SYARIAT

Makna Idul Fitri, Sebuah Renungan, Siapakah yang Meraihnya?

ASSAJIDIN.COM — Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan Allah sesuai Fitrah Allah sendiri.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS.Ar-Rum:30)

Fitrah atau fitri berasalah dari bahasa Arab yang berarti “murni” atau “original/asli”. Artinya kemurnian penciptaan manusia sama dengan kemurnian Allah sendiri. Dengan kelebihan manusia inilah, maka makhluk yang dapat menemui Allah secara langsung hanya manusia.

Perlu diketahui juga bahwa manusia adalah fitri (suci) pada awal kelahirannya. Dalam perjalanan hidupnya banyak melakukan kesalahan dan dosa sehingga berkurang dan hilanglah fitrahnya. Untuk itulah Allah memerintahkan manusia untuk mengembalikan kesucian tersebut atau yang biasa disebut dengan “taubat” yang artinya “kembali”.

Untuk kembali suci inilah maka pada bulan ramadhan diwajibkan mengeluarkan sedekah agar kembali zakah (suci). Zakat berarti suci dan proses penyuciannya adalah perbuatan sedekah. Sebagaimana diterangkan Allah dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah:103,

Artinya: Ambillah sedekah dari sebagian harta mereka, dengan sedekah itu kamu membersihkan dan mensucikan (menzakahkan) mereka…”

Untuk menjadi zakat (suci) harus bersedekah yaitu menafkahkan sebagian harta kepada yang membutuhkan.

Firman Allah terjemahanya: “Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk menyucikan (diri)nya.” (QS. Al-Lail:18)

Setelah manusia mengerjakan sedekah maka dia akan zakah (suci), setelah zakah (suci) maka dia akan fitrah (murni seperti asalnya). Dan apabila manusia sudah menemui fitrahnya (kemurniannya) maka dia menjadi menang (faiz). Karena itulah ada istilah dalam hari raya Idul Fitri “minal ‘aidzin wal faizin”, yang artinya: “Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali dan termasuk orang-orang yang menang”.

Lihat Juga :  Berbekal Takwa di Musim Haji (Djulhijah)

Istilah tersebut adalah do’a, dan doa harus diiringi dengan ikhtiar, baru akan dikabulkan Allah. Dan Ikhtiar yang diberikan Allah agar kita menjadi orang kembali dan menang ada 3, yaitu:

  1. Berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa

Firman Allah yang terjemahanya : Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS. At-Taubah:20)

Jihad artinya bersungguh-sungguh, untuk mendapatkan kemenangan yang dijanjikan Allah maka kita harus berani berkorban harta dan jiwa. Harta adalah menafkahkan sebagian yang dimiliki kepada yang memerlukan, sedangkan jiwa adalah dengan tenaga, waktu, persetujuan, support, dan sebagainya. Dan sebaliknya bagi yang masih pelit dengan harta serta sombong maka tidak ada idul fitri baginya.

2.Sabar

Frman Allah yang terjemahanya:“Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS. Al-Mu’minun:111)

Untuk mendapatkan/memenangkan Idul Fitri ini harus sabar. Sabar artinya tidak mengeluh, tidak marah dan memaafkan. Sabar inilah yang kemudian menghasilkan budaya saling bermaaf-maafan dan bersalam-salaman. Dan bagi yang tidak sabar, masih tidak memaafkan maka tidak ada idul fitri baginya.

3. Takwa

Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nur:52)

Lihat Juga :  Sedang Sholat Ada Tamu atau Telepon Berdering, Apa Sebaiknya yang Dilakukan?

Yang mendapatkan idul fitri yang terakhir adalah orang yang bertakwa. Orang yang bertakwa yaitu: Yang senantiasa bersedekah baik ketika lapang dan sempit, yang menahan amarah, yang memaafkan kesalahan orang, yang berbuat baik,  dan yang ingat salah kemudian tidak mengulanginya kembali (QS. Ali-Imran:133-135)

3:133 Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

3:134 (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.

3:135 Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri [229], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Iidul fitri bukan sekedar hari pada tanggal satu syawal, akan tetapi idul fitri adalah kembalinya kesucian jiwa kita. Karena itu marilah kita bersama-sama menggapai hari yang fitri ini dengan langkah-langkah yang diberikan Allah di dalam Kitab sucinya yaitu: berjihad dengan harta dan jiwa, sabar, dan bertakwa.

Pelaku kejahatan, pencuri, orang-orang yang curang, merugikan hak orang lain, koruptor, penyeleweng uang negara, mereka hanya menemui 1 syawal dan tidak akan pernah menemui ‘aidul fitri (kembali murni dan suci). Karena jiwa mereka kotor dan dosa.(*)

 

 

Tags
Close