MOZAIK ISLAMUncategorized

Sejarah Infak, Sedekah dan Zakat dalam Islam (2)

Zakat Pada Masa Khalifah/Sahabat

ASSAJIDIN.COM — Infak, sedekahPsedekah, dan zakat diMdi Khalifah/Sahabat untuk mengetahui dengan lebih jelas pola operasional aplikasi dan implementasi zakat pada masa sahabat dapat dilihat dalam periode-periode berikut ini:

Pertama, periode Abu Bakr as-Siddiq r.a

Pengelolaan zakat pada masa Abu Bakr as-Siddiq r.a sedikit mengalami kendala. Pasalnya, beberapa umat muslim
menolak membayar zakat. Mereka meyakini bahwa zakat adalah pendapat personal Nabi s.a.w Menurut golongan
ingkar zakat ini, zakat tidak wajib ditunaikan pasca wafatnya Nabi s.a.w. Dan Abu Bakar r.a memerangi mereka yang mengingkari zakat.

Kedua, periode ‘Umar ibn al-Khattab r.a
Umar r.a menetapkan suatu hukum berdasarkan realitas sosial. Diantara ketetapan Umar r.a adalah menghapus zakat bagi golongan mu’allaf, enggan memungut sebagian ‘usyr(bea-cukai), mewajibkan kharraj (sewa tanah), menerapkan zakat kuda yang tidak pernah terjadi pada masa Nabi
Muhammad s.a.w. Tindakan Umar r.a menghapus kewajiban zakat pada mu’allaf bukan berarti mengubah hukum agama dan mengenyampingkan ayat-ayat al-Qur’an. Ia hanya mengubah fatwa sesuai dengan perubahan zaman yang jelas berbeda dari zaman Rasulullah s.a.w. Sementara itu Umar tetap membebankan kewajiban zakat dua kali lipat terhadap orang- orang Nasrani Bani Taglab, hal ini disebut zakat muda‘afah. Zakat muda‘afah itu adalah terdiri dari jizyah (cukai perlindungan) dan beban tambahan. Jizyah sebagai imbangan
kebebasan bela negara, kebebasan Hankamnas, yang diwajibkan kepada warga negara muslim. Sedangkan beban
tambahannya adalah sebagai imbangan zakat yang diwajibkan secara khusus kepada umat Islam. Umar r.a tidak merasa ada yang salah dalam menarik pajak atau jizyah dengan nama zakat dari orang-orang Nasrani karena mereka tidak setuju dengan istilah jizyah tersebut.

Lihat Juga :  Menjelang 10 Hari Terakhir Ramadhan

Ketiga, periode ‘Usman ibn ‘Affan r.a
Pengelolaan zakat pada masa ‘Usman dibagi menjadi dua macam: (1) Zakat al-amwal az-zahirah (harta benda yang
tampak), seperti binatang ternak dan hasil bumi, dan (2) Zakat al-amwal al-batiniyah (harta benda yang tidak tampak atau tersembunyi), seperti uang dan barang perniagaan.

Zakat kategori pertama dikumpulkan oleh negara, sedangkan yang kedua diserahkan kepada masing-masing individu yang berkewajiban mengeluarkan zakatnya sendiri sebagai bentuk self assessment.

Keempat, periode ‘Ali ibn Abi Talib r.a
Situasi politik pada masa kepemimpinan Khalifah ‘Ali ibn Abi Talib r.a berjalan tidak stabil, penuh peperangan dan pertumpahan darah. Akan tetapi, ‘Ali ibn Abi Talib r.a tetap mencurahkan perhatiannya yang sangat serius dalam
mengelola zakat. Ia melihat bahwa zakat merupakan urat nadi kehidupan bagi pemerintahan dan agama.

Lihat Juga :  Ini Isi Fatwa Pemanfaatan Harta Zakat dalam Penanggulangan Covid

Ketika ‘Ali ibn Abi Talib r.a bertemu dengan orang-orang fakir miskin dan para
pengemis buta yang beragama non-muslim (Nasrani), ia menyatakan biaya hidup mereka harus ditanggung oleh Baitul Mal.

Khalifah‘Ali ibn Abi Talib r.a juga ikut terjun langsung dalam mendistribusikan zakat kepada para mustahiq (delapan
golongan yang berhak menerima zakat). Harta kekayaan yang wajib zakat pada masa Khalifah ‘Ali ibn Abi Talib r.a ini sangat beragam. Jenis barang-barang yang wajib zakat pada waktu itu berupa dirham, dinar, emas dan jenis kekayaan apapun tetap dikenai kewajiban zakat. (*/Sumber: Disaarikan dari buku Infak, Sedekah dan Zakat versi Alquran dan Hadist karya KH Ahmad Fauzani MAg, KH M Abdul Haris Ridho Lc, dkk)

Tags
Close
Close