SEHAT

Prof Yuwono Ajak Memaknai Adanya Pandemi dan Berilmu Sebelum Lakukan Vaksin Covid-19

ASSAJIDIN.COM– Indonesia saat ini sudah hampir satu tahun berada di masa Pandemi Covid 19. Akan tetapi, meskipun sudah banyak informasi dan pendapat selama satu tahun ini kita masih belum sadar bahwa dalam setahun ini kita hanya mengandalkan Hipotesis dalam menyelesaikan masalah ini.

“Dalam setahun pandemi ini kita mengandalkan hipotesis, apa yang disebut WHO lalu disebut di Indonesia hingga dalam rumah tangga kita memakai hipotesis saja tanpa adanya ilmu dan pemahaman,” kata Prof Yuwono dalam ceramah subuh di Masjid Sultan Mahmud Badarudin belum lama ini.

Dokter sekaligus pendakwah ini mengatakan Orang – orang yang betul disebut berakal dan sejatinya manusia yaitu ulul albab, orang yang berzikir dan berfikir, tidak bisa hanya sekedar berzikir karena orang yang hanya berzikir akan dibohongi oleh orang yang berfikir.

Lalu orang yang sekedar berfikir akan sombong karena tidak berzikir. Oleh karena itu, ulul albab itu harus berzikir dan berfikir.
“Apakah kalian tidak melihat bahwa langit dan bumi ini ditundukkan untuk kepentingan kalian, dan Allah menyempurnakan nikmat kalian zhohir dan bathin tapi sebagian manusia mendebat Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk, tanpa kitab yang menerangkan” QS Luqman ayat 20.

Seperti contoh dalam menyelesaikan masalah pandemi covid19 dilakukan vaksin sebagai anggapan penyelesaian. Namun, Terlebih dahulu haruslah kita merujuk terlebih dahulu kepada ilmu kemudian naik kepada rasa yang namanya a’inul yakin. Hingga kepada kita betul-betul menyaksikan semuanya ada hikmahnya.

Mari sama sama kita kembali kepada ilmu, kepada hidayah Allah subhanawata’ala dan mari kita merujuk kepada kitab Al-Quran. Lalu bagaimana cara kita kembali bersama?

Dalam Al-Qur’an menyebutkan musibah sudah ditulis. ‘apapun musibah yang menimpa bumi dan mengenai diri kalian dan semua sudah ditulis oleh Allah subhanawata’ala dalam kitab sebelum kalian diciptakan bahkan sebelum bumi ini ada. “sudah ditulis semua dalam Al-Quran, tinggal bagaimana kita yakin,”ungkapnya.

Kemudian, bahwasannya Allah tidak akan membiarkan kita menyatakan ‘kami orang beriman’ setiap orang yang mengaku dia beriman maka ia akan di coba dengan ujian yang luar biasa, cobaannya mencapai hingga derajat zhulzilu (seperti gempa) diguncang terus hingga kita nyaris berputus asa. Apa tingkatan uji itu? Yaitu ketakutan.

“Ketika datangnya covid19, semua masyarakat ketakutan, bahkan berdekatan dengan jamaah, keluarga kita rasa takut. Namun itulah ujian Allah, harus kita akui dan diatasi dengan cara menyembah Allah. Semestinya, ketika diawal kita diberikan cobaan ini, kita mesti dekat dengan Allah bukan makin jauh,”katanya.

Lihat Juga :  625.777 Orang Palembang Sudah Divaksin

Lalu kemudian ujian selanjutnya yaitu lapar dan berkurang aset dan jiwa kita. “dari sekian banyak orang, dikurangkan oleh Allah, setiap manusia mempunyai perjanjian pada Allah terkait wafatnya, rezekinya, aktivoitasnya, kesengsaraan ataupun kebahagiaannya sudah ditentukan Allah, semua dalam bentuk Qada (tidak terlihat). Dan Allah sudah memberikan kita otak untuk memilih.

Allah subhanawata’ala menguji kita dengan perumpamaan yang sangat kecil, yaitu dengan makhluk kecil yang namanya virus Covid 19 yang mengobrak abrik dunia. Virus covid19 mengincar kepada orang- orang dewasa hingga lansia. Semua ketentuan sudah ada hikmahnya, Ini mengingatkan kepada kita bahwa orang dewasa hingga lansia belum adanya kesadaran.

“Di usia dewasa ini apakah kita sudah dekat dengan Allah, apakah sanggup melewati ujian dari Allah, bahkan Nabi Muhammad diberikan hikmah di usia 50 tahun untuk sadar bahwa kehidupan akan berakhir pada Allah,”katanya.

Cara kerja Covid19 ada tiga tahapan lanjutnya, yaitu tahapan pertama pada minggu pertama pasien berada di fase penularan, minggu kedua pada fase krisis atau fase ringan dan pada minggu ketiga akan pada face kesembuhan.

