MOZAIK ISLAM

Inilah Gambaran Shiratal Mustaqim dalam Ayat Al-Qur’an dan Hadits

AsSAJIDIN.COM – Shiratal Mustaqim disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Jembatan atau jalan inilah yang akan dilewati semua manusia di hari akhir.
Dikutip dari buku Menuju Shiratal Mustaqim oleh Syaikh Dr. Bisyr bin Fahd AI-Bisyr, kata As Shirathul Mustaqim disebut di banyak
ayat dalam Al-Qur’an. Umat muslim diwajibkan untuk mengikuti Shiratal Mustaqim dan bahkan Allah SWT menganjurkan setiap muslim untuk meminta hidayah agar bisa menggapai Shiratal Mustaqim.

Menurut Ar Raghib Al Asfahani, As Shirath berarti jalan yang dimudahkan. Ulama lain mengatakan bahwa Shiratal Mustaqim berarti jalan yang dilalui.
Adapun Al Mustaqim, maknanya adalah yang tidak bengkok dan cacat.

Ayat Al-Qur’an tentang Shiratal Mustaqim
Allah SWT menyebutkan kata As Shirathal Mustaqim dalam banyak firman-Nya, dan menegaskan bahwa Dia Yang Maha Agung berada di atas As Shirathal Mustaqim, sebagaimana firman-
Nya dalam Surat Hud ayat 56:

إِنِّى تَوَكَّلْتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّى وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌۢ بِنَاصِيَتِهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Arab-Latin: Innī tawakkaltu ‘alallāhi rabbī wa rabbikum, mā min dābbatin illā huwa ākhiżum bināṣiyatihā, inna rabbī ‘alā ṣirāṭim mustaqīm

Artinya: Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus”.

Adanya jembatan Shiratal Mustaqim juga dijelaskan Allah SWT dalam surat Al Fatihah ayat 6:

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

Arab latin: ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm

Artinya: Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Hadits Shiratal Mustaqim
Dalam haditsnya, Rasulullah SAW juga memberi gambaran tentang jembatan Shiratal Mustaqim. Hadist ini diceritakan Abu Sa’id al-Khudriy,

بَلَغَنِي أَنَّ الْجِسْرَ أَدَقُّ مِنَ الشَّعْرَةِ وَ أَحَدُّ مِنَ السَّيْفِ

Lihat Juga :  Memahami Arti Zuhud, Macam-macam Zuhud, Sifat Terpuji yang Disukai Allah

Artinya: “Aku diberitahu bahwa jembatan itu lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang.” (HR Muslim).

Gambaran lain tentang jembatan Shiratal Mustaqim juga disebutkan dalam hadits berikut:

وَيُضْرَبُ جِسْرُ جَهَنَّمَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُ وَدُعَاءُ الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ وَبِهِ كَلَالِيبُ مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ أَمَا رَأَيْتُمْ شَوْكَ السَّعْدَانِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهَا مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ غَيْرَ أَنَّهَا لَا يَعْلَمُ قَدْرَ عِظَمِهَا إِلَّا اللَّهُ فَتَخْطَفُ النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ رواه البخاري

Artinya: Dan dibentangkanlah jembatan di atas permukaan Jahanam. Akulah orang pertama yang melewatinya. Doa para rasul pada saat itu: “Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.” Pada shirath itu, terdapat pengait-pengait seperti duri pohon Sa’dan. “Pernahkah kalian melihatnya?” Para sahabat menjawab, “Pernah, wahai Rasulullah.” Maka ia seperti duri pohon Sa’dan, tiada yang mengetahui ukuran besarnya kecuali Allah SWT. Ia menempatkan manusia sesuai dengan amalan mereka. (HR Bukhari).

