SYARIAT

Bacaan Tahiyat Akhir, Dialog Rasulullah dan Allah Diwariskan kepada Kita untuk Terus Dipanjatkan

ASSAJIDIN.COM — Berapa kali kita membaca tahiyat akhir dalam sehari? Minimal lima kali hila kita tidak alfa dalam mengerjakan shalat 5 waktu.

Betapa agung ucapan dalam tahiyat akhir itu. Begini sejarahnya menurut Imam al-‘Izz bin Abd as-Salâm.

Beliau yang mendapat julukan rajanya ulama (sulṭânul ‘ulamâ’) menjelaskan secara spiritual (rohani) dalam Maqâṣid al-‘Ibâdât (1995: 12-13 & 28-30) bahwa kalimat at-taḥiyyât al-mubârakât aṣ-ṣalawât aṭ-ṭayyibât lillâh dan asyhadu an lâ ilâha illallâh berhubungan dengan Allah.

Kalimat as-salâm ‘alaika ayyuhâ an-nabiyyu wa raḥmatullâh wa barkâtuh dan asyhadu anna muḥamadar rasûlullâh berhubungan dengan Rasulullah saw.

Sedangkan kalimat as-salâm ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâh aṣ-ṣâliḥîn berhubungan dengan hamba-hamba Allah yang saleh dari penduduk bumi dan penduduk langit. Tidak lain karena salat memang memiliki hubungan (koneksi) secara langsung, baik kepada muṣallî sendiri, Allah, Rasulullah saw. maupun kepada seluruh orang beriman yang ada di alam semesta.

Adapun menurut Imam al-Fasyanî, taḥyât adalah nama burung yang ada di surga. Ia bertengger di atas pohon bernama ṭayyibât. Pohon ṭayyibât tersebut tumbuh indah di pinggir sungai bernama ṣalawât.

Ketika orang yang salat membaca at-taḥiyyât al-mubârakât aṣ-ṣalawât aṭ-ṭayyibât lillâh dalam tasyahhud akhir, maka burung taḥyât langsung menukik dari pohon ṭayyibât untuk menyelami sungai ṣalawât dan kemudian terbang lagi ke atas. Percikan-percikan air sungai ṣalawât yang berhamburan dari bulu burung taḥyât dijadikan malaikat oleh Allah, di mana para malaikat itu sama-sama memintakan ampun (membaca istigfar) kepada Allah untuk orang yang salat tersebut sampai hari kiamat (Syarḥ Kâsyifah as-Sajâ, 64).

Lihat Juga :  Doa Nabi Musa saat Dikejar Fir’aun, Baik Juga untuk Kita Panjatkan Ketika Sedang Dapat Ujian

Keagungan kalimat taḥyât yang harus dibaca oleh setiap muṣallî ini sebenarnya memiliki sejarah yang sangat agung dan luar biasa mengagumkan secara spiritual. Hal ini dapat dikonfirmasi dari peristiwa isra’-mikraj.

Dalam hadis dikisahkan, sebagaimana disebutkan dalam Syarḥ Kâsyifah as-Sajâ (hlm. 64), bahwa ketika Nabi Muhammad saw. dan malaikat Jibril melewati Sidratul Muntaha yang diliputi oleh awan yang di dalamnya memancar kilauan cahaya yang berwarna-warni, maka malaikat Jibril memilih berhenti dan membiarkan Nabi saw. berjalan sendiri.

Mengetahui hal itu, Nabi saw. pun berkata kepadanya, “jangan tinggalkan aku seorang diri”. Malaikat Jibril menjawab, “tidak ada daya dan kekuatan bagi kami, sebab Dia (Allah) memiliki tempat tertentu dan khusus yang tidak bisa kami lalui”.

Nabi saw. berkata lagi, “ayo, kita jalan lagi bersama-sama meskipun hanya setapak demi setapak”. Malaikat Jibril pun akhirnya berjalan bersama Nabi saw. setapak demi setapak. Tidak lama kemudian, malaikat Jibril hampir saja terbakar oleh pancaran cahaya, keagungan, dan kemuliaan. Dia pun tiba-tiba mengecil seperti burung pipit dan menjadi lemah.

Setelah mengalami hal itu, dia mengisyaratkan kepada Nabi saw. agar mengucapkan salam ketika sampai di maqâm khiṭâb (tempat pertemuan antara Allah swt. dengan Rasulullah saw.)

Ketika Nabi saw. sampai di maqâm khiṭâb, beliau langsung memanggil salam seraya berkata, “at-taḥiyyât al-mubârakât aṣ-ṣalawât aṭ-ṭayyibât lillâh (seluruh kehormatan, keberkahan, rahmat, dan kebaikan adalah sepenuhnya milik Allah)”. Allah swt. langsung menjawab salam Nabi saw. tersebut seraya berkata, “as-salâm ‘alaika ayyuhâ an-nabiyyu wa raḥmatullâh wa barkâtuh (kesejahteraan, kasih-sayang, dan keberkahan Allah untukmu, wahai Nabi)”. Mendengar jawaban Allah swt. itu, Nabi saw. ingin hamba-hamba Allah yang saleh mendapat bagian dari pertemuan agung tersebut seraya berkata, “as-salâm ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâh aṣ-ṣâliḥîn (kesejahteraan atas kami dan hamba-hamba Allah yang saleh)”. Mendengar percakapan agung tersebut, seluruh penghuni langit dan bumi sama-sama bersaksi seraya berkata, “asyhadu an lâ ilâha illallâh wa asyhadu anna muḥamadar rasûlullâh (aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”.

Lihat Juga :  Membaca Surah yang Sama Setelah Alfatihah dalam Shalat, Bolehkah?

Menurut Imam Nawawî al-Jâwî, Rasulullah saw. bisa sampai ke maqâm khiṭâb tanpa adanya rintangan dan halangan tertentu karena memang Allah telah menghendakinya. Allah telah memberikan kekuatan dan kesiapan secara khusus kepada beliau. Berbeda dengan malaikat Jibril yang memang tidak diberikan kekuatan dan kesiapan. Sehingga dia terhalang dan tidak bisa sampai ke maqâm khiṭâb. Dalam pertemuan agung tersebut, menurut Imam ad-Dîba’î dalam Mawlid ad-Dîba’î (hlm. 19),

Baca Juga : Apa Makna Khannas dalam Al-Qur’an?
ar-râqî ilâ ḥaḍrah malik al-wahhâh # ḥattâ naḍara ilâ jamâlihî bi lâ sitrin wa lâ ḥijâb

Rasulullah saw. menatap secara langsung keindahan Allah Yang Maha Indah dan tidak dihalangi oleh tirai atau kain yang paling tipis sekalipun. Wallahualam bisshawab. (*/Sumber: bincangsyariah)

Tags
Close