Uncategorized

Sukses Berbisnis, Selalu Ingin Terus Belajar Alquran

Resensi Buku "Sebuah Biografi, Perjalanan Hidup H Djuliar Rasyid"

ASSAJIDIN.COM — “DJULIAR kecil adalah seorang anak, yang mau tidak mau harus mengikuti irama kehidupan yang penuh dengan perjuangan”.

Itulah kalimat perdana yang menghiasi halaman pertama mengawali membaca buku berjudul Sebuah Biografi Perjalanan Hidup H Djuliar Rasyid, yang ditulis H Bangun Lubis.

Benak ini langsung tergiring, Djuliar bukanlah orang yang tumbuh dan berkembang dengan kehidupan yang serba manis. Di usianya yang tahun ini menginjak 81 tahun, kita tentu telah membayangkan betapa asam garam kehidupan telah dirasakan sampai di pencapaiannya di usia
“bonus” seperti sekarang.

Menjadi seorang pengusaha yang tetap eksis dengan berbagai aktivitas,
termasuk bidang keagamaan.
Di dalam buku setebal 122 halaman, rasanya tak terlalu harus mengeluarkan energi membacanya seperti kalau membaca buku biografi pada umumnya yang bisa-bisa memakan lebih dari 300 halaman. Di saat santai dan rileks buku biografi ini cukup asyik dibaca karena menceritakan perjalanan hidup dan karir dengan begitu gamblang dan lugas namun penuh makna dan pesan.

Diceritakan bagaimana masa kecil Djuliar yang tak sebebas anak kecil kebanyakan. Djuliar harus merelakan waktu bermainnya dengan membantu ayah dan ibu berjualan dari pasar ke pasar di kawasan Bukittingi Sumatera Barat. Layaknya anak pedagang, Djuliar sudah terbiasa berlelah-lelah mengangkut dagangan.

Djuliar bersyukur hidup di tengah keluarga yang saling menyayangi. Pun dengan kakak sulungnya Yuslinar yang memang dekat dengan Djuliar kecil.
Didampingi sang kakak, Djuliar umur memaksa ikut sekolah, padahal usianya baru enam tahun. Jadilah, Djuliar yang smart, satu kelas dengan kakaknya padahal usia mereka beda satu tahun namun lulus SD bareng.
Singkat cerita hingga SMA, Djuliar muda melaluinya dengan tetap sambil berdagang meski harus berpindah kota ke Padang. “Saya merasakan bagaimana susah dan nikmatnya berjualan rokok keliling, susah karena melelahkan. Nikmat karena bisa menghibur nelayan pelanggan kami, juga penonton di Bioskop Kapitol,” kenang Djuliar.

Pak Haji, demikian sapaan akrabnya kini, menceritakan, keahliannya berdagang tak luput dari sang ibu yang memang ahli berdagang. “Saya lihat ibu selalu ramah kepada pelanggan. Itu adalah ilmu yang saya contoh,” katanya.
“Ibu berdagang bukanlah karena banyak uang untuk modal. Tapi ibu diberi kesempatan oleh seorang pedagang besar berutang. Setelah barang laku, modal utang dikembalikan begitu seterusnya. Begitulah cara ibu ikut menopang keluarga untuk tetap hidup. Sebenarnya cara berdagang in jug dilakukan oleh para pengusaha sekarang tetap kalau sekarang dalam partai besar”.

Lihat Juga :  Pesan Menhan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu untuk Prajurit di HUT Kodam II Sriwijaya

