SYARIAH

Hadist tentang Betapa Pentingnya Arti Sebuah Niat

AsSAJIDIN.COM — Innamal a’malu binniyat artinya ‘sesungguhnya segala perbuatan itu bergantung pada niatnya’, ini adalah sebuah hadist Nabi Muhammad SAW yang membahas tentang pentingnya sebuah niat dalam segala perbuatan. Tanpa niat, perbuatan tersebut akan sia-sia dan tidak memiliki arti apa-apa.
ADVERTISEMENT

Biasanya, kalimat Innamal a’malu binniyat berpasangan dengan kalimat wa innama likullimri’in maa nawaaa, seperti yang tercantum dalam hadits berikut.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: “Sesungguhnya segala perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kalimat kedua berfungsi untuk menegaskan makna kalimat pertama, yaitu segala perbuatan yang dilakukan manusia akan diberikan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Jadi, niat adalah inti dari sebuah perbuatan yang menjadi tolok ukur baik buruknya perbuatan tersebut.
Dikutip dari Fiqih niat oleh Umar Sulaiman Asyqar, pengertian niat menurut syara’ adalah keinginan untuk melakukan sesuatu yang diikuti dengan perbuatan. Banyak ibadah dalam Islam yang menempatkan niat sebagai rukun pertama. Jika tidak berniat, maka ibadahnya tidak sah dan harus mengulanginya lagi.

Pentingnya Niat
Kedudukan niat dalam agama Islam sangat diperhitungkan. Saat perhitungan amal di Yaumul Hisab, hanya niat yang menjadi penentu apakan amal tersebut masuk ke dalam amal baik atau amal buruk.

Lihat Juga :  One Day One Ayat : QS Ali Imran Ayat 159, Ketika Telah Membulatkan Tekat, Maka Bertawakkallah

Karenanya, niat lebih utama dibandingkan amal itu sendiri. Hal ini juga dijelaskan Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi.
نِيةُ المُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ
Artinya: “Niat seorang mukmin lebih utama dari pada amalnya.”

Dikutip dari NU Online, keutamaan niat dibandingkan amal dibuktikan dengan tiga hal. Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudzâharah wal Muwâzarah menjelaskan tiga hal tersebut.

1. Berniat kebaikan dan mengerjakannya
Orang yang berniat melakukan suatu amal kebaikan lalu mengamalkannya, maka orang tersebut akan diberikan pahala berlipat-lipat, mulai dari 10 kebaikan, 700 kebaikan, dan seterusnya. Hal ini didasarkan dari hadist Nabi Muhammad yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim yang artinya sebagai berikut.

“Dan apabila seseorang berniat melakukan sesuatu kebaikan lalu mengamalkannya, Allah ‘azza wa jalla akan mencatat pahalnya di sisi-Nya sebagai perbuatan 100 kebaikan sampai 700, bahkan berlipat-lipat ganda banyaknya.”

2. Berniat kebaikan tetapi tidak jadi melakukannya
Seseorang yang berniat melakukan suatu amal kebaikan dan mampu melakukannya tetapi tidak jadi melakukannya, maka orang tersebut diberikan pahala 1 kebaikan saja. Hal ini didasarkan dari hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim yang artinya sebagai berikut.
“Maka apabila seseorang berniat melakukan sesuatu kebaikan lalu tidak jadi melaksanakannya, Allah akan mencatat pahalanya di sisi-Nya satu kebaikan sempurna.”

Lihat Juga :  Puasa itu Perisai, Sedekah itu Penolak Api Neraka

3. Berniat kebaikan tetapi tidak mampu melakukannya
Seseorang yang berniat melakukan suatu amal kebaikan tetapi ternyata tidak mampu melakukannya, maka orang tersebut akan mendapatkan pahala sebagaimana orang yang mampu melakukannnya.

Selain dari tiga hal tersebut, ada satu hal lagi yang menjadi penegasan bahwa niat lebih utama dibandingkan amal itu sendiri. Ketika ada seseorang yang sudah berniat melakukan kemaksiatan tetapi urung melakukannya, ia akan mendapatkan pahala dari Allah karena telah mengurungkan niatnya.
Hal ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. “Dan bila seseorang berniat melakukan suatu kejahatan lalu ia tidak melaksanakan, Allah akan mencatat pahalanya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan sempurna, dan bila ia berniat melakukan suatu kejahatan kemudian melaksanakannya pula, maka Allah akan mencatatnya di sisi-Nya sebagai satu kejahatan.” (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button