Gejala covid19 hanya ada dua ciri utama yaitu tubuh terasa lemas dan nafsu makan turun sehiingga tidak tercium bau. Lalu, cara mengetahui terkena atau tidaknya covid yaitu dengan test Swab PCR jika sudah ada kejala. Selanjutnya, sampai pada hari ini, menurutnya pengobatan covid19 ada dua macam yaitu dengan obat – obatan anti virus dan menggunakan plasma (di infus menggunakan darah orang yang sudah sembuh dari covid19) dan kembali lagi kepada imunitas seseorang.

Bagaimana mencegah covid19 ada dua cara yaitu hiduplah dengan cara PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) karena Allah cinta pada orang yang bertaubat dan hidupnya bersih dan sehat. “seperti ketika masuk kedalam masjid, kita sebelumnya berwhudu dan tidak ada hadas kecil maupun besar. memakai pakaian bersih dan taqwa, membaca doa dan melangkahkan kaki dimulai dari sebelah kanan, demi meminta rahmat Allah karena memasuki rumahnya, kita aman ketika berada dalam rumahnya”katanya.

Di seluruh dunia, tidak ada data yang menyebutkan ada penularan virus corona19 di dalam masjid. Karena orang yang masuk kedalam masjid dalam keadaan sehat dan sudah dengan pola bersih dan sehat.

Selanjutnya, bahwasanya pemerintah indonesia mengambil keputusan untuk dilakukan vaksin. Kita sebagai masyarakat yang patuh terhadap keputusan pemerintah haruslah mempunyai sikap sami’na wa a’tonah. Namun, sebelum kita mengikuti perintah tersebut, kita haruslah berilmu, mengerti dan paham.

Lihat Juga :  Hepatitis Akut Misterius Serang Anak, Berikut Cara Pencegahannya

“saya tidak anti vaksin, tapi saya anti kebodohan. Yang disebut dalam Al-Quran Jahiliyah. Kesembongan jahiliyah. Oleh itu, kita berhak dapatkan penjelasan dan informasi yang benar tentang vaksin,”katanya.

Ia menjelaskan bahwa vaksin merupakan zat yang bisa jadi virus atau bagian virus, vaksin yang ada di Indonesia Sinovac itu adalah virus yang dilemahkan. Vaksin yang ada di Amerika yaitu vaksin bagian virus.

Kemudian, vaksin disuntikkan dengan tujuan yaitu membentuk anti bodi netralisir infeksi. Jadi, orang yang divaksin harapannya tidak akan terkena dan sakit lagi. Namun, kenyataannya seperti contoh bupati Sleman terkena covid setelah vaksin. Hal tersebut bisa dijelaskan karena manusia tidak ada yang sempurna.

Vaksin harus memenuhi dua syarat yang pertama yaitu keamanan yang tidak menyebabkan celaka dan kemanjuran yang jika disuntikkan tidak akan terkena lagi. Hasil penelitian meyatakan 65% kemanjuran. Oleh karena itu orang yang disuntik vaksin bisa kemungkinan terkena virus covid19.

Ia berharap, Majelis Ulama Indonesia jangan menyatakan halal dan suci. Karena kejelasan tersebut mengartikan benar- benar aman dan manjur. Faktanya, keamanan dan kemanjuran tidak 100%. Ada kemungkinan yang tepat yaitu memakai dalil Al Qur’an ‘barang siapa yang dalam keadaan darurat, maka diperbolehkan’.

“Vaksin dilakukan hanya yang masuk pada uji coba yaitu usia dari 19 tahun hingga 59 tahun karena penelitian dilakukan pada usia tersebut,”katanya.
Ada yang lebih manjur daripada vaksin yaitu Imunitas alami aktif dengan cara banyak melakukan aktivitas dan banyak gerak salah satunya gerakan salat yang dilakukan lima kali dalam sehari semalam. Gerakan paling bagus adalah salat yang tiap tiga jam gerakan shalat.
“kemudian bertemu dengan banyak orang salah satu cara menjaga imunitas,”katanya.

Namun, sebelum dilakukan vaksin harus adanya screening, seperti yang mempunyai penyakit yang membahayakan jiwa dan pernah terkena covid19 tidak perlu di vaksin. Kemudian, penyuntikan dilakukan dengan benar agar vaksin dalam tubuh bekerja dengan baik dan menunggu 30 menit agar untuk melihat kondisi apakah aman atau tidak. Setelah divaksin, harus di pantau keadaan tubuh 24 jam dan setelah berhari-hari ada kemungkinan kecil jika terkena lagi.

“Saya sebagai dokter dan jamaah, mengingatkan agar segala sesuatu yang dilakukan haruslah dibersamai dengan ilmu jangan tanpa ilmu, dan untuk pemimpin agar lebih bijak dalam membimbing masyarakat dalam mencerdaskan bukan menakut-nakuti masyarakat”katanya. (*)

Penulis: tri jumartini

Back to top button