KALAMKELUARGAMUSLIMAH

Berawal dari Bisnis, Ini Kisah Pertemuan Rasulullah dengan Siti Khadijah

ASSAJIDIN COM — Kisah hidup Nabi Muhammad SAW tak akan pernah ada habis-habisnya untuk ditulis dan diceritakan.

Selalu ada dan menginspirasi banyak orang di belahan dunia. Kental dengan nasihat, pesan dan dakwah.

Terutama kisah pertemuannya dengan Siti Khadijan. Seorang wanita sempurna dan istri yang setia dalam suka dan duka.

Siti Khadijah dikenal sebagai pengusaha yang sukses, ia kemudian dipersunting Rasulullah SAW yang saat itu usianya terpaut 15 tahun lebih muda.

Siti Khadijah menikah dengan Rasulullah SAW ketika usianya menginjak 40 tahun. Saat itu, Rasulullah SAW berusia 25 tahun.

Perbedaan usia yang cukup jauh ini tidak menjadi penghalang. Keduanya ditakdirkan untuk bersatu dalam ikatan pernikahan

 

Bisnis

Kisah pertemuan antara Rasulullah SAW dengan Khadijah ternyata berawal dari bisnis.

Sebelum berjumpa dengan Rasulullah SAW, Khadijah pernah menikah dua kali. Suami pertamanya bernama Abu Halah an-Nabassy Ibnu Zurarah at-Taymi.

Pernikahan ini berakhir karena Abu Halah meninggal dunia. Pada pernikahan ini, Khadijah dikaruniai dua orang putra.

Kemudian Khadijah menikah kembali dengan Atiq bin Abdul Makhzumi dan dikaruniai satu orang anak. Khadijah kembali menjanda setelah Atiq bin Abdul Makhzumi meninggal dunia.

Di masa jahiliyah, Khadijah diberi gelar “wanita yang suci” (thâhirah). Setelah dua kali ditinggal wafat sang suami, banyak lelaki yang meminangnya dengan menawarkan sejumlah harta sebagai maskawin.

Tetapi Khadijah menolak semua pinangan itu …

Khadijah menyibukkan diri dengan mengelola perdagangan. Dalam dunia bisnis, nama Khadijah cukup diperhitungkan karena ia dikenal sebagai pedagang yang sukses, pintar, kaya dan juga berparas cantik.

Kisah pertemuan

Merangkum buku Khadijah: Cinta Sejati Rasulullah karya Abdul Mun’im Muhammad Umar diceritakan awal mula Khadijah bertemu dengan Rasulullah SAW, utusan Allah SWT yang kemudian menjadi suaminya.

Suatu hari, Khadijah hendak mengirim kafilah dagang ke negeri Syam. Dia mencari seseorang yang bisa diutusnya ke Syam untuk mengawasi dan memimpin rombongan dagang tersebut.

Saat itu, masyarakat Makkah sedang ramai membicarakan Muhammad ibnu Abdillah, seorang pemuda yang memiliki kejujuran dan keluhuran budi di tengah rekan-rekan sebayanya yang sibuk berfoya-foya.

Khadijah berpikir, mengapa tidak Muhammad saja yang ia utus untuk menangani urusan-urusan perdagangannya di Syam?

Muhammad adalah orang yang jujur. Khadijah beranggapan bahwa kejujuran sangat penting dalam perdagangan. Tetapi, Khadijah tidak pernah mendengar Muhammad memiliki pengalaman berdagang.

Dengan mengandalkan firasat dan nalurinya yang jarang salah, Khadijah akhirnya memanggil Muhammad dan mengajaknya berbincang-bincang tentang perdagangan.

Melalui perbincangan itu, Khadijah menangkap kesan bahwa Muhammad adalah seorang pemuda yang cerdas, santun, pandai menjaga diri dan berpenampilan sempurna.

Muhammad terlihat begitu tenang ketika diam dan terlihat begitu berpengaruh saat berbicara.

Dia selalu memperhatikan lawan bicaranya, mendengarkannya dengan teliti, dan tidak pernah memperlihatkan sikap setengah-setengah.

