Bagaimana Hadapi Musibah ? Tetap dengan Istiqomah di Jalan Syariah

ASSAJIDIN.COM — Mendekati akhir tahun 2022 Indonesia banyak mengalami musibah. Sebagai umat Allah Subhanawa ta’allah bagaimana menyikapi musibah sehingga kita bisa istiqomah di jalan syariah?
Sebagaimana Allah perintahkan didalam Al Quran Surah Al Baqarah ayat 155 “Sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, dengan kekurangan harta dan jiwa serta buah-buahan”.
Owner Rumah Syaamil Quran Ghaziya, ustadzah Rofi Maryam menerangkan dalam kajian online cemara mengatakan setiap manusia pasti mengalami cobaan sesuai dengan kadar agamanya.
Ketika kita mendapatkan ujian berupa musibah, kekurangan harta dan lainnya merupakan bentuk cinta Allah kepada hambanya.
Rasulullah bersabda “sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka” HR. Ahmad dan Tirmidzi
“Ketika kita paham bahwa musibah adalah bentuk cintanya Allah kepada hambanya maka kita akan menerima dengan ikhlas. Bukan malah menyikapi dengan melepaskan ketaatan, memaki, membenci Allah bahkan putus asa hingga bunuh diri,”katanya.
Dalam HR. Tirmidzi ‘Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, dia akan menguji mereka siapa yang ridha maka baginya keringanan (Allah) dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah).
“Kita sebagai umat juga harus menyikapi ujian musibah dengan ridha karena itu Qadha Allah,”katanya.
Lalu, sikap yang juga dipegang umat muslim dalam menghadapi musibah adalah sabar.
‘Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,’ (QS al Baqarah 2 :155)
Ketika dihadapkan dengan berbagai ujian, maka harus lebih dikuatkan lagi berserah diri sama Allah karena hanya Allah tempat bersandar terbaik.
‘Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas’ (QS az Zumar 39:10)
Lalu, tidak lupa pula untuk berintrospeksi diri. Bisa jadi musibah yang menimpa kamu disebabkan oleh perbuatan atau dosamu sendiri.
Sebagaimana QS AS Syura : 30 ‘Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu (dosa) sendiri’.
Di balik musibah yang terjadi, diri harus bersyukur karena Allah menguji lalu diangkat derajat dan dihapuskan dosa.
Dalam HR. Bukhari dan Muslim ‘Tidaklah seorang mukmin terkena duri dan lebih dari itu melainkan Allah akan mengangkat derajat dengannya atau dihapuskan kesalahannya dengannya’. (TRI JUMIARTI)
