ALFURQON SCHOOL

Mencintai dan Meneladani Sahabat Rasulullah SAW

Oleh: Bangun Lubis [ Wartawan AsSAJIDIN]

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan risalah tauhid dan agama yang benar. Risalah dan agama yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersifat universal, artinya ia berlaku untuk seluruh umat manusia di dunia tanpa tersekat oleh tampat dan waktu, dan ini merupakan salah satu ciri khas risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di samping hal ini telah dinyatakan oleh Allah dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, hal ini juga dibuktikan oleh kenyataan bahwa tidak ada wilayah di bumi ini, kecuali telah terjangkau oleh Islam. Sabda Rasulullah, “Dan aku diutus kepada manusia seluruhnya.” (HR. al-Bukhari dari Jabir bin Abdullah, no. 335).

Meskipun risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersifat universal, tidak berarti dan tidak harus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang membawa dan menyampaikannya dengan berkeliling dunia dari satu daerah ke daerah lainnya, tanpa beliau berkeliling ke penjuru dunia, Islam telah benar-benar memayungi seluruh wilayah bumi.

Hal ini karena Islam memiliki orang-orang yang bersemangat sangat tinggi dalam menyampaikan (risalah) dan berdakwah, dan di barisan terdepan orang-orang tersebut adalah sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka inilah pertama kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan semangat untuk menyampaikan (risalah).

Lihat Juga :  Mereka yang Dimuliakan Allah, Sabar dan Ikhlas dalam Beramal Ibadah

Di haji wada’ di hari penyembelihan (hewan kurban), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan kembali dorongannya kepada para sahabat untuk menyampaikan (risalah), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Pernyataan itu, menurut Ustads Arfan M Alwy, saat memberikan kajian Ahad lalu di Mesjid Al Furqon, merupakan sebuah anjuran agama untuk menyampaikan risalah kebenaran dan seluruh aturan keagamaan. Di sisi lain generai umat sekarang agar meneladani para sahabat yang menyampaikan risalah kebenaran tersebut. Sebagaimana sebuah Hadist dari Rasulullah, bahwa “Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.” (HR. al-Bukhari dari Abu Bakrah, no. 67) . Mereka yang hadir adalah sahabat yang terdahulu.

Arfan M Alwy menjelaskan, para sahabat inilah yang menjadi  perantara antara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan umat, tanpa perantaraan mereka (dengan izin Allah), umat tidak akan mengetahui ajaran dan tuntunan Rasulullah. Sebuah jasa besar yang tidak akan tertandingi oleh generasi apa pun dan kapan pun dari umat ini.

Tidak sedikit ayat-ayat Alquran di mana di dalam surat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala menyanjung mereka, salah satunya adalah Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir- sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Lihat Juga :  SDIT Al Furqon Gelar Kegiatan Baksos dan Penampilan Seni untuk Tumbuhkan Karakter Profil Pancasila pada Siswa

Di samping itu, Rasulullah telah mewasiatkan kepada umat Islam agar menghargai jasa mereka dengan tidak mencela mereka. Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka (infaknya tersebut) tidak menandingi satu mud atau setengah mud (infak) salah seorang dari mereka.” (Muttafaq alaihi, Mukhtashar Shahih al-Bukhari no. 1755, Mukhtashar Shahih Muslim no. 1746)

Bukankah Rasulullah bersabda, “Kamu bersama orang yang kamu cintai.” Dengan berpijak kepada hadis ini, Anas berkata, “Aku mencintai Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar, Ustman dan Ali bin Abi Thalib, aku berharap bersama mereka dengan cintaku kepada mereka meskipun aku tidak beramal seperti amal mereka.” (Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1459). Begitupun hendaknya kita tetap mencintai dan melakukan semua anjuran keagamaan yang disampikan oleh para sahabat kepada kita melalui berbagai generasi setelahnya.(*)

Back to top button