Khadijah berkata, “Aku memanggilmu berdasarkan apa yang kudengar dari orang-orang tentang perkataanmu yang jujur, integritas yang terpercaya, dan akhlakmu yang mulia.

Aku memilihmu dan kubayar engkau dua kali lipat dari apa yang biasa diterima oleh seseorang dari kaummu.”

Muhammad menerima tugas itu dengan senang hati. Khadijah juga mengamati gambaran fisik Muhammad. Cara dia berjalan menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi.

Posturnya seimbang, tidak terlalu pendek dan tidak terlalu tinggi, tidak terlalu gemuk dan tidak pula terlalu kurus.

Khadijah juga ingat bahwa selama berbincang dengannya, Muhammad selalu menundukkan mukanya. Hanya sekali, seingatnya, Muhammad mengangkat mukanya, yaitu ketika Khadijah menawarkan tugas menjalankan urusan perdagangan di Syam.

Saat itu, Muhammad tersenyum, mengangkat mukanya sedikit dan mengucapkan terima kasih, lalu kembali menunduk.

Setelah menerima tugas dari Khadijah, Muhammad bergegas menemui pamannya, Abu Thalib, untuk menceritakan tawaran kerja yang baru saja diterimanya.

Abu Thalib turut bergembira. Dia berkata, “Ini adalah rezeki yang Allah berikan kepadamu.”

Hari keberangkatan pun tiba. Penduduk Mekkah, termasuk paman-paman Muhammad, beramai-ramai mengantar kafilah ke perbatasan kota. Kafilah pun bertolak menuju Syam.

Lihat Juga :  Jaga IMAN, Maka IMUN akan Tumbuh dalam Tubuh Manusia

Dalam ekspedisi dagang ke Syam ini, Muhammad dibantu oleh seorang pelayan laki-laki bernama Maysarah. Khadijah berpesan agar Maysarah tidak membantah perintah Muhammad atau menentang pendapatnya.

Urusan perdagangan di Syam ternyata berjalan lancar. Barang-barang habis terjual. Laba yang diraih dari perdagangan itu pun luar biasa besarnya.

Sebelum pulang, kafilah ini membeli barang-barang lain untuk dijual kembali di Mekkah. Setelah semua urusan selesai, kafilah ini pun beranjak pulang.

Sesampainya di sebuah lembah (sekarang terkenal dengan nama Wadi Fatimah) di luar Mekkah, Maysarah berkata pada Muhammad, “Pergilah kepada Khadijah! Laporkan semua yang engkau alami dan keuntungan yang engkau peroleh dalam ekspedisi ini.”

Muhammad lalu maju ke depan bersama para pemuda lain yang baru saja tiba dari perjalanan jauh. Mereka memasuki kota dengan kafilah yang berjalan perlahan-lahan di belakang mereka.

Saat itu siang hari. Khadijah bersama beberapa wanita lain berada di sebuah ruangan di bagian atas rumahnya. Dia bisa melihat Muhammad yang sedang menunggang unta kecil berwarna merah memasuki kota. Ada dua malaikat menaunginya.

Sebagaimana tradisi yang biasa dilakukan para pembesar Quraisy selepas pulang dari perjalanan dagang, Muhammad pun langsung menuju Ka’bah untuk melakukan thawaf. Setelah itu barulah dia menghadap Khadijah.

Kepada Khadijah, Muhammad melaporkan semua hal yang dialaminya di dalam perjalanan, termasuk keuntungan besar yang diperolehnya dan barang-barang dagangan yang dibelinya di Syam.

Khadijah menerima laporan itu dengan rasa gembira. Apalagi setelah diketahui bahwa barang-barang yang dibawa dari Syam berhasil dijual kembali di Mekkah dengan keuntungan yang berlipat ganda.

Wadi Fatimah. (Foto : Kabian Your)

Awan menaungi

Di lain kesempatan, Maysarah juga menghadap Khadijah dan bercerita tentang hal-hal aneh yang ditemuinya sepanjang perjalanan.

