makan, minum dan hubungan istri dilarang pada waktu berpuasa, maka terlebih lagi hal-hal yang diharamkan. Dengan demikian kita dilatih untuk menjauhi hal-hal yang diharamkan. Maka puasa itu dapat menjaga diri dari maksiat. Inilah salah satu maqashid syariah dari ibadah puasa sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Saw dengan sabdanya, “Puasa itu perisai (penahan diri dari maksiat)”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka, sudah sepatutnya setelah Ramadan kita mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu dan maksiat baik berupa perkataan seperti ghibah, mencaci maki, menipu, menfitnah dan sebagainya, maupun perbuatan seperti mencuri, korupsi, memukul, membunuh dan sebagainya. Pasca Ramadhan ini diharapkan kita menjadi orang yang shalih. Hal ini tercermin dari perilaku kita yang semakin baik dari sebelumnya.

Ketiga, suka membantu orang lain. Ramadan telah mendidik dan melatih kita untuk membantu saudara kita yang lemah ekonominya lewat infak, shadaqah dan zakat. Amal shalih tersebut sangat digalakkan pada bulan Ramadan. Maka, pasca Ramadan kita diharapkan terbiasa dengan membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan pertolongan kita dan terjepit ekonominya. Kebiasaan berinfak pada bulan Ramadhan perlu dipertahankan dan dilanjutkan pada bulan lainnya.

Lihat Juga :  Mantan Narapidana Terorisme Buka Bersama Jajaran Polda Sumsel

Mengenai keutamaannya, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman;

وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٍ۬ فَلِأَنفُسِڪُمۡ‌ۚ

“Dan apa saja yang kamu nafkahkan (dijalan Allah), maka pahalanya itu untuk kalian sendiri…” (QS: Al-Baqarah: 272).

Nabi Shalalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Setiap hari, dua malaikat turun kepada seorang hamba. Salah satunya berdoa, “Ya Allah, berikanlah pengganti kepada orang yang berinfak. Dan yang lain berdoa, “Ya Allah, hilangkan harta orang yang menolak infak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi Shalalallahu ‘Alaihi Wassallam juga bersabda, “Allah Swt menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya”. (HR. Muslim)

Keempat, suka mengasihi dan mencintai saudara seiman. Ramadhan telah mendidik dan melatih kita untuk berempati dan peduli terhadap orang fakir dan miskin. Melalui puasa Ramadhan kita dapat merasakan kondisi orang-orang yang kelaparan dan bagaimana penderitaan hidup orang fakir dan miskin yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

 

Pentingnya terus istiqamah di jalan Allah

Surat Al Ahqaf ayat 13 selengkapnya:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Arab-Latin:
Innallażīna qālụ rabbunallāhu ṡummastaqāmụ fa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn

Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.

Almarhum Buya Syakur dalam tausiah singkatnya di media sosial mengatakan istiqamah di jalan Allah yang berlangsung terus menerus dan bukan hanya sesaat adalah utama dan lebih utama.

Istiqamah di jalan Allah maksudnya adalah bagi orang yang komitmen, ajeg, konsisten, komitmen, tidak mencla mencle atas apa yang menjadi aturan Allah, mengabdi kepada Allah dan sebagainya.

Istiqomah adalah usaha untuk selalu menjaga perbuatan baik di jalan Allah SWT secara konsisten dan tidak berubah.

Wallahualam bishawabi. (novi amanah/berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button