BERITA TERKINI

Jangan Was-Was, Bahayanya Besar Sekali

ASSAJIDIN.COM – Di dalam masyarakat, kita sering menemukan anggapan bahwa peristiwa tertentu adalah pertanda sial atau mendatangkan sial. Semua yang terjadi adalah atas seizin Allah.

Apa yang terlintas dalam pikiran Muslimah, misalnya ketika saat memasak tiba-tiba seekor cicak jatuh ke kepala? Bagaimana perasaan jika gelas yang dicuci tiba-tiba pecah? Bagaimana saat berkendara, menabrak seekor kucing hitam sampai mati?

Bagi kebanyakan orang, kejadian-kejadian tersebut seringkali diartikan pertanda buruk sehingga menimbulkan rasa was-was maupun prasangka negatif. Perasaan semacam ini tanpa sadar membelenggu emosi dan mempengaruhi fokus yang justru berdampak buruk bagi aktivitas sehari-hari. Lalu tanpa sadar, orang menerka-nerka musibah apa yang bakal menimpa.

Rasa was-was semacam ini berbahaya dan tidak mendatangkan kebaikan. Prasangka yang buruk dan rasa was-was adalah cara setan menyesatkan orang-orang yang beriman.

Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kita agar senantiasa berlindung dari perasaan was-was semacam ini. Dalam QS. al-Hujurat ayat 12, Allah menegaskan bahwa sebagian dari sangka-sangka itu adalah dosa dan terlarang di dalam Islam. Berbagai konflik rumah tangga atau di masyarakat adalah contoh bahaya yang berawal dari prasangka negatif.

Muslimah Indonesia, jika kepada sesama manusia saja kita harus berprasangka baik, maka seharusnya kepada Allah Swt. kita jauh lebih pantas berbaik sangka. Karena Ia lah Allah, Dzat yang Maha Mulia tanpa cela.

Namun, seringkali perasaan was-was itu malah menjadi kenyataan. Dalam sebuah hadis qudsi sebagaimana dikutip oleh Shahibul-Hikam, Allah ta’ala berfirman: “Aku mengikuti sangka hambaKu, Jika ia bersangka baik maka baik, Jika ia bersangka buruk maka buruk….

Lihat Juga :  Berhentilah, Sampai Kapan Kita saling Mencela dan Mengolok-olok?

Jadi, kenyataan dari rasa was-was yang negatif itu adalah bentukketidak yakinan kepada Allah ta’ala.

Bertauhid adalah sikap yang amat benar dalam Islam

Seorang muslim meyakini bahwa tauhid adalah dasar Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar, dan merupakan salah satu syarat diterimanya amal perbuatan disamping harus sesuai dengan tuntunan rasulullah. Adapun yang dimaksud syarat adalah apa-apa yang harus dipenuhi sebelum dilaksanakan dan harus sampai akhir pelaksanaan. Hal ini berhubungan dengan niat sesorang.Jangan ada was-was pada hati.

Jika seseorang melakukan sesuatu hanya Allah, maka syarat untuk di terima ialah niat karena Allah tersebut harus tetap sama sampai akhir. Disamping itu, jika apa yang dilaksanakan sudah sesuai dengan tuntunan Rasulullah, maka kemungkinan besar amalan tersebut diterima sebagai ibadah di hadapan Allah.

Dan sebaliknya, jika apa-apa yang dilakukan di landaskan selain karena Allah, atau ternyata niatnya sudah karena Allah tetapi ditengah-tengah niatnya berubah maka sudah barang tentu amalan tersebut tertolak di hadapan Allah walaupun sudah sesuai tuntunan Rasulullah.

Dalil Al-Qur’an tentang keutamaan dan keagungan tauhid

Berikut ini adalah dalil dari Qur’an mengenai keutamaan dan keagungan tauhid, di antaranya adalah:…dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu. (An-Nahl 16:36).

Lihat Juga :  Mengambil Panutan dari Sikap Tawadhu Umar Bin Khattab

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az-Zumar 39:2-3).

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. (Al-Bayyinah 98:5)

Perkataan ulama tentang tauhid

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: Orang yang mau mentadabburi keadaan alam akan mendapati bahwa sumber kebaikan di muka bumi ini adalah bertauhid dan beribadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa serta taat kepada rasulullah .

Sebaliknya semua kejelekan di muka bumi ini; fitnah, musibah, paceklik, dikuasai musuh dan lain-lain penyebabnya adalah menyelisihi rasulullah dan berdakwah (mengajak) kepada selain Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Orang yang mentadabburi hal ini dengan sebenar-benarnya akan mendapati kenyataan seperti ini baik dalam dirinya maupun di luar dirinya” (Majmu’ Fatawa 15/25)

Karena kenyataannya demikian dan pengaruhnya-pengaruhnya yang terpuji ini, maka setan adalah makhluk yang paling cepat (dalam usahanya) untuk menghancurkan dan merusaknya. Senantiasa bekerja untuk melemahkan dan membahayakan tauhid itu. Setan lakukan hal ini siang malam dengan berbagai cara yang diharapkan membuahkan hasil.

Jika setan tidak berhasil (menjerumuskan ke dalam) syirik akbar, setan tidak akan putus asa untuk menjerumuskan ke dalam syirik dalam berbagai kehendak dan lafadz (yang diucapkan manusia). Jika masih juga tidak berhasil maka ia akan menjerumuskan ke dalam berbagai bidah dan khurafat.

Penulis/Editor: Bangun Lubis

Tags
Close