Uncategorized

Dampak Covid19, Penjualan Sapi Kurban Menurun

ASSAJIDIN.COM — Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriah masih tiga pekan lagi. Namun bagi pengusaha peternakan sapi, Idil Fitriansyah (32) kondisi saat ini justru was-was, Sebab belum ada tanda-tanda penjualan sapi akan membaik.

Padahal, tahun sebelumnya di waktu yang sama, sapi yang berhasil keluar dari peternakannya bisa mencapai 168 ekor. Saat ini justru sapi yang keluar baru mencapai 52 ekor. “Permintaan sapi ke peternakan saya tahun ini berkurang jauh. Kalau kita hitung turunnya mencapai 40 persen,” ujar Idil, Rabu (15/07/2020).

Aidil mengatakan, pihaknya tidak menampik jika pembelian sapi di tahun ini terdampak wabah pandemik COVID19, akibat menurunnya daya beli masyarakat. Alhasil sapi-sapi yang ada kebanyakan tetap berada di kandang sampai ada yang minat membeli. “Penjualan sapi turun karena pembelinya gak ada. Biasanya kita banyak menerima pesanan dari beberapa kabupaten dan kota di Sumsel seperti Palembang, Prabumulih dan Ogan Ilir,” katanya.

Lihat Juga :  Doa Melebur Dosa

Dijelaskannya, pengiriman sapi ikut terganggu setelah pandemik terjadi. Biasanya peternakannya mendatangkan sapi dari Pulau Jawa dan Provinsi Lampung. Namun sejak pandemik terjadi, sapi-sapi miliknya yang berada di Jawa banyak yang tertahan. Sehingga dirinya hanya menjual sapi yang ada di peternakan saat ini berjenis Limosin, Simental, Ongole, Bali dan Lokal. Kalau pun membutuhkan tambahan stok daging sapi, Idil akan mendatangkan dari Provinsi tetangga. “Ada sapi saya yang masih tertahan di Jawa, mereka gak bisa nyebrang karena tertahan penyebrangan. Saat ini kita masih mengandalkan sapi dari Lampung termasuk pakannya,” jelas Aidil.

Sementara, Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), drh Jafrizal mengatakan, saat ini pihaknya telah membentuk tim beranggotakan 50 orang dari Dinas Peternakan dan dokter hewan untuk memantau penjualan hewan ternak jelang Idul adha. Pihaknya juga memastikan, para penjual hewan kurban harus memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). “Kita sudah membentuk tim untuk di Kota Palembang guna memeriksa kesehatan hewan,” katanya

Lihat Juga :  Shalat Witir, Begini Aturan Pelaksanaannya dalam Sehari

Lanjutnya, pada tahun lalu pihaknya menemui ada sekitar 25 persen hewan kurban yang tidak sesuai kriteria untuk dikurbankan karena umurnya belum cukup. Tahun ini pihaknya berusaha mencegah agar hal tersebut tidak terjadi lagi. Untuk itu pelibatan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam sosialisasi diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat. “Syarat ini contohnya, untuk kambing di atas satu tahun atau ditandai dengan tumbuhnya sepasang gigi tetap. Sedangkan untuk sapi atau kerbau di atas dua tahun atau ditandai dengan tumbuhnya sepasang gigi tetap,” ujar Jafrizal. (*/Sumber: sibernas:MN)

Back to top button