BERITA TERKINIKOLOM

Kesedehanaan yang Disuguhkan Rasulullah

Tidak pernah keluarga Muhammad SAW kenyang dengan makanan dari gandum halus selama 3 hari berturut-turut,

Mencontoh memang tidak mudah. Tetapi kalau kita berusaha keras, maka tidak ada yang tak bisa walaupun hanya mencotoh. Apalagi yang jadi contoh tauladan itu ada orang yang sangat mulia seperti Rasulullah SAW.

Oleh: Bangun Lubis *

Apa yang dicontoh? Tentu apa yang baik dari Rasulullah. Seperti kesederhanannya dalam hidup. Sekalipun sebenarnya kekasih Allah ini, mau kaya raya, tidak ada yang bisa menghalanginya. Ia bisa sekaya-kayanya manusia. Tetapi, tidak banginya. Kesederhanan tetap menjadi bagian hidupnya.

Sebuah riwayat yang dituturkan Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Sekiranya aku punya emas sebesar gunung Uhud ini, niscaya aku tidak akan senang jika sampai berlalu lebih dari tiga hari dalam gemgamanku, meski padaku hanya ada sedikit emas, kecuali akan aku pakai untuk membayar hutang yang menjadi tanggunganku” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Itulah kesederhanaan hidup yang dicontohkan Rasulullah. Beliau adalah tipe manusia yang paling sederhana di jagad raya ini. Tidak gemar menumpuk harta, kecuali hanya untuk kebutuhan hidup saja. Dapat dipahami jika saat wafat, baju besi beliau digadaikan kepada seorang Yahudi untuk ditukar dengan gandum sebagai warisan bagi keluarga beliau.

Sebagai pemimpin yang menggenggam kekuasaan dan pengaruh besar, tentu Rasulullah mampu hidup bergelimang harta. Tetapi beliau lebih memilih hidup secara sederhana. Posisi terpandang dan disegani seluruh masyarakat Arab tidak lantas beliau manfaatkan sebagai batu loncatan untuk mengeruk kekayaan bagi diri dan sanak famili.

Itulah yang membedakan Rasulullah dengan pemimpin kebanyakan. Beliau menjadi besar karena membesarkan umat. Bukan memperalat umat demi membesarkan nama pribadi. Gelar Al-Amin sudah melekat pada nama beliau sedari muda. Gelar mulia itu diakui oleh kawan sekaligus lawan.

*Sederhana Ibadah*

Sebagaimana ditulis dalam Kisah Rasulullah oleh M Husnaini, kesederhanaan juga diajarkan Rasulullah dalam urusan ibadah. Ketika beliau masuk masjid dan mendapati seutas tali memanjang antara dua tiang, beliau bertanya, “Tali apakah ini?” Setelah dijawab bahwa tali itu milik Zainab yang digunakan untuk bertopang ketika ia lelah melakukan shalat, Rasulullah lantas bersabda, “Lepaskan saja. Hendaklah seseorang melakukan shalat ketika sedang bersemangat. Jika sudah letih, hendaklah ia tidur” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Lihat Juga :  Jawaban Cina Soal Keprihatinan RI kepada Muslim Uighur

Demikian pula ketika beliau menasihati Abdullah bin Amr bin Al-Ash yang menyatakan hendak menghabiskan siang untuk berpuasa dan malam untuk shalat sunnah, sepanjang hidup.

“Jangan begitu. Berpuasalah dan berbukalah, tidurlah dan bangunlah, karena sungguh untuk tubuhmu ada hak atas dirimu, kedua matamu ada hak atas dirimu, isterimu ada hak atas dirimu, untuk tamumu juga ada hak atas dirimu.

Ketika Abdullah bin Amr bin Al-Ash bersikeras ingin memperbanyak puasa sunnah, beliau bersabda, “Kalau begitu berpuasalah seperti Nabi Dawud–berpuasa sehari, berbuka sehari–dan jangan engkau tambah lagi dari itu” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Betapa indah menjalani hidup demikian. Kita bisa bekerja tanpa harus silau terhadap harta. Selalu ada jeda untuk melangitkan setiap urusan dunia melalui rangkaian ibadah. Kita juga tidak lari dari realita dunia dengan dalih ibadah. Seperti Rasulullah, beliau ahli ibadah, tetapi masih memiliki kesempatan untuk menikmati makanan, minuman, pakaian, dan hiburan. Beliau bahkan tidur dan beristirahat, menikah dan bercengkerama dengan keluarga.

