Uncategorized

Mencoba Terbiasa pada Kenormalan Baru

Oleh. Mohammad Eko Fitrianto

AsSAJIDIN.COM –Pernah mendengar cerita tentang seekor katak yang mati terebus didalam wajan? Ya itu adalah sebuah analogi untuk orang yang tidak peka dengan perubahan, ia telalu nyaman dengan kondisi sebelumnya (status quo) sehingga ketika kondisi lingkungan berubah ia tidak sempat menyesuaikan diri dan akhirnya mati. Analogi ini tepat pada keadaan sekarang, dimana kita menghadapi kondisi kenormalan baru. Namun jika dikaitkan dengan kondisi sekarang, perbedaannya terdapat pada waktu perubahan. Pada cerita katak tersebut, kompor dinyalakan dengan api kecil sehingga air mendidih secara perlahan. Sekarang, kompor dinyalakan langsung dengan api besar, apakah katak menyadarinya dan langsung melompat?.

Apa itu kenormalan baru? Menurut saya kenormalan baru ini harus dimaknai dengan “Hidup harus terus berlanjut sambil memperhatikan dan menaati aturan-aturan keselamatan baru yang berlaku”. Sebenarnya kenormalan baru bukanlah hal yang istimewa, semua orang bisa jadi pernah merasakannya dengan cara yang berbeda-beda, masalahnya ada pada seberapa besar penolakan untuk menerima kondisi baru tersebut. Pada saat teknologi internet muncul, secara normal untuk memberi kabar kepada orang lain, seseorang harus menulis dan mengirimkan surat ke kantor pos. Namun dengan adanya teknologi internet, seseorang memiliki pilihan yang lebih praktis, cepat, dan murah yaitu dengan menggunakan surat elektronik. Inilah sebuah kondisi kenormalan baru, dimana kondisi yang sangat berbeda dengan kondisi sebelumnya. Apakah semua orang menerima dengan baik “kenormalan baru” ini? Jawabnya adalah belum tentu. Rasa nyaman yang didapatkan seseorang pada kondisi sebelumnya bisa menjadi faktor penghambat seseorang berpindah ke kondisi baru.

Setelah kebijakan PSBB dilonggarkan, kita memasuki tahap yang disebut kenormalan baru. Wajar jika terdapat pro dan kontra pada penerapan kebijakan ini, namun bagaimanapun pemerintah harus melakukan sesuatu. Pemerintah mengakomodasi kenormalan baru dengan menerbitkan aturan-aturan dan protokol-protokol kesehatan baru yang harus dipatuhi. Aturan ini ditujukan agar masyarakat dapat melakukan aktivitasnya seperti biasa sehingga kehidupan ekonomi bisa terus berjalan, sehingga tidak memicu masalah lain yang lebih besar. Sayangnya berdasarkan data yang diumumkan resmi per hari, hingga pertengahan Juli 2020 angka penderita Covid-19 belum menunjukan penurunan. Mengapa demikian? Saya menganggap banyak orang memaknai secara berbeda kenormalan baru ini, belum lagi ketika diperkenalkan istilah-istilah baru yang berpotensi menimbulkan kebingungan di masyarakat.

Lihat Juga :  Bagaimana Cara Mengetahui Taubat Kita Diterima atau Tidak? Yuk Baca Quran Surat Ali Imran ayat 89 ini

Saya menggunakan contoh pembiasaan kenormalan baru penggunaan internet pada tulisan ini untuk membedakan konteks pembiasaan kenormalan baru dalam kondisi pandemi sekarang. Jika pada contoh pertama dampaknya lebih kepada individu, namun pada contoh yang kedua dampaknya bisa terjadi kepada orang disekitarnya. Seseorang yang abai pada protokol kesehatan, akan menyebabkannya sangat rentan tertular dan justru membahayakan orang lain. Kenormalan baru sekarang adalah setiap orang harus mulai membiasakan diri dengan kebiasaan-kebiasaan baru, seperti: memakai masker ketika keluar rumah, menjaga jarak aman dalam antrian saat berbelanja, maupun membiasakan mencuci tangan setelah menyentuh fasilitas umum.

Seorang ahli psikologi terkenal bernama Kurt Lewin, menyatakan terdapat tiga fase seseorang ketika dihadapkan dengan kondisi perubahan, yaitu: persiapan perubahan, menerapkan perubahan dan memastikan perubahan tersebut permanen. Pada tahap pertama, orang-orang harus disadarkan bahwa terdapat kondisi yang telah berubah, dan mengajak mereka untuk bersiap-siap pada perubahan tersebut. Tahap ini akan menjadi berat ketika orang tersebut telah terlanjur nyaman dengan kondisi sebelumnya, dan enggan untuk berpindah pada kondisi lain. Keberhasilan dari perubahan perilaku adalah perubahan tersebut terjadi dari dalam diri orang itu sendiri atau dilakukan secara suka rela.

Lihat Juga :  Pembatasan Selama Covid-19 Penyebab Angka Kemiskinan Tinggi

Tahap selanjutnya adalah mencoba dan memastikan perubahan tersebut terjadi permanen. Setelah seseorang mendapatkan informasi dan disadarkan pada kondisi baru, diharapkan dia akan mencoba membiasakan pada keadaan baru tersebut. Seseorang akan mencoba berkali-kali, membiasakan diri, hingga timbul kepercayaan diri untuk melakukannya. Terakhir, pada tahap ketiga adalah memastikan perubahan tersebut adalah permanen, disini rasa nyaman telah muncul dan tindakan didasarkan pada rasa sukarela. Kenormalan baru menjadi bagian dari keseharian, persis seperti orang yang terbiasa menggunakan email untuk mengirim surat pada contoh sebelumnya.

Memang terdapat perbedaan pada pendapat yang dikemukakan oleh Kurt Lewin pada penggunaan aslinya dengan yang saya sampaikan disini. Pada versi aslinya perubahan merupakan sesuatu yang dikondisikan (disengaja), sementara pada kondisi pandemi perubahan menuju kenormalan baru merupakan suatu musibah. Namun keduanya memiliki kesamaan, yaitu jangan sampai cerita katak yang mati terebus didalam wajan berisi air panas tadi menjadi kenyataan. Masyarakat tidak boleh terlalu nyaman dengan kondisi kebiasaan lama, yang dapat memicu gelombang kedua, bahkan gelombang gelombang berikutnya yang tiada akhir. Cukuplah sampai disini, semua menginginkan pandemi ini segera berakhir. Kenormalan baru adalah masalah waktu hingga tidak lagi dianggap suatu hal yang istimewa, ketika telah menjadi kebiasaan umum.(*/Penulis: Mohammad Eko Fitrianto, lahir di Palembang, 13 Juli 1983. Penulis merupakan dosen pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya. Sekarang penulis sedang menempuh pendidikan S3 di Program Studi Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Penulis memiliki ketertarikan pada bidang manajemen, bisnis dan pemasaran)

Back to top button