KELUARGA

Tentang Kehilangan Refleksi Kedukaan Ridwan Kamil

Oleh : Wahyudi Akmaliah
Waktu jadi anak-anak dan beranjak muda, saya jarang kangen dengan orangtua. Saya memiliki dunia sendiri. Tak jarang, saat kuliah S1 di Jogja, saya kerapkali hanya pulang setahun sekali. Jika beberapa kali pulang ke Jakarta, saya memang kebetulan ada acara. Seringkali saya terbersit kangen, meskipun rasa kuat untuk lebih mandiri dan dunia yang berbeda dengan orangtua semakin menguatkan untuk lebih menjauh.
Itu perasaan saya sebagai anak dan juga anak muda. Namun, saat menikah dan memiliki anak. Perasaan itu berbuah sebaliknya. Sejauh-jauhnya pergi untuk sebuah keperluan pekerjaan, hati saya ingin berada di rumah, bersama-sama anak-anak dan istri. Bagi saya, dunia luar sudah tidak menarik. Yang menarik adalah melihat kakak Alesha dan Ziki bertumbuh dengan saya ada di samping mereka. Karena itu, saat Ziki sering saya tinggal untuk keperluan riset lapangan, dengan waktu yang cukup lama, saya merasakan ada yang bersalah. Apalagi, saya melewati pertumbuhannya yang sangat pesat. Perasaan bersalah kerapkali muncul saat saya jauh dari mereka berdua.
Di sini, saya mulai mengerti betapa rasa kangen anak kepada orangtua itu memiliki dimensi yang sangat berbeda. Meskipun seorang anak sudah besar, orangtua masih menganggapnya anak; dikangenin, ditelepon, dan bahkan hampir setiap hari menanyakan kabar. Sebaliknya, bagi anak, sikap orangtua yang selalu menanyakan itu, dalam beberapa hal, bisa bikin jengkel. Anak merasa, ia seperti masih anak kecil lagi. Padahal itu merupakan bentuk sayang orangtua saja.
Dengan rasa sayang yang luar biasa ini, orangtua tidak ingin anak-anaknya tertimpa musibah. Kalaupun sakit, misalnya, biar orangtuanya saja yang menanggung, jangan anak-anak. Bagi orangtua, memikul luka dan sakit yang dialami oleh anak-anak jauh lebih bisa ditangguhkan ketimbang anak sendiri yang mengalami. Karena itu, perasaan kehilangan orangtua ketika anaknya meninggal itu jauh lebih berat.
Mengapa? orangtua merekam semuanya proses dari melahirkan hingga besar. Mereka juga yang tahu detail apa yang dilakukan anak-anaknya. Dengan kata lain, menjadi orangtua adalah sebuah proses tentang pergulatan dan perjuangan untuk membahagiakan anak-anak mereka, apapun itu usaha yang bisa dilakukan. Istilah kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala merupakan cerminan betapa orangtua akan melakukan hal yang terbaik untuk anak-anak mereka.
Sebaliknya, anak mengenal orangtua lebih lekat saat ia belum memiliki semesta di luar orangtuanya. Ketika sudah mengenal semesta lain, proses kelekatan kepada orangtua menjadi berkurang. Dunia yang luas membuatnya menjauh dari orangtuanya, meskipun sesekali anak-anak yang tumbuh dewasa ini merindukan. Karena itu, kehilangan kang Emil dan istrinya mengenai Eril merupakan pukulan berat yang membentuk trauma.
Lebih jauh, meskipun tidak kenal secara fisik, kita sebagai orangtua merasakan tentang kehilangan yang dalam tersebut. Kehilangan yang begitu dalam dan pedih. Kata-kata mengikhlaskan hanya kamuflase untuk meringankan tentang kepedihan mendalam, di mana kata dan visual benar-benar tidak bisa menggambarkan kecamuk hati. Kehilangan eril, bagi saya bukan hanya kehilangan bagi kang Emil dan istri.
Jauh dari itu, ini tentang kita semua, orangtua yang merasakan begitu cinta yang mendalam kepada anak. Meskipun semua itu diingatkan, betapa jika Allah berkehendak, maka siapapun tidak dapat menolaknya. Akhirnya, Sebaik-baiknya harapan adalah dengan merelakan. Tindakan terbaik kehilangan adalah doa. Rasa cinta yang mendalam adalah zikir agar Allah memberikan Eril di tempat terbaik di sisi-Nya.
Ziarah ke sungai Aare akan menjadi ritual bagi banyak orang Indonesia yang berkunjung ke sana untuk terus menapaki betapa cinta orangtua kepada anak melampaui keindahan sungai tersebut. Di sungai tersebut, ada doa yang terus dipanjatkan oleh Kang Emil dan Atalia serta masyarakat Indonesia tentang keteguhan dan rasa cinta kepada eril yang kini terus berenang menuju cahaya Ilahi. (*/sumber FB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button