DUNIA ISLAMINTERNASIONAL

Tempat Wisata di Arab Saudi (8) : Al Balad, Kota Tua Bersejarah di Jeddah 

ASSAJIDIN.COM — Tempat wisata satu ini jangan sampai kamu lewatkan setelah berada di kota suci Makkah.

Nama tempatnya adalah Al Balad, sebuah kota di Jeddah yang merupakan pintu gerbang menuju Makkah di Jeddah.

Kota ini terkenal dengan pasar tradisionalnya, alun-alun, jalanan kecil dengan deretan rumah tradisional, dan masjid berarsitektur klasik.

Al Balad kota tua di Jeddah. (Foto: Shutter Stock)

Kota tua Al Balad adalah wujud asli dari Jeddah yang tidak pernah berubah. Kamu masih dapat merasakan kentalnya masa pra-Islam lewat bangunan-bangunan di sekitar Al Balad.

Kawasan kota tua kuno ini didirikan pada awal abad ke-7. Al Balad berfungsi sebagai pusat komersial Jeddah sebelum ledakan minyak tahun 1970-an terjadi.

Dikutip laman Welcome Saudi, kawasan kota tua Al Balad dahulu berfungsi sebagai pelabuhan perdagangan kuno dan merupakan pintu gerbang utama ke Kota Suci Makkah bagi para peziarah yang melakukan perjalanan Haji dan Umrah.

Yang unik dari kawasan Kota Tua Jeddah ini adalah banyaknya lorong-lorong yang sempit, jalan-jalan berdebu, dan teras-teras indah yang cukup sulit dinavigasi oleh pendatang baru.

Menariknya, arsitektur yang rapat dan padat inilah yang membuat tempat ini tetap sejuk meski panas terik di Jeddah.

Beberapa bangunan tua di Al Balad berusia lebih dari 500 tahun dan dilestarikan oleh Kementerian Kebudayaan Saudi agar terlihat seperti baru.

Kemudian, kota tua ini berkembang di kekhalifahan Islam abad ke-7. Pada masa itu, Al Balad didirikan sebagai pelabuhan untuk menerima peziarah ke kota suci Makkah, dan sebagai rute utuk melintasi Samudera Hindia pada abad ke-16 hingga 20.

Lihat Juga :  Mega Wisata Mempersembahkan Umrah Musim Dingin Bulan Desember 2023
Souq Al-Nada. (Foto : Tripadvisor)

Rute Perdagangan 

Karena lokasinya yang strategis, Al Balad kemudian berkembang menjadi rute perdagangan yang sibuk antara Yaman dan Eropa.

Kala itu, Al Balad merupakan tempat yang sibuk dan gemerlap, lantaran hadirnya para saudagar dari berbagai negara. Maka, tak salah jika Al Balad disebut sebagai jantung Kota Jeddah.

Sejak kekhalifahan Islam awal, Al Balad telah menjadi tuan rumah bagi jutaan peziarah yang melakukan perjalanan melintasi Samudera Hindia dalam perjalanan ke kota suci Makkah. Para pendatang mayoritas berasal dari Afrika Utara, Asia Selatan, dan Tengah.

Hanya 75 kilometer (47 mil) dari kota suci Makkah, Al Balad menjadi titik pertemuan bagi umat Islam dari seluruh dunia. Maka dari itu, Al Balad dijuluki sebagai gerbang ke Makkah.

Selain itu, Al Balad atau yang dikenal sebagai Old Jeddah ini juga merupakan gerbang bersejarah yang kini menjadi objek wisata populer di Jeddah.

Pada abad ke-16, awal masa Kesultanan Turki Utsmani, Jeddah mendapat tekanan dari banyak pihak, di antaranya penjajah Portugis yang terus-menerus melancarkan serangan.

Bahkan, pada tahun 1516, armada Portugis sempat memasuki Jeddah. Beruntung, pasukan penjajah dari Eropa itu dapat dihalau oleh pasukan Turki Utsmani yang dipimpin Suleiman Basha.

Pada 1517, Turki Utsmani berhasil menaklukkan Dinasti Mamluk, sekaligus merebut Makkah dan Jeddah. Setelah berkuasa, Turki Utsmani kemudian membangun dinding pertahanan di Jeddah.

Dinding pertahanan yang dibuat untuk menangkal serangan Portugis ini dilengkapi dengan enam menara pengawas dan enam gerbang kota.

Tembok tersebut dilengkapi dengan benteng, menara, dan meriam untuk mengusir kapal yang menyerang wilayah tersebut.

Lihat Juga :  10 Kerugian dari Membuang-buang Waktu

Namun, pada abad ke-19, dinding yang semula memiliki enam gerbang ini dibangun lagi dengan hanya memiliki empat gerbang raksasa dan dilengkapi empat menara.

Keempat gerbang ini berfungsi sebagai pintu masuk ke daerah lain. Gerbang utara menuju Sham, gerbang timur menuju Makkah, gerbang selatan menuju Sharif, dan gerbang yang menghadap laut menuju al-Magharibah.

 

Tampilan luar Masjid Imam Syafi’i di Kota Tua Jeddah, Arab Saudi, Jumat (31/8). Bangunan ini disebut berasal dari abad ke-13 dan berdiri pada lokasi bangunan masjid lain pada masa awal Islam. (Foto : Republika online)

 

Tak Ikut Luruh

Setelah Turki Utsmani runtuh pada 1915, sebagian tembok Jeddah juga dirobohkan. Meski tembok itu runtuh, sejarah Kota Jeddah yang membentang selama berabad-abad tak ikut luruh. Salah satu gerbang utama, yang dikenal sebagai ‘Bab Makkah’ sampai saat ini digunakan sebagai gerbang menuju Makkah.

Saat ini, Al Balad lebih dikenal sebagai lokasi untuk berburu berbagai produk, termasuk oleh-oleh haji. Ya, karena di Balad terdapat pasar dan pusat perbelanjaan yang menjadi tujuan favorit wisatawan dan jemaah haji atau umrah.

Al Balad juga merupakan rumah bagi sejumlah monumen, bangunan bersejarah, pasar, alun-alun dan masjid. Masjid al-Syafi’i, atau Masjid Syafi’i, yang sudah berdiri sejak masa kekhalifahan Islam ketiga di Al Balad merupakan masjid tertua di Jeddah.

Masjid ini dibangun dalam gaya tradisional Fatmid dari periode 970-1171 M dan dikelilingi kaligrafi Islam di dinding masjid.

Tidak hanya itu, Souq Al-Nada di Al Balad merupakan salah satu pasar paling populer di Jeddah.

Didirikan lebih dari 150 tahun yang lalu, pasar Souq merupakan tempat wisata paling banyak dikunjungi selama bulan Ramadhan, untuk membeli makanan berbuka puasa. (Dari berbagai sumber)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button