Pada hakikatnya, Shiratal Mustaqim adalah satu yaitu jalan Allah SAW yang dipancangkan untuk hamba-Nya yang menghubungkan kepada- Nya. Tidak ada jalan lain untuk sampai kepada- Nya kecuali dengan jalan itu, bahkan semua jalan tertutup bagi segenap hamba kecuali
jalan-Nya yang telah Ia lempangkan melalui lisan para rasul-Nya, dan ia dijadikan-Nya sebagai yang menghubungkan kepada-Nya.

Para manusia digambarkan melalui jembatan tersebut sesuai amalannya di dunia. Sebagian melaluinya dengan cepat dan ringan, namun ada juga yang lambat dan penuh luka. Sebagian tak mampu melintasi hingga ujung jembatan. Berikut haditsnya,

عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( وَتُرْسَلُ الْأَمَانَةُ وَالرَّحِمُ فَتَقُومَانِ جَنَبَتَيْ الصِّرَاطِ يَمِينًا وَشِمَالًا فَيَمُرُّ أَوَّلُكُمْ كَالْبَرْقِ))، قَالَ : قُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي أَيُّ شَيْءٍ كَمَرِّ الْبَرْقِ ؟ قَالَ: أَلَمْ تَرَوْا إِلَى الْبَرْقِ كَيْفَ يَمُرُّ وَيَرْجِعُ فِي طَرْفَةِ عَيْنٍ ؟ ثُمَّ كَمَرِّ الرِّيحِ ثُمَّ كَمَرِّ الطَّيْرِ وَشَدِّ الرِّجَالِ تَجْرِي بِهِمْ أَعْمَالُهُمْ وَنَبِيُّكُمْ قَائِمٌ عَلَى الصِّرَاطِ يَقُولُ رَبِّ سَلِّمْ سَلِّمْ حَتَّى تَعْجِزَ أَعْمَالُ الْعِبَادِ حَتَّى يَجِيءَ الرَّجُلُ فَلَا يَسْتَطِيعُ السَّيْرَ إِلَّا زَحْفًا قَالَ وَفِي حَافَتَيْ الصِّرَاطِ كَلَالِيبُ مُعَلَّقَةٌ مَأْمُورَةٌ بِأَخْذِ مَنْ أُمِرَتْ بِهِ فَمَخْدُوشٌ نَاجٍ وَمَكْدُوسٌ فِي النَّارِ.

Lihat Juga :  Tingkatkan Profesionl Dokter Gigi Lewat FDI-IDA Continuing Dental Education Programme and Exhibition 2023 PDGI

Artinya: Rasulullah SAW: “Lalu diutuslah amanah dan rohim (tali persaudaraan) keduanya berdiri di samping kiri-kanan shiraath tersebut. Orang yang pertama lewat seperti kilat”. Aku bertanya: “Dengan bapak dan ibuku (aku korbankan) demi engkau. Adakah sesuatu seperti kilat?”

Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Tidakkah kalian pernah melihat kilat bagaimana ia lewat dalam sekejap mata? Kemudian ada yang melewatinya seperti angin, kemudian seperti burung dan seperti kuda yang berlari kencang. Mereka berjalan sesuai dengan amalan mereka.

Nabi kalian waktu itu berdiri di atas shirâth sambil berkata: “Ya Allâh selamatkanlah! selamatkanlah! Sampai para hamba yang lemah amalannya, sehingga datang seseorang lalu ia tidak bisa melewati kecuali dengan merangkak”.

Beliau menuturkan (lagi): “Di kedua belah pinggir shirâth terdapat besi pengait yang bergantungan untuk menyambar siapa saja yang diperintahkan untuk disambar. Maka ada yang terpeleset namun selamat dan ada pula yang terjungkir ke dalam neraka. (HR Muslim).

Jadi, Shirathal Mustaqim adalah beribadah kepada Allah SWT semata, dengan tidak menyekutukan-Nya, serta meyakini secara menyeluruh kepada Nabi Muhammad SAW dan itulah realisasi dari syahadatain: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah SWT dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. (*/detikhikmah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button