MOZAIK ISLAM

Geliat Penghapal Alquran yang Semangat Belajar di Ponpes Dusun Terpencil Desa Sungai Ceper Kab OKI Sumsel

ASSAJIDIN.COM — Pendidikan anak-anak yang ada di Dusun Tangsi Desa Sungai Ceper Darat Kecamatan Sungai Menang OKI hanya mengandalkan Ponpes Hidayatul Qur’an.

Ternyata, meski bersekolah di ponpes yang kecil anak-anak Sungai Ceper sudah mulai menghafal Al-Qur’an. Peran serta para pengajar disini, juga tidak lepas meski anak-anak di sini jauh dari teknologi maupun keramaian yang ada di Kabupaten OKI.

“Alhamdulilah, sekarang sudah banyak anak-anak yang menghafal Alquran. Ada yang sudah 4 juz, sekarang mulai banyak menghapal, sudah ada yang hafal 1, 2 dan 3 juz. Paling tinggi 4 juz,” kata Ustad Khalisen yang saat ini menjabat sebagai Pimpinan Ponpes.

Sejak berdirinya ponpes yang didirikan secara swadaya masyarakat, saat ini pola pikir masyarakat yang ada di Sungai Ceper sudah berubah.

Selain beraktivitas sehari-hari, sekolah juga jadi prioritas anak-anak di sana. Dukungan para orangtua, juga tidak lepas untuk anak-anak di sana sekolah.

“Dulu acuh, anak-anak tidak sekolah. Sekarang, jauh berubah. Mereka sudah paham pentingnya sekolah. Hanya saja, sarana dan prasarana yang masih kurang. Akses jalan juga jadi kendala anak-anak di sana untuk berangka ke sekolah,” ungkapnya.

Ponpes kecil yang hanya memiliki dua kelas belajar ini, dirintis tahun 2016. Baru disahkan dengan akte notaris tahun 2018 dan beroperasional tahun 2019. Jauh dari perhatian pemerintah, ponpes yang didirikan secara swadaya masyarakat ini berharap bisa jadi sarana anak-anak sekolah dan belajar ilmu agama.

Ponpes yang ada diperbatasan antara wilayah Gajah Mati dan Sungai Ceper ini, menjadi satu-satu sarana anak-anak di dua wilayah ini untuk menuntut ilmu. Ponpes ini berdiri, berawal dari program keagamaan yang digalakan dua orang ustad asal Palembang.

Ustad Khalisen yang saat ini menjabat sebagai Pimpinan Ponpes, dan Ustad Heriyanto yang menjabat sebagai Ketua Yayasan Cipta Karda Madania.

Kedua Ustad ini, awalnya sempat berpikir dua kali untuk berdakwah di wilayah ini. Mereka paham, karakteristik masyarakatnya dan juga wilayah yang dikenal sebagai sarangnya senjata api rakitan.
Saat masuk ke wilayah itu, mereka sempat was-was. Karena tidak bisa menjamin keselamatan mereka. Beberapa tokoh masyarakat dan tetua di sana mereka temui, hingga akhirnya diperbolehkan untuk berdakwah.

Lihat Juga :  SEMBUNYIKANLAH AMALMU NAMUN JANGAN SEMBUNYIKAN ILMUMU

“Awalnya mengajar mengaji, satu bulan pindah-pindah dusun. Mengajinya untuk orangtua dari tahun 2016 hingga 2017. Mulai banyak yang ikut mengaji, sampai ada beberapa warga yang datang dan ingin ikut mengaji. Saat itu katanya, mereka tidak bisa membayar, hanya bisa memberikan ini (senpi rakitan, RED). Kagetnya bukan kepalang, warga menyerahkan senjata. Kami jawab, sudah ada niat belajar agama sudah sangat baik. Tidak perlu membayar,” cerita Ustad Heriyanto saat ditemui di Rumah Singgah Umur Romlah, Selasa (19/1/2021).

Seiring berjalannya waktu, orangtua yang sudah belajar mengaji mengusulkan untuk belajar anak-anak. Terlebih, di wilayah itu anak-anak sulit untuk bersekolah. Karena, sekolah di sana terbilang jauh dan aksesnya juga terbilang sulit.

Anak-anak di sana lebih memilih untuk bermain, sampai kelas 6 SD belum bisa membaca. Dari situ, saran yang diberikan direalisasikan. Sejumlah tokoh masyarakat, tetua dan juga warga sepakat untuk bergotong royong membuat sekolah.

