BERITA TERKINIKELUARGA

Makin Jauhnya Kita (Kini) Dari Prilaku Islam

Diantara kita sudah jarang terdengar kata maaf dan menjulurkan tangan untuk meminta maaf.

 Diantara kita sekarang ini sudah saling tak pandang bulu lagi. Ayah nekad memperkosa anak kandungnya. Kakak beradik memperebutkan harta lalu menimbulkan amarah yang kemudian saling membunuh.  Faktor kecil saja sudah menjadi penyebab untuk bertikai.

ASSAJIDIN.COM – Berkendaraan di jalanan, bersenggolan sedikit,  bisa  menyebabkan pertengkaran yang memuncak. Lalu bersitegang yang akhirnya berkelahi, bahkan sampai melukai. Kemudian, ada lagi yang dendam karena cemburu, lantas saling tuding dan dengan puncak amarah. Diantara yang lain juga ada yang saling hujat dan sama-sama menfitnah. Puncaknya adalah saling membunuh. Begitu murahnya  harga nyawa manusia sekarang ini.

Diantara kita sudah jarang terdengar  kata maaf dan menjulurkan tangan untuk meminta maaf. Kalimat santun sudah jauh dari adab kita. Jalanan dan lingkungan umum penuh amarah. Yang menyedihkan juga senang  bila melihat orang susah dan susah bila melihat orang senang.

Kondisi sekarang ini  sudah begitu parah. Setiap kita seperti memberlakukan hukum rimba. Seenaknya menghujat orang dan lalu bila tak senang,  bunuh saja.    “Kita  menjadi manusia dalam sebuah bangsa yang sangat mudah menimbulkan permusuhan,”ujar Ustadz Muhammad Iman waktu lalu,

Lihat Juga :  Alasan Ustad Arifin Ilham Dipindahkan Perawatannya ke RS Penang

Jangan Menjelekkan

Begitu mirisnya hati kita mendengan ungkapan Ustadz Muhammad Iman ini. Karena sebenarnya keprihatinan atas prilaku manusia yang jelek itu justru melekat pada mereka yang mengaku beragama bahkan amat tekun, tetapi tidak  memaknai arti pergaulan dalam masyarakat luas. Harusnya saling bantu dan saling menolong, ini malah justru berbalik saling memusuhi.

Rasulullah tidak pernah mencontohkan prilaku sosial seperti ini. Karena menurut Rasulullah semua manusia di sisi Allah adalah sama, namun yang membedakannya adalah taqwa. Kemuliaan seseorang ditentukan oleh ketaqwaannya kepada Allah. Orang yang paling mulia adalah orang yang paling bertaqwa dan saling memuliakan saudaranya atau handai tolan.

Allah berfirman “ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah satu kaum merendahkan kaum yang lainnya, Barangkali yang direndahkan itu lebih baik dari yang merendahkan. Janganlah seorang perempuan (laki-laki) merendahkan yang lainnya, barangkali yang direndahkan itu lebih baik daripada yang merendahkan,…..”. (QS. Al-Hujarat: 11).

Ustadz Iman mengatakan, tindakan mencela dan menghina atau memusihi sesama, bisa jadi karena dirinya merasa lebih baik dari orang lain, padahal tidak ada yang mengetahui hakikat kebaikan seseorang kecuali Allah SWT. Oleh karena itu orang yang suka menjelek-jelekkan orang lain atau membenci saudara atau orang lain sebenarnya ia sedang dihijab oleh Allah SWT. Hatinya tidak merasakan pengawasan Allah SWT. Ia lupa dengan larangan Allah untuk tidak merendahkan orang lain dan tidak membenci orang lain.

Lihat Juga :  Etika dan Seni Memberi Nasihat

Sunggguh kita melihat fenomena saling hujat dan saling hina di zaman ini. Lebih mengherankan lagi, cacian itu keluar dari mulut-mulut saudara seiman. Bahkan seorang ulama bisa saja mencaci ulama yang lain hanya karena perbedaan kecil di dalam permasalahan agama.

Mirisnya lagi, saat ini ada sebagian kecil Muslim yang “berjihad” membunuh sesama Muslim lainnya. Sekedar mengingatkan: Rasulullah SAW bersabda, “Seorang muslim itu bersaudara terhadap muslim lainnya, ia tidak boleh menganiaya dan menghinanya. Seseorang cukup dianggap berlaku jahat karena ia menghina saudaranya sesama muslim.”(HR.Muslim)

Termasuk perbuatan mencaci muslim di antaranya adalah menyakiti, mencela, mengadu domba serta senang menyebarkan gosip yang tidak benar, mencemarkan nama baik sehingga bisa merusak keluhuran martabat saudaranya, dan membuka rahasia pribadi yang tidak patut diketahui orang lain.(*)

Penulis: Bangun Lubis

 

Tags
Close