PENDIDIKAN

Kisah Viral Mahasiswi Telat Ngampus karena Bersepeda Akhirnya Lulus Kuliah dan Dihadiahi Motor

ASSAJIDIN.COM — Terharu menyimak kisah perjuangan seorang mahasiswi ini untuk meraih sarjana. Gadis muslimah ini bernama Nurul Hasanah yang berusia 25 tahun, kuliah Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.

Nurul tiba-tiba jadi terkenal dan viral lantaran permintaan maafnya ke dosen yang kemudian sang dosen itu justru kembali minta maaf dan memposting-nya di laman facebook.

Maka kisah Nurul ini banyak mendapat simpati, atensi, haru bahkan dia diberikan hadiah sepeda motor oleh seorang yang kagum akan gigihnya berjuang menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya setelah orang itu membaca cerita tersebut.

Nurul menjadi viral setelah dosennya, Syafruddin Pohan, mengunggah tulisan berjudul “Maafkan Bapak, Nak” di akun Facebook.

Dalam postingannya, Pohan awalnya sempat merasa dikerjai oleh mahasiswinya itu karena tidak menempati janji dalam mengumpulkan tugas kuliah pada Selasa, 19 Januari 2021. Padahal dia sudah menunggu Nurul di kampus sejak lama.

“Dia WA saya minta maaf karena, katanya, di rental pengetikan dan penjilidan mati lampu. Wah ini modus, pikir saya lama-lama. Sering model (mahasiswa) seperti ini, terjadi di kalangan mahasiswa, beraneka macam dalih kepada dosennya,” tulis Pohan di akun Facebooknya.

Selanjutnya, karena terlalu lama menunggu Pohan pulang ke rumahnya di Kecamatan Medan Selayang. Ternyata saat dia di rumah, Nurul kembali menghubunginya.

“Dia kembali WA (WhatsApp), katanya dia mau mengantarkan tugasnya ke rumah saya. Biasanya, orang zaman now minta alamat agak canggih, mereka minta kirim shareloc. Tapi Nurul minta alamat saja,” ujarnya dikutip dari MAKLUMATNEWS.com.

Setelah menunggu setengah jam, Nurul tak kunjung tiba. Pohan merasa letih akhirnya rebahan karena lelah usai seharian beraktivitas di kampus.

“Saya tidur terlelap, sampai akhirnya istri bilang ada mahasiswa datang. Sungguh mata masih terpejam, tapi sayup terdengar ‘Ayah bangunlah jumpai sebentar. Ada mahasiswanya menunggu, dia naik sepeda’, kata istri saya,” ujar Pohan.

Pohan kemudian bangkit dari tidur dan melongok ke luar. Ternyata benar Nurul yang datang dengan menuntun sepedanya.

“Gerbang (lalu) saya buka dan memintanya untuk masuk ke rumah. Nurul tinggal di Kecamatan Tembung. Butuh waktu sekitar 1,5 jam, baru sampai ke rumah saya,” ujarnya.

Dari pertemuan itu, Nurul menjelaskan alasannya terlambat mengumpulkan tugas. Nurul berkisah sejak kelas 4 SD, dia sudah menjadi anak yatim. Ayahnya meninggal karena penyakit diabetes.

“Beberapa tahun berselang ibunya meninggal karena kanker. Jadilah Nurul yatim piatu dan tinggal bersama keluarganya se-ayah dan se-ibu,” tulis Pohan.

Karena kondisi ekonominya yang lemah itu, Nurul mencari penghasilan tambahan dengan mengajar mengaji di kampungnya.

Lihat Juga :  Ciptakan Karakter Disiplin Lewat Lomba Prestasi Pelajar Pramuka

Di dalam unggahannya itu, Pohan menuliskan kisah tentang Nurul menempuh perjalanan berkilo- kilometer dengan sepeda, demi mengantar tugas kuliah.

Bahkan, karena kondisi ekonominya yang lemah , Nurul mencari penghasilan tambahan dengan mengajar mengaji di Kota Medan dan rumahnya yang terletak di Jalan Sayur, Kecamatan Tembung, Kabupaten Deli Serdang, Sumut.

Jaraknya cukup jauh antara Medan dan Deli Serdang rumah Nurul berada. Ditempuh dengan motor saja membutuhkan waktu 1 jam lebih. Apalagi dengan sepeda. Namun, itu semua dilakukan Nurul demi menggapai cita-cita sebagai sarjana.

Nurul mengatakan, upayanya menemui dosennya dan jadi viral itu, hanya sebagai untuk menuntaskan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Namun dia tidak menampik kalau selama ini mengalami, kesulitan ekonomi.

Ayahnya meninggal terkena serangan jantung sejak dia duduk di kelas 4 SD. Lalu ibunya meninggal saat dia duduk di bangku SMA. Dia mengatakan kuliahnya berjalan lancar hanya sampai semester 5 saja.

Selama kuliah, Nurul mendapat beasiswa. Tapi, uang beasiswa tersebut digunakan untuk kebutuhan hidup. Dia saban hari kuliah menggunakan sepeda dari Deli Serdang ke Kota Medan.

Nurul merupakan mahasiswa angkatan 2013. Seharusnya, dia lulus kuliah tahun 2017. Namun, karena merasa kuliah berat harus mengayuh sepeda ke kampus dan juga kebutuhannya untuk memenuhi tugas kuliah yang berat, dia memutuskan cuti pada tahun 2017 hingga tahun 2018.

