KALAM

Abu Hurairah, Ulama dan Perawi Hadist  yang Dijuluki Bapaknya Kucing oleh Rasulullah SAW 

ASSAJIDIN.COM — Pada tahun ke 7 Hijriyah ketika Rasulullah berangkat menuju Khaibar. Ketika itu, ibunya belum menerima Islam bahkan menghina Rasulullah SAW.

Abu Hurairah akhirnya menemui Rasulullah, meminta beliau berdoa agar ibunya masuk Islam.

Kemudian Abu Hurairah kembali menemui ibunya lalu mengajaknya masuk Islam. Akhirnya, ibunya pun bersedia masuk Islam.

Nama beliau sebelum memeluk Islam tidaklah diketahui dengan jelas, tetapi pendapat yang masyhur adalah Abdusy Syam.

Sedangkan nama Islamnya yaitu Abdur-Rahman.

 

Anak Kucing

Nama Abu Hurairah sendiri diberikan padanya karena beliau gemar bermain dengan anak kucing.

Semasa kecil, beliau diperintahkan untuk mengembala beberapa ekor kambing milik keluarganya.

Di sela-sela mengembala kambing, Abu Hurairah selalu bermain dengan kucing kecil di saat siang hari.

Dan jika malam sudah tiba, kucing tersebut diletakkan di atas pohon lalu beliau pun pulang ke rumahnya.

Kebiasaan ini berjalan terus-menerus hingga teman sebayanya memanggil beliau dengan nama Abu Hurairah yang memiliki arit “si pemilik kucing kecil”.

Suatu hari, kucing itu mengeong hingga terdengar oleh Rasulullah SAW.

Beliau pun bertanya, “Apa itu wahai Abdu Syams?”

“Anak kucing yang aku temukan ya Rasulallah”, jawabnya.

Baiklah, maka engkau adalah Abu Hurairah (Bapak kucing kecil). Semenjak kejadian itu, beliau selalu dipanggil dengan sebutan nama Abu Hurairah.

 

Tahun ke Tujuh Hijriyah

Abu Hurairah mulai memeluk agama Islam pada tahun ketujuh Hijriyah atas ajakan ath-Thufail bin Umar ad-Dusi.

Dia menjadi satu-satunya orang yang kala itu menerima dakwah Islam yang disampaikan ath-Thufail kepada kabilah Dus.

Sebelum Abu Hurairah masuk Islam, di kabilah Dus semula hanya ath-Thufail dan istrinya yang menganut ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Saat Abu Hurairah dan ath-Thufail menemui Rasulullah SAW, Abu Hurairah dikisahkan berkata, “hancurlah kabilah Dus.”

Namun, saat mendengar ucapan tersebut, Rasulullah justru memanjatkan doa, “Ya Allah, berilah hidayah kabilah Dus.”

Lihat Juga :  Alhamdulillah... Dua Santri Harumkan Indonesia, Menangi Persaingan 80 Negara di Ajang Musabaqoh Hafalan Quran di Arab Saudi

 

Ulama dari Sahabat Nabi

Abu Hurairah adalah salah satu ulama dari kalangan sahabat nabi dan paling utama di antara mereka.

Sahabat ini selalu mengikuti ke mana pun Nabi Muhammad SAW pergi. Hal itu membuatnya mendapat banyak ilmu dari Nabi.

Walhasil, banyak para sahabat lainnya yang menjadikan Abu Hurairah sebagai rujukan fatwa dan juga pengambilan riwayat.

Para sahabat itu di antaranya adalah Zaid bin Tsabit, Abu Ayub al-Anshari, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Ubai bin Ka’ab, Jabir bin Abdillah, sayyidah Aisyah, al-Masur bin Makhramah, Abu Musa al-Asy’ari, Anas bin Malik, Abu Rafi’, dan lainnya.

Diriwayatkan oleh HR Ibnu Majah, pada suatu ketika Rasulullah SAW memperhatikan Abu Hurairah.

