SYARIAH

Kuatkan Iman Saat Hadapi Beragam Musibah, inilah Hikmah dari Datangnya Musibah

ASSAJIDIN.COM – Musibah akan terjadi kapan pun dan dimanapun bila Allah menghendaki Ustadz Irwani mengatakan dalam menyikapi peristiwa tersebut harus dengan konsep iman.

Dalam arti, sebagai seorang muslim kita memandang hal tersebut adalah menjadi suatu ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Allah subhanawarta’allah.

Bahwasannya tidak akan terjadi sesuatu apapun dimuka bumi ini kecuali sudah ditakdirkan oleh Allah subhanawarta’alla.

“Jika sudah konsep iman ditanamkan, maka kita tidak berspekulasi dan khawatir nya spekulasi kita justru menjauhkan kita dari Allah,”katanya.

Seperti contoh kita awali dengan adanya virus Covid 19 bahwa wabah ataupun suatu penyakit sudah ada ketentuan dari Allah subhanawarta’allah, terjadinya atas kehendak Allah dan kita menyikapi dengan keimanan.

Lihat Juga :  Melihat Kontes Ikan Hias Cupang di Palembang, Si Pembasmi Jentik Nyamuk Aedes Aigypsi

Kemudian, setelah menyikapi nya dengan keyakinan iman, baru kita menginstropeksi diri.
“Adanya musibah bisa jadi bagus bagi orang yang sering berbuat dosa seperti dengan adanya musibah orang yang lalai dari mengingat Tuhan ia akan mencari solusi bagaimana cara mendekatkan diri kepada Tuhannya dan bagus bagi orang yang telah dekat dengan Allah seperti ia terus lebih mendekatkan diri kepada Allah subhanawarta’allah,”katanya.

Semua yang telah menjadi ketetapan Allah subhanawarta’allah merupakan ujian yang berupa kenikmatan atau cobaan. Saat ini, kita diuji dengan sesuatu cobaan yang tidak mengenakkan.

Sifat dasar manusia yang jika ia mendapatkan ujian yang tidak mengenakkan maka dia akan berkeluh kesah seperti dalam QS Apabila Al Ma’arij ayat 20 ‘apabila dikenakan suatu hal yang tidak mengenakkan maka ia akan berkeluh kesah’

Lihat Juga :  Puasa itu Perisai, Sedekah itu Penolak Api Neraka

Lalu, bagaimana cara kita supaya tidak berkeluh kesah. Jawabannya ada didalam Qur’an surah Apabila Al Ma’arij ayat 22-23 yang berbunyi sebagai seorang mukmin, dekatkan diri kepada Allah subhanawarta’allah dengan setia melaksanakan salatnya, tidak perlu berspekulasi dan menyalahkan sebab dikhawatirkan kita akan menjauh dari Allah subhanawarta’alla.

Namun, sebagai orang yang menikmati alam, harusnya menjaga kelestarian alam baik itu udara, air, tanah dan lainnya. Jika kita rusak, akan herimbar kepada diri kita sendiri.(*)

Penulis: tri jumartini

Back to top button