Dia seringkali menyaksikan awan berkumpul menaungi Muhammad yang sedang menunggang unta di padang pasir pada siang yang panas.

Suatu hari, tutur Maysarah, Muhammad sedang bernaung di bawah sebuah pohon di dekat tempat pertapaan seorang rahib bernama Nasthura.

Sang rahib bertanya kepada Maysarah tentang siapa Muhammad. Maysarah menjawab bahwa Muhammad adalah seorang pemuda yang mulia dari suku Quraisy.

Sang rahib kembali bertanya, “Apakah ada tanda merah di matanya?.” “Ya,” jawab Maysarah.

Rahib itu kemudian berkata, “Pemuda yang duduk di bawah pohon itu adalah seorang nabi.”

Pernah pula ada seorang lelaki berselisih dengan Muhammad. Maysarah menduga lelaki itu memang sengaja mencari-cari persoalan.

Dia berkata pada Muhammad, “Bersumpahlah dengan nama Lata dan Uzza!” Muhammad menolak dan berkata, “Aku tidak pernah bersumpah dengan nama keduanya.”

“Engkau benar.” Lelaki itu pergi begitu saja. Tetapi, di luar pengetahuan Muhammad, lelaki tersebut berkata kepada Maysarah, “Orang ini, demi Tuhan, adalah seorang nabi. Para pendeta kami telah menerangkan ciri-cirinya berdasarkan apa yang mereka baca dalam kitab suci.”

Maysarah juga bercerita kepada Khadijah tentang tingkah laku Muhammad di sepanjang perjalanan. Semua itu menunjukkan kejujuran, keluhuran budi dan kelembutan hatinya

 

Al amin

Khadijah mulai berpikir dan menimbang-nimbang semua cerita yang didengarnya itu. Dia tahu bahwa semua penduduk Mekkah merasa kagum pada Muhammad.

Mereka percaya pada kejujuran, integritas dan kebersihan moralnya. Julukan yang diberikan untuknya adalah al amin (orang yang bisa dipercaya).

Semua orang di masa itu, termasuk Khadijah, pernah mendengar ramalan para rahib tentang seorang nabi yang akan muncul di jazirah Arab.

Batin Khadijah bertanya, Muhammadkah nabi yang ditunggu-tunggu itu?

Suatu hari, Khadijah pergi menemui sepupunya, Waraqah ibnu Naufal. Waraqah adalah pemeluk Nasrani sejak muda.

Dia seorang yang tekun menyembah Tuhan, menjauhi berhala, dan mempelajari kitab suci-kitab suci agama terdahulu.

Mendengar cerita Khadijah, ada kebahagiaan yang aneh dirasakan oleh Waraqah.

Dia bangkit lalu berkata bahwa berdasarkan kitab suci-kitab suci yang pernah dia baca, Allah akan mengutus seorang rasul terakhir dari anak keturunan Ismail yang lahir di dekat Baitullah.

Lihat Juga :  Ini Manfaat Anak Bangun Pagi Lebih Cepat

Waraqah kemudian diam. Dia berpikir sangat serius. Lalu dia katakan, “Wahai Khadijah! Jika apa yang kupikirkan ini benar, maka Muhammad pastilah seorang nabi.

Yang kutahu dengan pasti, seorang nabi akan muncul dari bangsa ini. Dan sekaranglah saat kemunculannya.”

Waraqah juga berharap dirinya dikaruniai umur panjang sehingga dia bisa beriman dan mengikuti ajaran-ajaran nabi tersebut serta membelanya menghadapi musuh-musuhnya.

Perbincangan dengan Waraqah menimbulkan kesan mendalam di hati Khadijah. Dia kembali berpikir tentang Muhammad, pemuda yang mengagumkan itu.

Dia bertanya, apakah kekaguman masyarakat kepada Muhammad tersebut adalah bagian dari skenario Tuhan untuk melapangkan jalan baginya menjadi nabi?

Secara pribadi, Khadijah juga berpikir tentang apa yang sebetulnya menghubungkan dirinya dengan Muhammad.