Nurul usai menerima hadiah sepeda motor usai mengikuti sidang meja hijau. Foto: Dok. Istimewa
“Masa itu, saya beranggapan tidak bisa lanjut kuliah, lagi, saya pun. Jadi kerja setahun,” ujar Nurul, saat ditemui di rumahnya, Jumat, 29 Januari 2021.

 

Sebenarnya, dia bisa saja mengandalkan bantuan dari kakak dan pamannya. Tapi, itu tidak dilakukannya karena tidak enak. Masalahnya, kakak dan pamannya juga sedang dalam kondisi sulit.

“Saya tidak enak hati merepotkan mereka terus,” ujar dia.

Selama cuti itu, dimanfaatkan Nurul untuk dengan bekerja sebagai pramuniaga di salah toko baju milik teman satu kuliahnya. Niatnya melanjutkan kuliah muncul saat dia, menemani temanya ke kampus untuk mengurus skripsi.

Di saat itulah dia bertemu dengan kepala Jurusan Ilmu Komunikasi, Dewi Kurniawati. Mengetahui kondisi Nurul, Dewi menasihatinya supaya menyelesaikan kuliahnya.

“Di sana Ibu Dewi menyuruh saya kuliah lagi dan meminta saya untuk menjumpainya” ujarnya.

Sejak itu, keesokan harinya Nurul ke kampus dan melanjutkan sisa kuliahnya. Nurul yang merupakan angkatan 2013 memulai kuliah kembali, pada tahun 2018.

Niatnya menyelesaikan kuliah demi mendapat gelar sarjana dimudahkan oleh Allah SWT. Banyak orang yang membantunya. Salah satunya adalah paman dan teman almarhum ayahnya yang kerap mengirimnya uang.

Lihat Juga :  Rakernas III Dewan Pendidikan se-Indonesia: Segera Bantuk Dewan Pendidikan Nasional

Nurul bersama dosennya yang memposting di facebook hingga viral.
“Keterlaluan kalau nggak selesai kuliah ini. Orang-orang yang bantu Nurul ini ibarat mereka butuh tapi mereka menyisihkan untuk saya,” ujarnya.

Meski demikian, Nurul tetap mengajar ngaji di rumah Al Quran di Jalan Darussalam Kota Medan dan rumahnya. Dia menyebut penghasilannya dari mengajar mengaji Rp 1 juta per bulan. Dia mengajar dari Senin hingga Jumat.

Demi menghemat biaya hidupnya, dia pergi mengajar Al Quran dengan menggunakan sepeda. Bolak-balik Medan-Deli Serdang.

“Kebetulan sepeda itu, milik tetangga, dititip ke rumah lantaran isi rumahnya penuh. Jadi saya gunakan untuk pergi mengajar ngaji,” ujarnya.

Wanita kelahiran tahun 1995 kini merasa bersyukur keinginannya menyelesaikan kuliah sebentar lagi akan terwujud. Pada Selasa (2/2), dia akan mengikuti sidang skripsi. Sama sekali sebelumnya tidak dibayangkannya dia akan bisa menyelesaikan kuliah.

Kata dia, semangatnya kuliah, kembali muncul ketika dia mengingat ayat suci Al Quran surat Ar-Rad ayat 11.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri. Lalu saya berikhtiar dan berdoa,” ujar dia.

“Nurul tekadkan, ya Allah (jadikan) ini memang yang terbaik, yang saya lakukan. Lalu saya bekerja dan mengumpulkan uang untuk kuliah dan hidup saya,” tuturnya.

Kini, Nurul Hasana sudah menyelesaikan sarjananya setelah sidang menyelesaikan sidang skripsi pada Senin, 1 Februari 2021.

Nurul dinyatakan lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. “(Saya) Mendapatkan nilai sangat memuaskan kata penguji, Alhamdulillah,” ujar Nurul, kepada wartawan, Senin (1/2).

Selain itu, ia juga mendapatkan hadiah sepeda motor yang diberikan oleh Rektor USU, Muryanto Amin. “Alhamdulillah sangat senang sekali diberikan (sepeda motor). Makasih banyak Pak Rektor USU, khususnya dan semua kalangan. Saya sangat nggak menyangka,” tambahnya.

Ia mengatakan, sepeda motor itu rencananya akan ia gunakan untuk aktivitas sehari-hari.

“Setelah tamat, kan mesti cari kerja atau untuk mengajar gitu kan, yang pasti (ada) efisiensi waktu dengan adanya sepeda motor ini,” ujarnya.

Sementara itu, Muryanto mengatakan, sepeda motor itu merupakan hadiah untuk Nurul yang viral di mediA sosial. “Sehingga ada seorang tergerak memberikan bantuan, hamba allah. Digerakkan Allah memberikan bantuan,” ujarnya .

Ia menambahkan, apa yang menimpa Nurul akan menjadi pelajaran bagi institusinya terutama soal pendataan mahasiswa yang mengalami kesulitan, agar segera mendapat bantuan.

“Kita akan cari jalan keluar bagi mahasiswa yang memiliki (kendala) biaya kuliah. Rutin tetap kita cari bapak asuh, kita lakukan itu perlu ke depannya,” pungkasnya. [*/Sumber: maklumatnews.com]

Back to top button