KALAMKESEHATAN

Al-Qanun Fi At-Tibb, Kitab Pengobatan Maha Karya Ibnu Sina

ASSAJIDIN.COM — Buku ini, Al-Qanun Fi At-Tibb, karya terbesar Ibnu Sina.

Nama lengkapnya Abu Ali Al Hussain Ibnu Abdullah Ibnu Sina.

Ibnu Sina lahir pada tahun 980 Masehi di Bukhara yang sekarang merupakan bagian dari Uzbekistan.

Al-Qanun Fi At-Tibb terdiri dari lima buku. Buku pertama membahas pengobatan yang berdasarkan alam dan unsur-unsurnya (bumi, udara, api dan air). Lalu, objek kajian berpindah pada anatomi tubuh manusia.

Selanjutnya, dibahas tentang sebab-sebab munculnya penyakit serta gejala ketika seseorang terserang penyakit.

Aspek-aspek lain yang dibahas dalam bagian ini adalah soal kebersihan, jenis-jenis penyakit, makanan dan kesehatan, serta soal kematian.

Buku kedua berisikan tentang pengetahuan soal efek terapeutik yang terjadi pada tubuh dari setiap zat yang digunakan untuk penyembuhan.

Buku ketiga mengulas mengenai penyakit-penyakit pada tubuh manusia.

Buku keempat membahas tentang pengamatan penyakit yang tidak spesifik pada organ tubuh tertentu, seperti demam.

Buku kelima menyajikan tentang obat-obatan majemuk atau dikenal sebagai “The Formulary and Aqrabadhin”.

Dalam sebuah versi terjemahan bagian pertama ke dalam bahasa Inggris tahun 1966, di samping bagian satu terdapat lampiran, antara lain:

Lampiran pertama merupakan ringkasan yang sifatnya umum.

Lampiran kedua berisi informasi perihal tanaman yang bisa dipakai untuk pengobatan.

Ini mencakup glosarium berisi tanaman-tanaman penyembuh yang disebutkan di bagian 1, nama-nama mereka di pasaran, serta bagian-bagian mana saja dari tanaman yang bisa dipakai sebagai obat.

 

Kontribusi Ilmu Kesehatan

Gavin Koh, seorang spesialis di Universitas Cambridge, dalam sebuah tulisannya, The Canon of Medicine (Al-Qānūn fī at-tibb) by Ibn Sina (Avicenna) 11th century di British Medical Journal menyebut beberapa kontribusi penting Al-Qānūn fī al-tibb pada ilmu kesehatan.

Lihat Juga :  Kota Suci Makkah dan Madinah Lockdown Cegah Corona, Warga Dibatasi Keluar Rumah

Pertama, temuan Ibnu Sina tentang relasi antara diabetes dan tuberkolosis. Dalam bukunya ini, Ibnu Sina juga menjelaskan dampak negatif atau kerugian bila seseorang memiliki berat badan berlebih atau biasa disebut obesitas.

Ia pun menguraikan cara untuk menghindari dan mengurangi risiko timbulnya obesitas, di antaranya dengan rutin berolahraga dan mengurangi asupan makanan berlemak.

Kemudian, Ibnu Sina juga menemukan bahwa tuberkolosis merupakan sebuah penyakit menular.

Adapun temuan lainnya mencakup penjelasan Ibnu Sina tentang penyebab utama dan penyebab tambahan di balik terjadinya lumpuh pada wajah.

Di samping itu, dari Ibnu Sinalah generasi ahli kedokteran berikutnya mendapat istilah “tailed nucleus” (nukleus berekor).

Ibnu Sina juga berhasil menyusun gambaran yang akurat tentang anatomi mata.

Lebih lanjut Gavin Koh menyebut pengaruh The Canon of Medicine (Al Qānūn fī at-tibb) dalam pemikiran kesehatan bisa diukur selama berabad-abad.

Buku itu memperkenalkan konsep sindrom (sebuah konstelasi tanda-tanda dan gejala-gejala) sebagai sebuah bantuan untuk melakukan diagnosis dan menetapkan tujuh aturan untuk evaluasi terhadap pengobatan-pengobatan baru-batu ini merupakan kerangka yang esensial untuk uji klinis.

Kitab Al-Qānūn fī al-Tibb ini tidak hanya berpengaruh di seputaran Asia Tengah dan dunia Arab saja, tapi juga menyentuh Eropa.

Adalah seorang sarjana dan penerjemah Italia bernama Gerard de Sabloneta yang mengalihbahasakan buku ini dari Bahasa Arab ke Bahasa Latin pada abad ke-13.

Buku yang terbagi atas tiga jilid ini pernah menjadi satu-satunya rujukan dalam bidang kedokteran di Eropa selama lebih kurang lima abad.

Buku ini merupakan ikhtisar pengobatan Islam dan diajarkan hingga kini di timur. Buku ini di telah diterjemahkan ke bahasa Latin.

Lihat Juga :  Kisah Raja dan "Resep" 99

Kitab ini selain lengkap, juga disusun secara sistematis.

Dalam bidang Materia Medeica, Ibn Sina telah banyak menemukan bahan nabati baru Zanthoxyllum budrunga – dimana tumbuh-tumbuhan banyak membantu terhadap beberapa penyakit tertentu seperti radang selaput otak (Miningitis).

Ibn Sina juga dikenal sebagai orang pertama yang menemukan peredaran darah manusia, dimana 600 tahun kemudian disempurnakan oleh William Harvey.

Ia pulalah yang pertama kali mengatakan bahwa bayi selama masih dalam kandungan mengambil makanannya lewat tali pusarnya.

Ia jugalah yang mula-mula mempraktikkan pembedahan penyakit-penyakit bengkak yang ganas, dan menjahitnya.

Ia juga terkenal sebagai dokter ahli jiwa dengan cara-cara modern yang kini disebut psikoterapi.

Di Uzbekistan, kelima bagian kitab Al-Qānūn fī al-tibb ini diterjemahkan ke Bahasa Uzbek antara tahun 1954-1960.

Di berbagai universitas di Eropa, umpamanya di Montpellier dan Louvain, buku ini hingga ke pertengahan abad ke-17 dipakai sebagai buku rujukan di bidang ilmu kedokteran.

Kini, kitab Al-Qānūn fī al-tibb sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, walau tidak semuanya mencakup kelima bagian buku.

Terjemahan yang sudah dilakukan di antaranya adalah ke bahasa Latin, Inggris, Prancis, Urdu, Cina dan Ibrani.

Buku ini tak hanya dipuji karena isinya yang membawa terobosan baru, tapi juga pada gaya bahasanya yang indah.

Di dunia Islam sendiri, menimbang berbagai kontribusinya pada ilmu kesehatan, ia diberi gelar “pangerannya para dokter”, sebuah istilah yang menunjukkan kedudukan pentingnya di antara para sejawat kedokterannya.

Kini, sejumlah perguruan tinggi masih menggunakan buku ini sebagai buku ajar mereka. (Mediaislam.id)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button