Uncategorized

Bisnis Sukses Dunia Akhirat, Berbisnis dengan Allah

AsSAJIDIN.COM — Ya Allah, anugerahilah aku pujian (nama baik) dan kejayaan. Tiada kejayaan tanpa perbuatan dan tiada perbuatan tanpa harta dan tiada harta tanpa kerja” Inilah doa yang dikenal dan diamalkan supaya unsur materi dan unsur ruhani dapat berdampingan. Kemakmuran bumi dan tercapainya fungsi khalifah tidak dapat diwujudkan tanpa harta benda dan kesucian jiwa. Apa maksud dari meraih keseimbangan hubungan dengan Tuhan dan manusia?

Al-Qur’an pun telah mengajarkan agar umat Islam berdoa dengan mengucapkan: “Ya Tuhan kami, anugerahilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa neraka”.

Tidak ada celaan terhadap harta benda dan upaya untuk mendapatkannya, kecuali jika cara yang digunakan untuk meraihnya adalah cara yang tidak sah, atau jika harta itu digunakan untuk perkara yang batil. Oleh karena itu, al-Qur’an dan Sunnah menetapkan ketentuan-ketentuan agar umat Islam tidak terjerumus dalam kesulitan baik duniawi maupun ukhrawi, bahkan menjamin kebahagiaannya.

Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk menggapai kebahagiaan dunia akhirat adalah praktik bisnis Islami. Praktik bisnis secara Islam sangat erat hubungannya dengan penerapan akhlak sehingga terjalin hubungan yang harmonis dan akhirnya mendatangankan keuntungan pada kedua belah pihak, bukan keuntungan sepihak.

Lihat Juga :  Sandiaga Laksanakan Sunah Nabi Sebelum Jalani Debat

Secara umum, dapat dikatakan bahwa ketentuan yang ditetapkan oleh al-Qur’an dalam konteks berbisnis ada dalam tiga kelompok besar, pertama berkaitan dengan hati/kepercayaan pebisnis. Kedua, berkaitan dengan moral dan perilaku pebisnis. Ketiga, berkaitan dengan pengembangan harta/perolehan keuntungan. (hlm. 12)

Ketiga ketentuan ini menjadikan bisnis tidak hanya sekedar kegiatan individu untuk meraih keuntungan semata, tetapi menjadikan bisnis sebagai sebuah profesi etis yang berdasarkan aturan-aturan hukum dan bertujuan menghasilkan keuntungan bagi pelaku dan terlebih bagi masyarakat umum.

Salah satu yang diperhatikan dalam dunia bisnis adalah usia investor. Yang berusia muda dapat melakukan aneka aktivitas dan penuh waktu walaupun itu berat demi menghadapi masa tua. Alhasil, memanfaatkan usia muda untuk bekerja sekuat tenaga adalah sesuatu hal yang mutlak. Demikian juga dengan berbisnis dengan Allah. Lakukanlah amalan-amalan yang berat pada saat muda, karena hari esok pasti kita tidak lagi dapat melakukannya.

Ada keistimewaan berbisnis dengan Allah dalam konteks usia yang tak lagi muda, yaitu Allah akan memberikan pahala yang tidak putus bagi mereka yang pada masa mudanya telah melakukan kebajikan, kendati kebajikan itu tidak lagi dilakukan di usia tuanya.

Lihat Juga :  Apa itu Mahar Menurut Alquran, Bolehkah yang Unik-unik?

Adapun nasihat Nabi Muhammad Saw, “Bersegeralah melakukan amal-amal (saleh) mendahului tujuh perkara. Kalian tidak menantikan kecuali kemiskinan yang akan mengakibatkan lupa, atau kekayaan yang mengakibatkan perlampauan batas, atau penyakit yang merusak, atau ketuaan yang mengakibatkan pikun, atau kematian yang segera datang, atau Dajjal yang merupakan keburukan yang gaib yang dinantikan, atau kiamat, dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit” (HR. At-Tirmidzi melalui Abu Hurairah) (hlm. 167).

Bisnis yang aktivitasnya dikaitkan dengan Allah, lalu didasari dengan moral yang baik sehingga ia tidak merugikan siapapun, serta harta yang digunakan demi kemaslahatan dan keadilan ini berarti kita berbisnis bersama Allah. Ketika kita telah bersama Allah, kita tidak akan pernah merugi. Allah yang akan memelihara dan bahkan mengembangkan dan memberkahi bisnis kita. (*/SUMBER: DREAM)

Judul Buku      : Bisnis Sukses Dunia Akhirat: Berbisnis dengan Allah

Penulis            : M. Quraish Shihab

Penerbit           : Lentera Hati

Halaman         : 192 + xii hlm

ISBN               : 978-979-9048-89-9

Tags
Close
Close