MOZAIK ISLAM

Kurban Sepi Pembeli, Baca Doa ini untuk Motivasi dan Semangat Berdagang

ASSAJIDIN.COM — Hari raya Idul Adha 1442 Hijriah sebentar lagi akan dijelang. Namun, akibat pandemi virus corona atau Covid-19, penjualan hewan kurban tahun ini sangat lesu. Banyak pedagang hewan kurban mengeluhkan sepinya pembeli di masa pandemi.

Menyinggung soal perniagaan alias jual-beli, tentu kerap mengalami pasang surut. Kadangkala laris manis, tak jarang pula ada kalanya sepi pembeli. Setiap pedagang tentu ingin barang jualannya laris. Sehingga, mereka yang gelap mata kerap memilih jalan praktis demi mengambil untuk, meski sebenarnya jalan itu haram dan dilarang oleh agama.

Lantas bagaimana caranya agar barang dagangan laris namun tidak melabrak aturan agama? Allah memerintahkan umat Islam mencari rezeki yang halal.

Terkait itu, Wakil Ketua Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (Madani), Ustadz Ainul Yaqin berujar bahwa sesungguhnya karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala amatlah luas. Rezeki dari Allah takkan pernah bisa kita hitung dengan kemampuan matematis.

“Rezeki Allah atas hambanya sangatlah dahsyat tak terhingga, tak terhitung dengan hitungan kita yang berbatas,” ucap Ustadz Ainul kepada Okezone, beberapa waktu lalu.

Terkait rezeki atas hasil jeripayah yang halal, disebutkan baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Artinya: “Tidaklah seseorang mengonsumsi makanan yang lebih baik dari makanan yang dihasilkan dari jerih payah tangannya sendiri. Dan sesungguhnya nabi Daud ‘alaihissalam dahulu senantiasa makan dari jeripayahnya sendiri.” (HR. Bukhari, Kitab al-Buyu’, Bab Kasbir Rojuli wa ‘Amalihi Biyadihi II/730 no.2072).

Lihat Juga :  Amalan agar Tawadhu, tidak Sombong dan Peduli Orang Lain

Sedangkan dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda:

ما كسب الرجل كسباً أطيب من عمل يده، وما أنفق الرجل على نفسه وأهله وولده وخادمه فهو صدقة

Artinya: “Tidaklah seseorang memeroleh suatu penghasilan yang lebih baik dari jerih payah tangannya sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahi dirinya, istrinya, anaknya dan pembantunya melainkan ia dihitung sebagai shodaqoh.” (HR. Ibnu Majah di dalam As-Sunan, Kitab At-Tijaroot Bab Al-Hatstsu ‘Ala Al-Makasibi, no.2129. al-Kanani berkata, ‘Sanadnya Hasan’, Lihat Mishbah Az-Zujajah III/5).

Ustadz Ainul Yaqin juga menambahkan, terdapat beberapa hadits dalam masalah berdagang yang menyebutkan keutamaannya. Serta, menyebutkan bagaimana adab-adabnya sebagaimana ada dalam Kitab At Targhib wa At Tarhib, yang disusun oleh Al Mundziri,

Ustadz Ainul juga mengutip hadits Rasulullah untuk dijadikan motivasi dalam berdagang:

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

Artinya: “Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memiliki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli,”

“Berdagang yang tidak kalah penting adalah keberkahan, sebab dari sanalah muncul yang namanya keuntungan tersendiri, berkah berarti bertambah dan meningkat apa yang dia usahakan atau perdagangkan,” kata Ustadz Ainul.

Sehingga, ia berpesan agar umat Islam berdaganglah dengan cara Nabi. Ilmu Nabi dan metode keberkahan dagang ala Rasulullah yang mengedepankan etika dagang sesuai syariat Islam akan mendapat keridhoan Allah Ta’ala.

Adapun doa yang dapat diamalkan agar mendapat keberkahan dalam berdagang ialah sebagai berikut:

Lihat Juga :  Ayah-Bunda Jangan Pernah Jemu Mendoakan Anak, Seperti Nabi Ibrahim AS

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ رَزَقَنِىْ هذَا مِنْ خَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَقُوَّةٍ، اَللهُمَّ بَارِكْ فِيْهِ

(Alhamdulillahilladzi rozaqonii haadza min ghairi hawlin minnii wa laa quwwatin Allahumma baarik fiihi).

Atau bisa juga membaca doa:

اَللهُمَّ اِنِّىْ اَسْأَلُكَ اَنْ تَرْزُقَنِىْ رِزْقًا حَلاَلاً وَاسِعًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلاَمَشَقَّةٍ وَلاَضَيْرٍ وَلاَنَصَبٍ اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ

(Allahumma inni as-aluka an tarzuqonii qizqon halalan waasi’an thoyyiban min ghairi ta’abin wala masyaqqatin walaa dhoiriin walaa nashobin innaka ‘ala kulli syai’in qodiir).

Dinukil dalam Kitab Durrot Ats-Tsaminah Fi Al-Ulumi Ar-Ruuhaniyyat karya Asy-Syaikh ‘Izzuddin Al-Iraqi hal. 20, bab طلسم للرزق ودفع الفقر (Tholasim Lil Rizqi wa Daf’il Faqri).

Adapun tata caranya yaitu:

Pertama, bacalah ayat di bawah ini setiap selesai sholat sunah fajar dan setiap selesai sholat subuh 70 kali, selama 40 hari mutawalliyat (berturut-turut) tidak boleh terputus, inilah ayat yang dimaksud :

رَبِّ إِنِّى لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

(Robbi inni limaa anzalta ilayya min khoirin faqiir).

Artinya: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku,”. (QS. Al-Qasash: 24).

Ijazah atas doa yang diajarkan para ulama’ maupun auliya banyak ragamnya. Termasuk berbagai asbab wurud yang dalam dunia hikmah dikenal dengan ijazah. Kebanyakan doa-doa tersebut berasal atau berakar dari ayat-ayat suci Alquran.

“Sepanjang niatannya adalah tabarukan, dalam rangka mengharap belas kasih dan ridho Allah Ta’ala, atas berbagai macam riwayat atau ijazah doa, maka tidak mengapa,” tutup Ustadz Ainul.(*/sumber: okezone)

Back to top button