Dalam hidupnya, Rasulullah SAW pernah mengalami kemiskinan dan juga pernah mengalami kekayaan. Meskipun demikian, Beliau SAW selalu hidup dengan sederhana dan bersahaja. Lalu bagaimanakah kesederhanaan hidup Rasulullah SAW?

Karena begitu sederhananya, Rasulullah SAW tidak pernah menikmati roti sampai kenyang hingga ajalnya. Dari Abu Hurairah RA, ia berkali-kali mengarahkan jarinya ke mulutnya, sembari mengatakan, “Rasulullah SAW dan keluarganya tidak pernah merasa kenyang dalam tiga hari berturut-turut karena memakan roti gandum. (Keadaan tersebut terus berlangsung) hingga beliau berpisah dengan dunia.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Dalam hadist lain, Aisyah RA juga mengatakan, “Tidak pernah keluarga Muhammad SAW kenyang dengan makanan dari gandum halus selama 3 hari berturut-turut, sejak beliau tiba di Madinah hingga beliau diwafatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Tak hanya itu, keluarga Rasulullah SAW juga pernah tak memasak apapun selama sebulan. Mereka hanya mengkonsumsi kurma dan air saja. Sebagaimana Aisyah RA mengatakan, “Sesungguhnya kami, keluarga Muhammad pernah selama sebulan tidak menyalakan api (tidak memasak apapun) kecuali kurma dan air.” (HR. Muslim dan at-Tirmidzi)

Lihat Juga :  Yuk, Hijrah! IMS Gelar Hapus Tato Gratis di Pesantren Hidayatullah, Catat Tanggal Kegiatannya

*Tidur Beralas Tikar*

Bahkan, Rasulullah SAW pun pernah tidur hanya dengan menggunakan tikar dan bantal dari kulit kambing. Umar menceritakan tentang kebersamaannya bersama Rasulullah SAW, “Aku pernah berkunjung menemui Rasulullah SAW. Waktu itu beliau berada dalam sebuah kamar, tidur di atas tikar yang tidak beralas. Di bawah kepalanya ada bantal dari kulit kambing yang diisi dengan sabut. Pada kedua kakinya daun penyamak terkumpul. Di atas kepalanya, kulit kambing tergantung. Aku melihat guratan anyam tikar di sisi perutnya, maka aku pun menangis.”

Beliau mengatakan, “Apa yang menyebabkanmu menangis (ya Umar)?” “Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar dalam keadaan mereka (selalu di dalam kesenangan, kemewahan, dan serba cukup), padahal engkau adalah utusan Allah.” Jawab Umar. Umar hendak menyatakan, Anda lebih layak menikmati isi dunia dibanding raja-raja itu karena Anda adalah utusan Allah. Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Apakah Engkau tidak senang, bahwa dunia ini bagi mereka dan akhirat untuk kita?” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dengan kesederhanaan tersebut, apakah yang ingin Rasulullah SAW ajarkan kepada umat Islam? Sesungguhnya, Rasulullah SAW tidak ingin mengajarkan umat Islam untuk hidup miskin. Namun Rasulullah SAW ingin mengajarkan bahwa bersikap qanaah atau merasa cukup dan bersyukur atas keadaan apapun dalam hidup sangatlah penting. Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah sementara dan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya.

Sehingga Rasulullah SAW pun tak ingin umatnya terus menerus mengejar dunia hingga melupakan kehidupan akhirat. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Bergembiralah dan harapkanlah memperoleh sesuatu yang menyenangkan kalian. Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan menimpa kalian.  Namun yang aku takutkan adalah ketika dunia dibentangkan pada kalian, sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Maka kalian akan berlomba-lomba sebagaimana mereka dulu telah berlomba-lomba (untuk mendapatkannya). Lalu kalian akan binasa sebagaimana mereka dulu telah binasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

* Bangun Lubis, Pemimpin Redaksi Assajidin.com

Tags
Close