INTERNASIONAL

Mengomentari Sesuatu Berdasarkan Prasangka, Sebuah Hikmah

ASSAJIDIN.COM — “Haji kok selfie! Dasar tukang pamer, kelihatan banget ibadahnya pengen dilihat orang!” Ketusnya saat melihat akun facebook.

“Mana coba sini lihat?” Penasaran juga saya ingin melihat selfie seperti apa yang disebut-sebut olehnya.

Sambil nunggu martabak yang saya pesan, gak ada salahnya ngobrol dengan kawan di samping yang lagi ngantri juga.

“Ini coba Ustadz lihat sendiri, di bandara pasang status, di Mekkah upload foto, di Madinah selfie,”

“Kelihatannya seperti foto biasa sama kaya orang lain juga suka selfie di restoran, di mall, namanya juga media sosial. Kok ente bisa tahu dia sedang pamer?”

“Lah itu kan lagi haji kok sempat facebookan, ngapain lagi coba Stad kalo bukan pamer?”

Biasanya saya senang melihat atraksi abang martabak ngelebarin segenggam adonan sambil diterbang-terbangin, cuma kali ini tampaknya saya harus serius menanggapi si kawan.

Lihat Juga :  Memanfaatkan Perkembangan Teknologi untuk Tabungan Akhirat

“Bisa saja dia ingin keluarganya tahu sedang berada di mana biar gak khawatir. Atau mungkin dia ingin teman-temannya yang melihat indahnya Mekkah jadi terpancing motivasinya ingin haji juga. Boleh jadi dia sedang mengalami sesuatu di tanah suci, tetapi dia tutupi karena gak mau mengeluh di facebook seperti orang lain.”

“Iya ya, banyak kemungkinan dari foto-foto itu,”

Suara berisik penggorengan beradu dengan spatula mulai terdengar. Tandanya si abang sudah mulai memasak martabak telor di atas minyak panas nih. Tapi saya tetap lanjut ngobrolnya, maklum lagi nanggung.

“Justru lebih banyak kemungkinan yang baiknya! Jadi mengapa kita harus menghakimi dia sedang pamer?”

“Astaghfirullah, jadi saya sudah menghakimi orang lain?”

“Lah emang ente yakin dia betul-betul sedang pamer? Bukannya hanya Allah yang tahu isi hati manusia? Kalau menilai hanya dari dugaan saja apa itu bukan menghakimi namanya?”

Lihat Juga :  Israel Musuh Kami (1) : Agen Mossad Ditangkap di Malaysia, Ancaman Bagi Kedamaian Asia Tenggara 

“Astaghfirullah, saya ngerti sekarang Ustadz,”

“Lagipula pesan Nabi, mukmin itu cermin bagi mukmin yang lain. Jadi apa yang kita lihat dari orang lain mencerminkan diri kita sendiri. Saat kita menilai orang lain sedang pamer, tandanya sifat riya itu ada dalam diri kita sendiri. Itu Nabi loh yang bilang. Makanya mukmin sejati itu melihat orang lain baguuus aja, karena hatinya juga sudah bagus.”

“Terimakasih Ustadz, saya faham sekarang. Itu martabaknya udah jadi, saya duluan ya Stad.”

Terkadang hikmah bisa berada di mana saja, tidak harus di masjid, bahkan di tukang martabak pun bisa. (*/SUMBER: FB SOLEHA/ Ustad Arafat)

Back to top button