RM Nusa Indah dan Remifa
Tidak hanya besar dengan ilmu dagang, Djuliar juga memiliki banyak pengalaman yang menempanya menjadi seorang yang agamais dan religius. Baginya sangat biasa tidur di surau setelah mendalami agama, bukan pulang ke rumah. Itu dilakukannya bertahun –tahun hingga dewasa.
Tahun 1956, atau saat usia 17 tahun, Djuliar merantau ke Palembang. Dunia militer sempat diterjuninya dengan menjadi anggota TNI, tapi darah pedagang terus mengalir sehingga ia memutuskan mengundurkan diri dari militer dan melanjutkan usaha keluarga yakni mengelola rumah makan Padang dan percetakan.
Bila Anda ingat dulu ada rumah makan Padang bernama Pelangi di Jalan Kapten A Rivai dan rumah
makan di Nusa Indah di bawah jembatan Ampera, itu adalah rumah makan yang dikelola Djuliar dan
keluarga. Sampai sekarang meski RM Nusa Indah tidak ada lagi, kawasan Ampera itu masih disebut
warga kawasan Nusa Indah.
Semua bisnis yang dikelola Pak Haji bersama keluarga sukses. Sebut saja usaha fotokopi Remifa, di
masanya menjadi usaha terbesar di Palembang. Juga saat usia makin “senior”
Pak Haji terus mengembangkan usahanya di bidang lain, di antaranya, Yayasan Pendidikan Alfurqon, pabrik kopi Radix, usaha properti, Rumah Sakit Islam Ar-Rasyid dan membangun media massa Assajidin Group yang menjadi medianya untuk terus berdakwah.
Satu pesan yang sangat berkesan disampaikan Pak Haki di buku ini. “Belajar dulu baru berwira usaha. Tidak cukup modal nekat, harus ada ilmu yang dipelajari meski bukan formal, dengan begitu kita akan tahu situasi pasar dan produk apa yang bisa dijual”.

Titik Balik
Setiap manusia pasti pernah mengalami titik balik. Demikian juga yang dialami Pak Haji. Ia merasakan titik balik dialaminya pada tahun 1989, titik balik baginya adalah
keinginan yanng tinggi untuk mendalami agama. “Perasaan saya resah. Saya mulai mempelajari
tafsir Alquran. Saya ingin berdakwah,” ujarnya.

Lihat Juga :  Jangan Sampai Puasa Kita Hanya Mendapatkan Haus dan Lapar, karena Hal ini

Keresahannya ini kemudian terjawab dengan mendirikan sebuah sekolah pendidikan Islam terpadu di tahun 2003, dimulai dengan menerima siswa playgroup dan akhirnya sekarang telah berkembang memiliki siswa TK, SD, SMP dan SMA di bawah naungan SIT Yayasan Alfurqon. “Saya berharap Yayasan yang didirikannya dapat menerapkan ajaran Alquran. Alquran hudallinnas, petunjuk bagi manusia,”

Masih banyak cerita yang dikupas di dalam buku, yang tentu tidak asyik lagi bila semua dibeberkan dalam tulisan resensi buku ini. Salah satunya kisah sukses dan romantisnya Pak Haji bersama istri Hj Masni dalam membangun rumah tangga yang sakinnah mawaddah warohmah hingga dikaruniai lima orang anak, menantu dan cucu-cucunya saat ini.

Ada juga cerita bagaimana Djuliar muda tergoncang saat PKI Bangkit di tahun 1965, hingga kegalauan Pak Haji di usia senjanya, melihat kondisi umat yang jauh dari Alquran. Pak Haji ingin selalu bersama umat, belajar Alquran dan akhirnya bisa membangun Pusat Kajian ilmu Alquran.

Sungguh luar biasa perjalanan hidup Pak Haji selama ini. Banyak pesan dan hikmah yang bisa kita gali dari buku ini sekaligus menjadi teladan kita dalam berbisnis sekaligus mengabdikan diri untuk agama.

Namun, tak ada gading yang tak retak, buku juga terdapat sedikit kekurangan. Alur cerita yang meloncat-loncat, antara sub-sub judul membuat pembaca sedikit terputus dalam menyelami cerita. 

Meski tetap bisa dipahami karena disesuaikan dengan angle cerita.
Di sisi lain, cover buku terkesan malu-malu dan foto diri Pak Haji yang sedikit blur, membuat buku
terlihat biasa saja . Ini bisa dipahami karena mungkin disesuaikan dengan karakter Pak Haji yang terkenal sederhana dan tak terlalu ingin menonjolkan diri.

Akhir kata, mengutip kata pengantar dari Gubernur Sumsel H Herman Deru dalam buku ini. “Saya
mengenal bapak Haji Djuliar karena beliau orang baik. Beliau tidak banyak bicara, tapi bila bertemu,
beliau memberi nasihat sebagaimana orangtua kepada anak”

Semoga buku ini dapat memberi inspirasi, memberi hikmah, ikhtibar dan pelajaran kepada para pembaca”. (*/Novi Amanah)

Back to top button