MOZAIK ISLAM

Ketika Umar bin Khatab Menghalau Jemaah Keluar Masjid

AsSAJIDIN.COM –Nabi Muhammad SAW serta para sahabat adalah pekerja keras. Bahkan beberapa sahabat merupakan saudagar kaya yang kerap kali memberikan hartanya untuk membiayai pasukan Islam tatkala harus bertempur dengan musuh-musuh Islam.

Islam juga memandang bekerja mencari nafkah sebagai salah satu bentuk ibadah dan sekaligus rasa syukur kepada Allah SWT. Ini diterangkan dalam al-Qur’an yang artinya:

“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih”. (QS. Saba’: 13)

Lihat Juga :  Rasulullah : Maukah Aku Beritahu Amalan yang Dapat Mengejar Keunggulan Orang-orang Sebelum Kalian?

Sebaliknya, orang yang tidak bekerja alias menganggur, selain kehilangan martabat dan harga diri di hadapan dirinya sendiri, juga di hadapan orang lain. Jatuhnya harkat dan harga diri akan menjerumuskan manusia pada perbuatan hina.

Tindakan mengemis, merupakan kehinaan, baik di sisi manusia maupun di sisi Allah SWT. “Dari Abu Abdullah az-Zubair bin al-‘Awwam r.a., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sungguh seandainya salah seorang di antara kalian mengambil beberapa utas tali, kemudian pergi ke gunung dan kembali dengan memikul seikat kayu bakar dan menjualnya, kemudian dengan hasil itu Allah mencukupkan kebutuhan hidupmu, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka memberi ataupun tidak.” (Riwayat Bukhari)

Lihat Juga :  Kisah Amr bin Jamuh Ingin Masuk Surga dengan Kaki Pincang

Hadist di atas menuturkan bahwa orang yang pergi ke gunung dengan membawa seutas tali untuk mencari kayu bakar yang kemudian ia jual, apa yang dihasilkan dari menjual kayu bakar itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada sesama manusia.

Ini menunjukkan bahwa bekerja itu merupakan kewajiban, sehingga tak heran jika Umar bin Khattab pernah menghalau orang yang berada di masjid agar keluar untuk mencari nafkah. Umar tak suka melihat orang yang pada siang hari tetap asyik duduk di masjid, sementara sang mentari sudah terpancar bersinar. Khalifah Umar memaksa mereka bekerja karena begitu mulianya orang yang bekerja.(*/sumber: lampuislam)

Tags
Close