BERITA TERKINIEKONOMI

Belajar Dari Umar bin Khattab, Kaya Hidup Sederhana dan Dermawan

Umar meninggalkan warisan Lebih Rp 11,2 Triliun.

 Oleh : H. Emil Rosmali [Wartawan AsSAJIDIN.com]

H. Emil Rosmali, MH

ASSAJIDIN.Com – Pola hidup sederhana dan dermawan merupakan pola hidup yang diupayakan oleh sahabat Rasulullah Shollollohu’alaihi wassallam, Umar bin Khattab.  Sebenarnya Abu Bakar juga dikenal dengan kesederhanaannya sekalipun kaya, begitu juga Ustman bin Affan.

Kekayaan Umar bin Khattab, memang tak bisa manandingi Abu Bakar yang dikenal sangat sederhana itu. Namun, Umar yang sangat kaya dengan hartanya itu, tidur siangnya beralaskan tikar dan batubata di bawah pohon kurma, dan ia hampir tak pernah makan kenyang, menjaga perasaan rakyatnya.

Dalam Buku Fikih Ekonomi Umar bin Al-Khattab yang diterbitkan Khalifa, diungkapkan bahwa ketika wafat, Umar bin Khattab meninggalkan ladang pertanian sebanyak 70.000 ladang, yang rata-rata harga tiap ladangnya sebesar Rp 160 miliar jika dikonversi ke dalam rupiah. Bila demikian berarti, Umar meninggalkan warisan sebanyak Rp 11,2 Triliun.

Disebutkan bahwa setiap tahun, rata-rata ladang pertanian saat itu menghasilkan Rp 40 juta, berarti Umar mendapatkan penghasilan Rp 2,8 Triliun setiap tahun, atau 233 Miliar/bulan. Umar ra memiliki 70.000 properti.

Lihat Juga :  Wasiat untuk Jemaah yang Baru Pulang Haji

Umar ra pun selalu menganjurkan kepada para pejabatnya untuk tidak menghabiskan gajinya untuk dikonsumsi. Melainkan disisakan untuk membeli properti, agar uang mereka tidak habis hanya untuk dimakan.

Namun begitulah Umar. Ia tetap saja sangat berhati-hati. Harta kekayaannya pun ia pergunakan untuk kepentingan dakwah dan umat. Umar amat dermawan. Tak sedikit pun Umar menyombongkan diri dan mempergunakan kekayaannya untuk sesuatu yang mewah dan berlebih-lebihan.

Menjelang akhir kepemimpinan Umar, sahabat Ustman bin Affan pernah mengatakan, “Sesungguhnya, sikapmu telah sangat memberatkan siapapun khalifah penggantimu kelak.” Subhanallah! Betapa tidak berat, karena manusia sekarang cenderung hubbuddunya, mencintai dunia dengan kekayaannya secara berlebih-lebihan.

Sedangkan Umar ra, adalah seorang yang tidak demikian. Malah Ia amat marah bila mendengar ada orang atau bawahannya, berbuat curang atau memakan harta yang bukan milik mereka. Atau bisa jadi harta yang diperoleh secara haram.

Membangun Ekonomi

Umar bin Khatab Radiyallahu Anhu  adalah Khalifah yang berhasil membangun dan meletakkan dasar-dasar ekonomi kokoh berdasarkan keimanan  dan Tauhid kepada Allah Subhana wa Ta’ala. Beliau adalah orang yang terakhir kali bisa makan dan beristirahat setelah yakin  penduduk sudah  terjamin kesejahteraannya.

Lihat Juga :  Belajar dari Kisah Perdebatan Umar bin Khattab dan Abbas bin Abdul Muthalib

Beliau  sangat zuhud terhadap keduniawiaan dan itu diberlakukannya pada keluarganya. Umar Radiyallahu anhu sangat terkenal dengan pengawasan terhadap rakyatnya dan ketegasannya terhadap orang-orang yang melakukan penyimpangan.

Pada masa kekhalifahan beliau Umar ra pernah menunjuk Abdullah bin As-Sa’di untuk mengurus harta shodaqoh, dan ketika  Abdullah bin As-Sa’di telah menyelesaikan tugasnya, Umar pun memberi upah kepadanya, namun  Abdullah bin As-Sa’di berkata; “Sesungguhnya aku bekerja sedangkan balasanku dari Allah”. Lalu Umar menjawab,: “Ambillah pemberianku ini, karena dulu aku bekerja di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau pun memberi upah hasil kerjaku, lalu aku pun mengatakan seperti ucapanmu (tadi).

“Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Jika engkau diberi sesuatu tanpa meminta maka makanlah dan bersedekahlah (dengannya)’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dan yang lainnya). Begitulah Umar memperlakukan kekayaan dan harta. Tak lupa mendermakannya, bersedekah dan membantu orang-orang miskin dan yang lemah.(*)

 

Tags
Close