Setelah musyawarah, diputuskan untuk membangun ponpes. Pilihan ponpes didirikan dengan tujuan, agar anak-anak bisa sekolah dan mendapat ilmu agama. Disisi lain, orangtua yang sudah belajar mengaji tetap bisa belajar di ponpes tersebut. Ponpes ini, berdiri di atas tanah warga yang ikhlas menghibahkan untuk didirikan ponpes.

Sekarang ada 108 siswa baik itu MI dan MTs. Untuk belajar, ponpes ini mengandalkan dua kelas. Sisanya menggunakan dapur, asrama dan masjid. Untuk dua kelas tersebut, diperoleh dari CSR yang diajukan ke perusahaan. Sisanya, swadaya masyarakat membangun masjid, dapur dan lainnya

“Saat baru berdiri, sedih rasanya. Tentang agama anak-anak disana tidak tahu, sampai saat ditanya siapa nama presiden dan gubernur juga tidak tahu. Tahunya dengan pistol. Saat itulah, kami bertekad untuk bisa membuat anak-anak di sana bisa sekolah dan belajar agama,” ujarnya.

Saat ini, kegiatan belajar mengajar dan juga pengajian orangtua bisa berjalan. Dengan mengandalkan sarana dan prasarana seadanya, antusias anak-anak dan juga orang tua untuk belajar terbilang tinggi.

Tanpa promosi, anak-anak dan orang tua berupaya untuk berubah. Warga yang ada di dua wilayah tersebut, sudah paham pentingnya pendidikan dan belajar agama. Warga di sana, juga ingin mengubah image wilayah mereka yang kurang baik diluaran selama ini.

Lihat Juga :  Menjadi Manusia Terbaik di Mata Allah

“Karena ponpes, pastinya ada yang menginap. Jadi kami putuskan untuk yang menginap MI kelas 4, 5, dan 6. Untuk yang Mts kami seleksi, karena memikirkan daya tampung asrama yang hanya mampu menampung 30 orang saja. Rumahnya yang jauh, untuk menginap. Kalau tidak jauh, bisa pulang,” ungkapnya.
Tak hanya terkendala sarana belajar mengajar yang kekurangan, buku dan pakaian sekolah juga digunakan siswa-siswa di ponpes ini juga seadaanya. Bila ada siswa yang pernah sekolah, bisa menggunakan seragam. Tetapi, bila belum tidak dipaksakan untuk menggunakan seragam. Siswa bisa menggunakan pakaian pantas untuk sekolah.

Buku-buku juga termasuk kekurangan, para ustad dan juga warga yang kebetulan pergi ke Palembang, sedikit-sedikit membeli buku untuk memenuhi buku pelajaran para siswa.

“Akses jalan juga menjadi kendala anak-anak untuk berangkat. Jalan yang diakses, sangat sulit untuk ditempuh. Karena jalannya tanah merah, jadi kalau hujan anak-anak susah untuk ke sekolah. Kami mengajukan lagi CSR ke perusahaan, jadi dibantu satu mobil truk untuk mengangkut anak-anak,” ungkapnya.

Anak-anak di sana, tidak mengenal namanya ponsel. Karena memang, jaringan sinyal di sana sulit diperoleh. Penerangan, juga baru sebagian yang terpasang. Karena, baru tiang listrik yang masuk dan belum sepenuhnya dialiri listrik.

Mulai dari akses jalan yang sangat jelek, hingga sarana dan prasarana yang kurang, menjadi kendala anak-anak di sana untuk bersekolah. Akan tetapi, para orang tua yang mulai paham pentingnya pendidikan dan juga ilmu agama membuat ponpes ini terus berjalan.

Belum ada bentuk perhatian ataupun bantuan baik dari pemerintah Kabupaten maupun provinsi. Hanya, beberapa waktu lalu ada tim survei yang datang untuk mengecek kelaikan operasional ponpes.

“Kata tim survei, sudah laik. Kami sempat mengungkapkan, meminta bantuan terutama untuk anak-anak agar bisa menunjang belajar. Tetapi, sampai sekarang tidak ada realisasinya. Kami sama sekali tidak memungut bayaran untuk anak-anak belajar, semuanya gratis. Tetapi, kekurangan sarana dan prasarana yang menjadikan anak-anak mengalami kesulitan belajar,” ungkapnya. (*/Sumber: tribunsumsel.com)

 

Back to top button