SYARIAH

Menggapai Mutmainnah yang Dicita-citakan

AsSAJIDIN.COM — Nafsu Mutmainnah dapat diartikan sebagai nafsu yang disinari cahaya, sehingga dapat mengosongkan hati dari sikap tercela dan terhiasi dengan sifat terpuji. Nafsu ini dapat menciptakan ketenangan jiwa bagi seseorang.

Nafsu Mutmainnah adalah jiwa yang telah mendapat ketenangan; telah sanggup untuk menerima cahaya kebenaran sang Ilahi.

Juga jiwa yang telah mampu menolak menikmati kemewahan dunia dan tidak bisa dipengaruhi oleh hal tersebut.
Nafsu ini memuat pemiliknya merasa berpuas diri dalam pengabdiannya kepada Tuhan.
Dia juga akan selalu berbuat amal saleh (kebajikan kepada sesama makhluk).

Dalam agama Islam, hal ini telah disebutkan dalam Alquran surat Al-Fajr ayat 27-28 sebagaimana berbunyi:

Hai jiwa yang tenang, kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi.

Nafsu ini dimiliki oleh orang yang beriman pada tingkatan khusus (Arab:khawas) atau orang-orang yang telah dekat dengan Tuhan.

Kebahagiaan sejatinya menjadi milik kita yang akan segera melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Mengapa demikian? Karena ibadah puasa Ramadhan hanya diserukan bagi orang-orang yang beriman.

Allah berfirman “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS al-Baqarah: 183). Ini artinya bahwa ketika kita merasa terseru atau terpanggil untuk berpuasa Ramadhan berarti kita memiliki tanda-tanda orang yang tengah beriman.

Lihat Juga :  Tanda Kita Beriman kepada Nabi dan Rosul

Tentu untuk selanjutnya perlu pembuktian agar iman kita nyata tidak hanya sekedar tanda-tanda.
Iman itu sendiri bukan hanya tentang kepercayaan dan keteguhan batin. Namun juga tentang rangkaian pengakuan dengan lisan, pembenaran dengan hati, dan pengamalan dengan perbuatan-perbuatan. Dalam konteks pengertian ini, sesungguhnya seseorang dapat dikatakan mukmin apabila memenuhi rangkaian keimanan secara utuh.

Tuntunan untuk mengetahui derajat iman kita terkandung dalam QS al-Anfaal: 2. Yaitu, hati senantiasa bergetar ketika mendengarkan nama Allah beserta segala sifat-sifat-Nya, keyakinan meningkat ketika membacakan sekaligus mendengarkan ayat-ayat Allah, dan bertawakkal ketika menghadapi masalah.

Derajat iman yang utuh menjadikan kehidupan mukmin lebih tenang. Dalam surah QS al-Fajr: 27-28 dijelaskan bahwa ketenangan bagi orang beriman itu merupakan nilai penghargaan paling puncak dari Allah. Mereka mendapat penghargaan tersebut karena setimpal dengan keutuhan iman yang dimilikinya. Pada derajat itu, mereka dipanggil Allah dengan gelar yang sangat luar biasa, yakni, nafsul mutmainnah (jiwa yang tenang).

Suatu gelar yang digunakan Allah untuk menyeru orang-orang yang memiliki keutuhan iman agar senantiasa menyandarkan segala urusan hidup kepada-Nya, dengan dasar hati yang puas dan selalu ingin mendapatkan ridha-Nya.
Tentu kita semua ingin menggapai panggilan dengan gelar itu. Karenanya, marilah kita songsong Ramadhan dengan merangkai iman dan niat mencari pahala (imanan wa ihtisaban).

Lihat Juga :  Terlanjur Shalat tapi Salah Kiblat, Bagaimana?

Kita dituntut untuk meningkatkan iman agar kita benar-benar menjadi pemilik jiwa yang tenang. Jiwa yang selain memiliki relasi ketuhanan yang sangat baik secara vertikal ke langit namun juga relasi kemanusiaan yang sangat baik secara horizontal di bumi (hablumminallah, hablumminannas dan alam).

Maka, pemilik jiwa yang tenang itu tidak hanya tentram buat dirinya, tetapi senantiasa menebar ketentraman sosial bagi sesama dan seru sekalian alam. Dalam kehidupan sehari-hari, pemilik jiwa yang tenang memiliki tanda-tanda selalu berbaik sangka, peka, dan sahaja.

Pertama, berbaik sangka kepada Sang Pencipta bahwa semua apa yang diberikan kepada kita adalah wujud kasih sayang-Nya. Kekayaan ataupun kemiskinan misalnya selalu diyakini bukan untuk memuliakan dan bukan juga untuk menghinakan (QS al-Fajr: 15-16), namun sebagai ujian kasih sayang untuk menaikan kelas dan derajat keimanan hamba-hamba-Nya.

Kedua, peka. Sifat yang mudah merasa dan mudah bergerak untuk membantu sesama, seperti anak yatim dan orang miskin (Qs. al-Fajr: 17-18). Selain itu, mempunyai kesanggupan bereaksi cepat terhadap suatu keadaan lingkungan yang mengalami kerusakan.

Ketiga, sahaja, yaitu tidak mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan (QS. al-Fajar: 20). Hal yang sama terhadap tahta yang dikejar dan berhasil digenggamnya. Semoga kita semua segera bergelar mutmainnah. Wallahu’alam bi shawab.(*/sumber: UINSGD.AC.ID)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button