Uncategorized

Tips dari Kepala BI dan Pakar Ekonomi, Bertahan di Masa Pandemi dan Ancaman Resesi

ASSAJIDIN.COM – Dalam keadaan pandemi Covid19 saat ini, Ada kaitan akan terjadinya resesi di Indonesia dikarenakan pergerakan masyarakat terbatas. Oleh sebab itu mampukah kita menghadapi agar terhindarnya dari resesi akibat pandemi yang terjadi.

Ikatan Alumni Program Studi Manajemen Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Palembang menggelar webinar bersama Kepala Perwakilan BI Sumsel, Hari Widodo, Direktur Pasca Sarjana UMP Dr Sri Rahayu S.E M.M, Ketua IKA PPs UMP dan Kepala Bendung Perjaya BBWSS VIII Rudy Susilo dengan tema ‘mampukah kita menghadapi resesi’, Rabu (9/10/2020).

Resesi merupakan kondisi turunnya perekonomian secara signifikan yang menyebar ke seluruh ekonomi dan berlangsung lebih dari beberapa kuartal.

Pandemi Covid19 mempengaruhi penurunan PDB global. Hal ini terlihat dari penurunan Beberapa indikator global seperti volume perdagangan dunia dan kinerja manufaktur global. Peningkatan kasus Covid 19 yang terus terjadi dab adanya resiko munculnya second wave masih memberikan ketidakpastian.

Bahkan, Beberapa negara juga sudah jatuh ke jurang resesi. Inggris menjadi Negara kesepuluh dunia yang mengalami resesi. Bagaimana dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia di Triwulan II 2020.

Lihat Juga :  Bosan di Rumah, JSC Jadi Destinasi Piknik Dadakan Warga Palembang

Untuk perekonomian Sumatera Selatan di Triwulan II 2020 mengalami kontraksi sebesar 1.37 % (yoy) ; – 2,30 (ytd) turun dibandingkan Triwulan sebelumnya. Dari sisi LU, pertumbuhan ekonomi masih ditopanh oleh membaiknya kinerja sektor pertanian dan kehutanan yang masih tumbuh teratas.

“Dari sisi pengeluaran, semua kelompok mengalami kontraksi,”katanya.

Kecepatan pemulihan ekonomi dipengaruhi perkembangan covid 19, mobilitas ekonomi, besaran dan stimulus kebijakan serta kondisi keuangan dan korporasi suatu negara.

Bank Indonesia juga merespon kebijakan seperti penurunan suku bunga 7DRR, Stabilisasi nilai tukar rupiah, pasar uang dan valuta asing, pelonggaran likuiditas, penyesuaian makroprudensial agar perekonomian terus bergerak dan BI melakukan sistem pembayaran dengan melakukan Digitalisasi.

“Beberapa dilakukan agar membantu masyarakat dan mempermudah bertransaksi di BI,”katanya.

Namun, beberapa kebijakan yang dibuat tentunya harus disampingi dengan kesadaran masyarakat untuk mengadopsi gaya hidup baru di era kenormalan baru dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid19 dalam kehidupan sehari hari.
“Peran kesadaran masyarakat sangat penting bahkan untuk meningkatkan kembali perkembangan ekonomi,”katanya.

Ia menambahkan, saat ini sejalan dengan prospek ekonomi global, perekonomian Sumsel menunjukkan perbaikan denhan mulai membaiknya komponen pengeluaran yang terlihat dari aktovitas masyarakat, rencana investasi dan ekspor luar negeri.

Lihat Juga :  Masya Allah... Milenial Palestina, Taqwa Zahir, Berhasil Pelajari Alquran Hanya 6 Bulan Saat Lock Down Akibat Pandemi

“Kita harap agar kita keluar dan tidak masuk ke dalam zona resesi, BI mendorong kinerja dan menjaga Momentum perbaikan ekonomi sumsel, perlu disusun kebijakan yang berfokis pada pembukaan sektor ekonomi produktif, peningkatan konsumsi, dan mendorong investasi,”katanya.

Sementara itu, Direktur Pasca Sarjana UMP Dr Sri Rahayu S.E M.M, mengatakan ada beberapa cara agar kita terhindar dari resesi.

“Pertama kita harus berhemat, tidak berarti pelit. Untuk hal hal yang tidak penting kita tidak perlu keluarkan kecuali kebutuhan pokok. Kedua, siapkan dana darurat. Karena kita tidak tahu keadaan kedepan apakah akan sakit, kebanjiran dll serta Mendukung usaha UMKM.

Pada saat ini UMKM sedikit terganggu dengan adanya Covid19 karena keterbatasan yang ada.
“Misalnya Lubuklinggau yang menghasilkan al pukat, kita lihat bagaimana kita meningkatkan kualitas agar dapat menopang. Sedangkan kota Palembang kita berpatokan dengan dinas pariwisata, Palembang terkenal akan kulinernya, maka kita haris berfikir bagaimana agar kuliner dapat maju”katanya.(*)

Penulis: tri jumartini

Back to top button