Uncategorized

Gulo Puan Makanan Khas Palembang yang Makin Langka 

AsSAJIDIN.COM — di zaman kesultanan, gulo puan merupakan kegemaran para bangsawan Palembang. Diolah dari susu kerbau rawa di pedesaan di kawasan rawa-rawa Sumatera Selatan, makanan pelengkap ini merupakan kekayaan rasa yang hadir dari kekayaan alam Sumatera Selatan.

Namun seiring waktu, keberadaan gulo puan semakin langka. Tidak banyak lagi yang menjual gulo puan ini, sehingga masyarakat juga makin tidak mengenal penganan ini.

Dikutip dari berbagai sumber via Google, puan berarti ’susu’ dalam bahasa daerah Sumatera Selatan (Sumsel). Gulo puan bisa diartikan ’gula susu’ sesuai bahan dasarnya, yaitu gula dan susu yang dibuat menjadi sejenis karamel. Teksturnya lembut sedikit berpasir dengan warna coklat. Gulo puan yang rasanya mirip keju manis itu sangat sedap untuk campuran minum kopi atau olesan roti dan pisang goreng.

Tak mudah memperolehnya. Makanan yang diolah secara tradisional ini hanya dijual oleh beberapa pedagang kaki lima di waktu tertentu saja, yaitu sekitar waktu shalat Jumat di Masjid Agung Kota Palembang. Kadang kala makanan ini juga dijual di Pasar 26 Ilir Palembang pada Sabtu dan Minggu dengan harga sekitar Rp 100.000 per kilogram (kg).

Lihat Juga :  Dianggap Bersalah Menyebar dan Memotong Video, Buni Yani Divonis 1,5 Tahun

Salah satu penjual gulo puan yakni Eni Hartati dari warga Sungai Tawar 5 Palembang. Bersama dengan suaminya yang berjualan di sekitaran area halaman masjid Agung Palembang setiap setelah shalat Jumat.

“Kami bejualan gulo puan ini mulai dari pukul 10.00 pas orang mau bersiap  shalat Jumat, sampe pukul 13.00. biasanya kami bawa  5 kg gulo puan kadang habis kadang laku 3 kg,” kata Eni.

Menurutnya, peminat gulo puan lumayan masih tibggi. “Yang beli lumayan banyak tapi rata-rata pembelinya orang tua,” jelas  Eni yang mengaku sudah bertahun tahun menjual gulo puan.

Menurutnya gulo puan ini harus di perkenalkan kembali kepada anak-anak muda karena gulo puan adalah salah satu makanan khas Palembang.

Lihat Juga :  Nama Menu ini Lucu, Pindang Seendepan, Makan Sepuasnya Bayarnya Sekali

“Kami jual gulo puan ini Rp. 140.000 per kilogram (kg). Modal kami ambil di desa Rambutan Rp 80.000 jadi kadang orang nawar Rp. 100.000 kami kasih,” tandas Eni.

Mengkonsumsi gulo puan, kebiasan orang Palembang dicampur dengan pisang goreng, atau diaduk dengan kopi. “Rasanya enak,” kata Eni sedikit promosi.

Dikatakan, berjualan di pasar Jumat masjid Agung Palembang lebih cepat laku dan habis karena banyaknya jamaah yang melaksanakan sholat Jumat dan suka dengan gulo puan.

“Penghasilan kami sekali jualan ini bisa dapat duit Rp. 300.000 tergantung rezekilah” tambah Eni.

Eni berharap gulo puan terus dilestarikan sebagai makanan khas Palembang. “Mohon perhatikan pemerintahlah supaya dibuatkan salah satu ternak kerbau di Palembang biar kami tidak susah lagi memesan gulo puan ini di desa yang jauh,” harapnya. (*)

Kontributor: Muhammad Heru

Back to top button