MOZAIK ISLAM

Bagaimana Islam Memandang Tradisi Ruwahan?

ASSAJIDIN.COM — Bagaimana Islam memandang tradisi ruwahan?

Sedekah atau bahasa Arabnya Shodaqoh sangat dianjurkan di dalam agama Islam, baik ketika

orang masih hidup, maupun setelah meninggal, karena bagi yang akan meninggal Allah SWT masih memberi peluang baginya untuk berwasiat, dan wasiatnya dilaksanakan oleh ahli warisnya.

 

Menurut Buya Drs H Syarifuddin Yakub Terhadap keluarga yang sudah meninggal dunia, maka bagi ahli warisnya dan keluarganya disunnahkan untuk memohon ampunan buat almarhum dan almarhumah
.

Beberapa Hadits Nabi Muhammad SAW. bersabda:

1. “Oleh karena itu, hajikanlah dia” (HR. Daruquthni).

2. Artinya: “Sesungguhnya sedekah itu meredam panasnya kubur keluarganya (yang sudah mati), dan bahwasanya orang-orang mukmin pada hari kiamat bernaung dengan naungan sedekahnya”. (HR.At Tabrani).

3. Artinya:
“Bahwasanya seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, kami bersedekah untuk keluarga kami yang sudah mati, dan kami menghajikan mereka (badal haji) dan mendo’akan mereka, apakah semuanya itu sampai (pahalanya) kepada mereka?”. Rasulullah saw. menjawab: “ya sesungguhnya semua itu sampai kepada mereka, dan sesungguhnya mereka gembira apabila kalian memberikan hadiah kepadanya”. (Al Hadits)

Lihat Juga :  Program Peremajaan Rumah Tidak Layak Huni akan Terus Dilanjutkan

4. Bahkan menurut Ibnu Abbas ra. sedekah tersebut dibutuhkan oleh arwah orang-orang mati pada hari dan malam tertentu.

Artinya:

“Seperti dikatakan Ibnu Abbas ra.: “Apabila hari raya, hari ‘asyuro, hari Jumat, awal bulan Rajab, malam nisfu sya’ban, dan malam Lailatul qodar, malam Jumat arwah orang-orang mati keluar dari kubur mereka dan berhenti di hadapan pintu rumah mereka dan mereka berkata; kasihanilah kami pada malam yang penuh barokah ini dengan sedekah atau (kalau tidak banyak) segenggam, karena kami sangat membutuhkan sedekah tersebut. Maka jika kamu bakhil, tidak mau bersedekah dengan materi, maka ingatkan kami dengan Al-Fatihah…” (Ibnu Abbas, daqo’ikul Akbar 1980:18)

.

Dikutip dari chanel Youtube Buya Yahya, kegiatan mendoakan orang yang sudah meninggal juga kegiatan yang sangat dianjurkan. Buya Yahya menjelaskan bahwa tradisi mendoakan pendahulu kita yang sudah meninggal merupakan tradisi yang baik.

Lihat Juga :  Jauhi Sikap Tergesa-gesa

Dari Ummu Darda’, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doaa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: “Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim no. 2733).

Buya Yahya juga menekankan bahwa kita bisa mendoakan orang yang sudah meninggal kapan saja, tidak tergantung pada waktu tertentu. Sebaiknya, kita terus mendoakan orang yang sudah meninggal di setiap waktu. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button