KELUARGA

Muhasabah, Arti, Makna dan Manfaat untuk Diri

AsSSAJIDIN.COM – Sering kita mendengar ajakan kebaikan, “Marilah kita bermuhasabah diri”.
Sebenarnya apa arti, makna dan manfaat dari muhasabah?

Muhasabah secara etimologis berarti melakukan evaluasi terhadap diri sendiri dalam berbagai aspek kehidupan. Evaluasi tersebut dapat berkaitan dengan hubungan kepada Allah maupun berkaitan dengan hubungan antar sesama.

Dengan senantiasa melaksanakan muhasabah, seseorang tidak akan menyianyiakan waktu yang telah Allah berikan dalam kehidupannya. Ia akan mempergunakan umur yang telah diberikan untuk hal-hal yang bermanfaat demi mendapatkan ridha Allah SWT.

Selain itu, dalam kehidupan bermasyarakat seseorang senantiasa harus bermuhasabah. Untuk memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga mendapatkan hidup yang tenang dan selalu memancarkan energi positif kepada sesama.

Arti dari muhasabah sendiri telah dijelaskan dalam Alquran yang berbunyi, “ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr:18).

Dalam ayat tersebut yang perlu diperhatikan adalah muhasabah merupakan salah satu bentuk dari ketakawaan kepada Allah SWT. Sehingga muhasabah sangat dianjurkan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “ Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.” (HR. Imam Turmudzi).

Lihat Juga :  Muhasabah Diri Seorang Muslimah Menuju Akhlak Mulia

Manusia yang beruntung adalah manusia yang senantiasa memperbaiki diri dan selalu mempersiapkan dirinya untuk kehidupan yang kekal abadi kelak di akhirat.

Mengetahui kekurangan dan aib sendiri

Dengan bermuhasabah, seseorang akan mengetahui kekurangan dirinya. Setelah mengetahui hal tersebut, ia akan mencoba memperbaiki kembali kehidupannya. Dan justru tidak mengeluh atas kekurangan tersebut.

Selain itu, muhasabah diri juga akan membuat seseorang mengatahui kesalahan ataupun aib yang telah diperbuat. Dan senantiasa berusaha memperbaikinya dan berjanji untuk tidak mengulanginya kembali.

Dengan muhasabah diri, seseorang akan lebih menyadari keimanannya. Dan semakin memahami bagaimana cara untuk beribadah dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Selain itu, dengan bermuhasabah akan menambah kedekatan kepada Allah. Dan semakin besar peluang untuk mendapatkan cinta dan keridhan Allah dalam kehidupan.

Karena itulah muhasabah sangat dianjurkan sebagai bentuk introspeksi kepada diri sendiri dan mengevaluasi apa-apa yang telah diperbuat.

Umar bin Khattab pernah mengatakan, ” Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, itu akan memudahkan hisab kalian kelak. Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang kelak.”

Muhasabah diri akan membuat seseorang selalu mengingat setiap kesalahan yang pernah diperbuat. Dan berusaha untuk memperbaikinya. Sehingga kelak diakhirat akan dapat membantu meringankan hisab diri.

Lihat Juga :  Jadi Rebutan Bidadari Surga

Allah SWT berfirman, “ Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” (QS. Al-Haqqah: 18

Seorang mukmin selalu berusaha menghisab dirinya dan ia mengetahui bahwa ia akan berada di hadapan Allah kelak. Sedangkan orang munafik adalah orang yang lalai terhadap dirinya sendiri.

Orang yang sering bermuhasabah selain menyadari banyak kekurangan atas dirinya, orang tersebut juga tidak akan sombong. Sekalipun banyak amalan yang telah dikerjakan.

Seperti yang dikatakan oleh sahabat Nabi Muhammad bin Wasi, “ Andaikan dosa itu memiliki bau, tentu tidak ada dari seorang pun yang ingin duduk dekat-dekat denganku.”

Setiap manusia pasti pernah melakukan dosa dan berbuat salah. Sehingga tidak sepantasnya untuk berjalan diatas muka bumi dengan kesombongannya. Dan muhasabah diri menjadi pengingat untuk terus mengingat Allah dalam usaha memperbaiki diri.

Ia selalu memgunakan setiap waktu yang dimilikinya dengan baik. Dalam Tabyin Kadzbi Al-Muftari, Ibnu Asakir pernah menceritakan tentang Al-Faqih Salim bin Ayyub Ar-Razi bahwa ia terbiasa mengoreksi dirinya dalam setiap nafasnya. Ia tidak pernah membiarkan waktu tanpa faedah. (*/sumber: dream.co)

Back to top button