Beliau kemudian bersabda, “Wahai Abu Hurairah, jadilah kamu orang yang waro’ (berhati-hati), niscaya kamu akan menjadi paling ahli ibadahnya manusia.” (HR Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

 

Ahli Shuffah

Abdurrahman bin Shakr ad-Dusi atau yang lebih kesohor dengan sebutan Abu Hurairah juga dikenal sebagai salah satu ahli shuffah, yaitu orang-orang miskin atau sedang menuntut ilmu yang tinggal di halaman masjid.

Pada suatu hari, diceritakan bahwa Abu Hurairah duduk di pinggir jalan di mana orang-orang berlalu-lalang.

Waktu itu, beliau melihat Abu Bakar berjalan, lalu beliau meminta agar dibacakan satu ayat Al Quran.

“Saya bertanya begitu supaya beliau mengajakku ikut dengannya dan memberiku pekerjaan”, kata Abu Hurairah.

Akan tetapi Abu Bakar hanya membacakan ayat Al Quran, kemudian pergi.

Lalu Abu Hurairah melihat Umar bin Khattab dan berkata “Tolong ajari saya ayat Al Quran”.

Namun beliau kembali kecewa karena Umar bin Khattab melakukan hal yang sama dengan oleh Abu Bakar.

Hingga tak lama kemudian, datanglah Rasulullah SAW.

Nabi tersenyum, Abu Hurairah berkata dalam hatinya, “Beliau tahu apa isi hati saya dengan tepat, beliau bisa membaca raut muka saya dengan tepat.”

Lihat Juga :  Ihsan itu Akan Meninggikan Derajat Kemuliaan Diri

Nabi pun memanggil “ya aba Hurairah!”

Abu Hurairah menjawab “Labbaik, ya Rasulullah!”.

Lalu Rasulullah berkata, “Ikutilah aku!” Rasul pun mengajak ke rumahnya.

Ketika berada di dalam rumah, Rasulullah SAW mendapati ada semangkuk susu.

“Darimana datangnya susu ini?” tanya Rasulullah.

Ternyata ada seseorang yang telah memberikan susu itu.

Rasulullah akhirnya meminta tolong Abu Hurairah untuk memanggilkan ahli suffah.

Susu tadi pun dibagikannya kepada ahli suffah, termasuk Abu Hurairah.

Sejak itulah, beliau mengabdi kepada Rasulullah SAW dan bergabung dengan ahli suffah di masjid.

 

Periwayat Hadist 

Abu Hurairah merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling banyak meriwayatkan hadis dengan total mencapai 5.374 buah.

Hal ini karena beliau mendampingi Rasulullah selama 3 tahun, tepatnya sejak dirinya memeluk Islam.

Abu Hurairah berkata, “…….sesungguhnya saudara kami dari golongan muhajirin sibuk dengan urusan mereka di pasar dan orang-orang Anshar sibuk bekerja di ladang mereka.

Sementara aku seorang yang miskin senantiasa bersama Rasulullah di mil’i batni.

Aku hadir di majelis yang mereka tidak hadir dan aku hafal pada saat mereka lupa.” (Hadits Riwayat Bukhari).

Awalnya, beliau mempunyai ingatan yang lemah, lalu dirinya mengadu kepada Rasulullah.

Rasulullah lalu mendoakannya agar diberi daya ingat yang kuat.

Usai peristiwa itu, beliau memiliki daya ingat yang kuat sehingga mampu meriwayatkan banyak hadis, bahkan menjadi sosok yang meriwayatkan hadis terbanyak di kalangan para sahabat Rasulullah.

 

Wasiat Rasulullah SAW

“Dari Abu Huarairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda :

“Kekasihku (Rasulullah ﷺ ) mewasiatkan kepadaku untuk puasa tiga hari setiap bulan, mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat, dan melakukan shalat witir sebelum tidur.” (HR Bukhari dan Muslim)

 

Jatuh Sakit

Pada tahun 678 Masehi atau 57 Hijriyah, Abu Hurairah jatuh sakit, meninggal dunia di Madinah, dimakamkan di Jannatul Baqi.

 

(Dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button