Mengapa bayangan Muhammad selalu muncul siang dan malam tanpa ia kehendaki?

Telah banyak pinangan lelaki yang ditolak oleh Khadijah, karena dia berpikir bahwa mereka hanya menghendaki harta dan status sosialnya.

Tetapi, Muhammad berbeda dengan mereka. Rasa hormat dan cinta kepadanya tumbuh perlahan-lahan hingga akhirnya mencengkeram hati dan perasaan.

Apakah ini juga bagian dari takdir Tuhan?

Khadijah percaya sepenuhnya akan kebenaran pernyataan Waraqah. Dia tahu bahwa cinta yang tumbuh di hatinya adalah perasaan yang wajar bagi wanita mulia yang mendambakan seorang pendamping hidup yang dapat dipercaya.

Bahkan dia juga meyakini bahwa rasa cinta itu adalah anugerah Tuhan kepada dirinya, bahwa Tuhan menghendakinya untuk terlibat dalam rencana besar-Nya bagi manusia.

Meskipun awalnya sempat ragu, Khadijah kemudian memutuskan untuk menikah dengan Muhammad dan mengambil inisiatif untuk meminangnya.

Tetapi, masih ada satu pertanyaan yang harus ia jawab: siapa yang bisa menjamin bahwa Muhammad akan menerima pinangannya?

 

Wanita suci

Khadijah kemudian memilki siasat agar Muhammad mau menerimanya. Ia lantas mengutus seorang wanita yang ia yakini kemampuan dan loyalitasnya untuk secara diam-diam melakukan pendekatan awal kepada Muhammad.

Wanita yang dipercayainya untuk mengemban tugas itu adalah Nafisah binti Umayyah yang masih terhitung kerabat dekat Muhammad dan saudari seorang lelaki yang kemudian menjadi salah satu sahabat Nabi yang terkemuka, Yala ibnu Umayyah.

Nafisah mendatangi Muhammad dan menasihatinya seperti seorang ibu menasihati anaknya. Dicobanya untuk meyakinkan Muhammad tentang pentingnya menikah.

Muhammad menjawab bahwa dirinya hanya orang miskin yang tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada wanita yang akan menjadi istrinya. Nafisah membantah hal itu.

Menurutnya, kemiskinan bukan halangan untuk menikah. Apalagi Muhammad telah lama dikagumi penduduk Mekkah karena akhlak dan kejujurannya.

Setelah Muhammad bisa diyakinkan tentang pentingnya menikah, barulah Nafisah menyatakan bahwa wanita yang paling patut menjadi istrinya adalah Khadijah.

Alasannya sederhana. Khadijah adalah wanita yang cantik, kaya, bagus nasabnya, pandai menjaga kehormatan dan luhur akhlaknya. Masyarakat bahkan menjulukinya “wanita yang suci.”

Mengetahui pilihan Nafisah, Muhammad pun terkejut. Menurutnya, Nafisah berlebihan. Dari mana dia akan memperoleh harta untuk membayar mahar Khadijah?

Nafisah menjawab bahwa kalau Muhammad setuju untuk menikah dengan Khadijah, urusan mahar tidak perlu ia pikirkan.

 

Menikah

Nafisah memang membantu Khadijah melakukan pendekatan awal untuk menjajaki kemungkinan Muhammad menerima pinangannya. Tetapi setelah itu, Khadijah menjalani sendiri seluruh proses yang harus dilakukannya.

Hari pernikahan yang ditunggu-tunggu itu pun datang. Muhammad di dampingi oleh Bani Hasyim yang dipimpin oleh Abu Thalib dan Hamzah.

Hadir juga bersamanya Bani Mudhar. Sedangkan Khadijah dindampingi oleh Bani Asad yang dipimpin oleh ‘Amr ibnu Asad.

Pernikahan itu dilaksanakan pada dua bulan 15 hari setelah Muhammad tiba dari Syam. Mahar yang diberikan kepada Khadijah adalah 20 ekor unta.

 

 

Wallahu a’lam bishshawab.

 

 

Sumber : Detik.com

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button